
"Kemana perginya anak itu?" tanya Louise pada Arthur yang berjalan disampingnya.
Hari ini mereka baru saja bertemu dengan klien penting. Sesuai rencana harusnya William datang dan ikut membahas kerjasama yang baru-baru ini mereka sepakati. Tapi sampai pertemuan berakhir William ternyata tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.
"Ini bukan seperti William yang biasanya. Louise, adikmu itu kau apakan, apa kau baru saja memarahinya?" tanya Arthur penasaran. William tidak pernah seperti ini sebelumnya. Setidaknya jika dia ada urusan mendadak, dia akan memberi kabar.
"Kapan aku memarahinya. Apa aku terlihat suka marah-marah seperti itu?" protes Louise tak terima.
"Coba hubungi dia!" perintah Arthur.
"Dia tidak mengangkatnya," kata Louise.
Louise sudah mencoba menghubungi William berkali-kali. Tapi tidak ada jawaban darinya meskipun panggilannya tersambung.
"Anak itu tidak mungkin di culik kan. Dia kan sudah besar?" tanya Arthur.
"Siapa yang begitu bodoh menculik William. Sama sepertimu, diam-diam dia pun juga punya pengawal rahasia yang menjaganya selama 24 jam penuh," jawab Louise sok tenang. Padahal jauh di dalam hatinya juga sangat khawatir meskipun William tidak seperti anak tuyul yang menggemaskan seperti dulu lagi.
"Kau bicara seolah dirimu tidak memilikinya saja. Bukankah pengawal rahasia milikmu lebih banyak jumlahnya?" tanya Arthur dengan kening yang mengkerut.
"Mau bagaimana lagi. Ini demi keamanan," jawab Louise.
"Baiklah, aku pulang sekarang. Hubungi aku kalau ada kabar dari William. Meskipun dia sudah besar, tapi tetap saja aku mengkhawatirkannya," kata Arthur berpamitan.
"Kalau dia menghubungimu duluan, jangan lupa beritahu aku juga," kata Louise.
Ddrrttt. .
Ponsel Louise berdering saat kedua pria dewasa itu siap berpisah. Membuat Arthur kembali menutup pintu mobilnya yang sudah sempat dia buka beberapa detik yang lalu dan kembali mendekati Louise.
"Eh, ini dia!" kata Louise ketika melihat siapa yang meneleponnya.
"Cepat angkat, tunggu apa lagi?" pinta Arthur.
"Hallo, Will kau dimana?" tanya Louise tanpa basa basi.
"Maaf, aku baru saja keluar dari rumah sakit," jawab William.
"Rumah sakit?" tanya Louise. Louise menoleh ke arah Arthur, tapi Arthur mengangkat bahunya karena dia sendiri juga tidak tahu apa-apa.
"Tadi aku sudah dalam perjalanan menuju tempat pertemuan. Tapi di tengah jalan pihak rumah sakit menghubungiku karena hasil tes milikku keluar," jelas William.
"Tes? William, kau tes apa?" tanya Louise.
"Aku akan memberitahumu nanti di apartemen," jawab William.
"Kau memintaku ke apartemen milikmu?" tanya Louise.
"Eum," jawab William.
"Hei, anak nakal! Aku ini kakakmu, kalau ada yang harus berkunjung itu seharusnya kau bukannya aku. Semakin hari kenapa kau semakin tidak sopan dan tidak tahu tata krama begini?" kata Louise, mulai memarahi William seperti hari-hari biasanya tapi tidak pernah dia sadari.
"Ah, siapa barusan yang bilang tidak suka marah-marah?" sindir Arthur yang mendengar semua percakapan Louise dan William.
Louise menoleh, memberikan lirikan tajam pada Arthur yang kini wajahnya dipenuhi dengan senyum untuk menertawakan sanggahannya beberapa saat yang lalu.
"Baiklah, aku akan ke apartemen sekarang juga," jawab Louise akhirnya.
Telepon pun terputus. Louise segera menyimpan kembali ponselnya.
"Begitu baru benar," puji Arthur dengan menepuk pundak Louise.
