CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Tunggu Mama, Nak!



Joanna bangun pagi-pagi sekali hari ini, lalu segera meminta maid untuk membantunya mengurus Reagan sebentar karena ada hal penting lainnya yang harus dia lakukan. Dia membiarkan saja ketika melihat William masih tertidur pulas. Sedikit kasihan, karena pria itu ikut begadang semalaman. Lagipula, seharusnya ini adalah kali pertama Joanna bangun lebih awal daripada William.


Sementara Oskar, dia juga masih tidur nyenyak dengan posisi nyaman dengan meletakkan kakinya di perut William. Joanna akhirnya bangkit, segera mengurus dirinya untuk mulai memompa ASI-nya yang selalu tumpah sebelum sumber asi itu semakin sakit.


Beberapa menit berlalu, Joanna masih fokus dengan pompa ASI-nya sampai lupa memperhatikan William dan Oskar. Apakah mereka masih tidur, apakah mereka masih terbuai akan mimpinya, atau mungkinkah mereka sudah bangun?


Oskar memang masih tidur, tapi bagaimana dengan William. Apa Joanna tahu bahwa pria itu sudah membuka matanya beberapa waktu yang lalu. Dia tidak melakukan apapun, dia hanya ingin mengumpulkan nyawanya sejenak, tapi tidak menyangka malah melihat Joanna yang sedang melakukan hal vulgar di depannya. Matanya bahkan tidak lepas dari pemandangan yang baru dia lihat seumur hidupnya secara live seperti ini.


"Aku ini pria normal. Kenapa dia melakukan itu di depanku sih. Kalau terus-terusan melihat hal seperti ini, siapa yang tidak akan tergoda," keluh William dalam hati.


"Sakitnya," keluh Joanna pelan.


"Mau dibantu? Kebetulan aku haus," tawar William setelah melihat wadah pompaan itu hampir penuh dengan ASI tapi ASI Joanna masih menetes.


Joanna menoleh, melihat William yang tidak berencana menutup matanya sama sekali. Dengan refleks, Joanna segera menutup bukitnya. Menyembunyikan barang pribadinya dari mata William yang sebenarnya sudah pernah melihatnya, "W-William, sejak kapan kau mengintip?" tanya Joanna panik.


"Siapa yang mengintip. Aku hanya membuka mataku tapi langsung melihatmu yang sedang memerah susu," jawab William kemudian bangkit dari tidurnya.


"Tapi kan ujung-ujungnya kau jadi melihatnya," protes Joanna. Mukanya kini sudah berubah warna menjadi merah padam karena malu.


Iya, malu. Karena setelah Reagan lahir Joanna sudah kembali normal. Dalam artian sudah kembali menjadi Joanna yang dulu lagi. Malu jika merepotkan William, malu jika menempel pada William.


"Memangnya kenapa kalau aku melihatnya, aku kan suamimu. Lagipula hanya melihat saja tidak akan mengurangi ukurannya kan?" ucap William acuh.


"William?" kata Joanna. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


Sementara William, pria itu tidak menanggapi apapun lagi. Dia memang masih duduk di ranjangnya, lalu memindahkan kaki Oskar dari perutnya. Menekan kedua pipi gembul itu untuk membangunkannya dan mengajaknya mandi, "Wake up, Baby!" katanya.


Oskar membuka matanya secara perlahan, tapi menutupnya lagi dan akhirnya tidur lagi. Maklum, anak itu tidur nyenyak saat Agria menemani mereka semalam. Tapi setelah William masuk dan selesai mandi, dia bangun dan mengeluh lapar jadi Joanna membuatkan makanan untuknya saat tengah malam. Setelah makan, dia malah ikut-ikutan begadang dan baru tidur lagi saat matahari sudah memunculkan semburatnya.


"Oskar, bangun!" ulang William.


Karena tidak ada jawaban akhirnya William bangun. Mandi sendiri tanpa Oskar karena sebentar lagi dia harus pergi untuk menemui tetua bersama-sama dengan Okta.


.


.


.


"Papi mau kemana?" tanya Oskar saat melihat William sudah selesai mandi dan rapi dengan baju formalnya. Tangan anak itu terus memegangi celana William. Berharap papinya tidak pergi dan menemaninya bermain bola di halaman.


"Oskar, papi harus menemui tetua. Nanti saja mainnya, ya?" bujuk William.


"Tapi Xiao O mau main sekarang!" jawab Oskar. Dia bahkan sudah membawa bola kesayangannya meskipun belum mandi.


"Sekarang tidak bisa. Papi akan menemanimu main nanti ya? Atau begini saja, Oskar main bola dengan Kakek Okta saja bagaimana?" tanya William.


Oskar berpikir sebentar. Kemudian segera menggelengkan kepalanya saat mengingat pria bernama Okta. Dia hampir seusia kakeknya dan terlihat kurus, mana bisa dia berlari dan main bola dengannya. Bagaimana kalau pinggangnya encok lalu patah tulang?


"Tidak mau!" tolak Oskar pada akhirnya.


"Xiao O sayang, main sendiri dulu ya? Mommy akan melihat dari sini!" bujuk Joanna.


Oskar cemberut. Kemudian mendekati Joanna dan memeluknya. Moodnya sepertinya sedang tidak baik.


"Xiao O marah?" tanya Joanna.


"Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan membiarkan anak ini keluar!" pamit William.


Selepas kepergian William, Oskar segera mandi. Sarapan sebentar kemudian mengisi waktunya untuk bermain dengan adik bayinya. Setelah puas dengan adiknya, dia mulai membongkar mainannya dan bermain sendirian.


"Xiao O, jangan sampai keluar dari rumah. Apa kau mengerti?" kata Joanna memperingatkan. Meskipun masih belum pulih, nyatanya dia sudah berjalan kesana kemari meskipun dengan pelan. Menjaga dua anak laki-lakinya secara bersamaan.


"Mommy, Xiao O mau main bola," ijin Oskar.


"Di dalam saja," jawab Joanna.


"Tapi Xiao O mau main diluar!" kata Oskar.


"Baiklah, tapi kau tidak boleh keluar dari halaman," kata Joanna.


Joanna segera pindah. Mengikuti Oskar yang berlarian di halaman yang beralaskan rerumputan. Dia duduk di teras sembari menjaga Reagan. Dia tidak sendirian, karena beberapa maid dan pengawal sebenarnya juga menemani mereka. Hanya saja Oskar tidak membiarkan mereka bermain dengannya. Jadi mereka hanya bisa jadi penonton saja.


Oskar terus memainkan bolanya. Terkadang berlari dengan bolanya, terkadang menendangnya dengan keras. Sampai pada akhirnya bola itu melambung tinggi dan keluar melewati pagar.


"Oops!" Oskar menoleh. Melihat Joanna dengan senyum manisnya.


"Tidak apa-apa. Paman pengawal akan memberimu bola yang lainnya," kata Joanna.


"Mommy, tapi Xiao O suka bola yang tadi. Bisakah Xiao O mengambilnya?" ijin Oskar.


"Tidak boleh! Biar paman pengawal yang mengambil bola itu untukmu," jawab Joanna.


Oskar diam saja mendengar larangan ibunya. Tapi dia tidak ingin membiarkan paman pengawal itu mengambil bolanya sendirian. Jadi dia segera berlari dan mengikuti beberapa pengawal yang mengambil bolanya meskipun Joanna tidak mengijinkannya, "Mommy, Xiao o akan segera kembali!" kata Oskar.


"Oskar!" panggil Joanna.


Joanna bangkit, meninggalkan Reagan di ayunan bayinya dan berusaha mengejar Oskar, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Entah kenapa firasatnya mengatakan untuk tidak membiarkan Oskar pergi. Mungkin, sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Kejar anak itu. Bawa dia kembali secepatnya!" titah Joanna.


"Baik, Nona!" jawab pengawal.


"Tolong berikan ponselku!" pinta Joanna setelah beberapa pengawalnya segera menyusul Oskar.


Maid segera berlari mengambil ponsel Joanna yang dia letakkan di meja. Lalu Joanna segera menghubungi kakaknya untuk minta tolong.


"Hallo, Jose! Ada apa, kakak sudah di jalan," jawab Agria setelah mengangkat teleponnya.


"Kakak, cepatlah datang! Oskar keluar sendirian!" lapor Joanna.


"Apa, sendirian?" tanya Agria.


"Firasatku buruk. Aku takut terjadi sesuatu padanya!" kata Joanna panik.


"Jose, jangan khawatir. Kakak akan segera datang untukmu!"


Agria segera mematikan panggilannya, kemudian mempercepat laju mobilnya secepat yang dia bisa.


"Oskar, anakku. Tunggu mama, Nak!"


...***...