Dua orang itu pun pergi. Berpisah di parkiran karena tujuan mereka yang berbeda. Arthur pulang ke rumahnya dan Louise menuju apartemen William.
.
.
.
"Seperti yang kau lihat. Aku cocok sebagai pendonor untuk Oskar," jawab William.
"Lalu?" tanya Louise.
"Aku ingin mendonorkannya untuk anak itu," jawab William.
"Kenapa?" tanya Louise lagi.
"Karena aku merasa punya hutang yang harus ku bayar," jawab William.
"Apa maksudmu, Will?" tanya Louise. Louise butuh penjelasan. Hutang apa yang William katakan. Apa karena sepasang mata di hari itu?
"Louise, jika bukan karena Juan yang memberikan aku sepasang mata ini. Aku sudah tidak bisa melihat apapun lagi setelah aku mengalami kecelakaan waktu itu. Tanpa mata pemberiannya, aku tidak akan bisa mencapai posisi seperti ini dan memiliki semuanya. Aku hanya ingin berterimakasih meskipun itu pada anaknya," jelas William.
"William, aku tahu niat baikmu. Tapi, apa kau masih merasa bersalah jauh di dalam hatimu. Kematian adikku tidak ada hubungannya denganmu dan dia memberikan matanya untukmu atas kemauannya sendiri. Kalau kau ingin berterimakasih, dengan kau berada di sampingku, jadi adikku dan bersama-sama membesarkan Matthews Group kita itu sangat lebih dari cukup," kata Louise panjang lebar.
"Louise, meskipun begitu biarkan aku melakukannya. Aku sudah memutuskannya," desak William.
"William, aku senang menerima niat baikmu. Tapi coba pikirkanlah kembali," kata Louise.
"Louise, saat pertama kali kau mengetahui Oskar mengidap kanker, apa kau perlu berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan. Bukankah secara diam-diam kau langsung meminta dokter untuk memeriksa apakah dirimu cocok jadi pendonor. Apa aku salah?" tanya William.
Louise diam saja. Ucapan William barusan tidak bisa dia sanggah karena semua benar.
"Sekarang kita semua tahu Oskar adalah anak Juan dan Juan memberikan aku kesempatan melihat dunia. Memberikan aku kesempatan jadi adikmu dan memberikan aku kesempatan menempati posisi yang seharusnya jadi miliknya. Tidak hanya itu, dia juga memberikan aku kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dari kalian. Jadi bukankah saat ini menjadi giliranku untuk memberikan kesempatan untuk Oskar sembuh?" tanya William.
"William, kau sudah beberapa kali melakukan operasi selama ini. Harus berapa kali lagi?" jawab Louise.
Louise, dia senang karena akhirnya ada calon pendonor yang cocok. Tapi kenapa harus William. Bukan soal William nya, tapi masalahnya adalah William sudah berkali-kali menjalani operasi. Pertama kali adalah saat William ditemukan orangtuanya malam itu.
William kecil yang entah darimana datangnya tergeletak begitu saja di tengah jalan dengan keadaan bersimbah darah. Butuh waktu berbulan-bulan untuk membuatnya sadar dari komanya. Beberapa kali operasi dilakukan dan butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan keadaannya menjadi normal kembali. Lalu saat mulai dewasa harus kembali kecelakaan dan merampas kemampuan indera penglihatannya. Louise sangat ingat bagaimana frustasinya dia melihat William berkali-kali harus masuk ke meja operasi. Louise sangat ingat bagaimana rasanya hampir mati karena takut. Apakah dia akan melihat hal seperti itu lagi. Dan kali ini bukan hanya William, tapi Oskar juga.
Kenapa bukan dia saja yang cocok, kenapa harus William?
"Louise, itu tidak ada hubungannya. Ingatlah, semakin di tunda akan semakin buruk. Tidak baik bagi Oskar menunda lebih lama," paksa William.
"William, apa kau yakin?" ulang Louise.
"Aku yakin," jawab William mantap.
"Aku harus membahasnya dengan mama dan papa dulu," kata Louise beralasan.
"Sejak kapan kau membutuhkan pendapat mereka. Kau hanya mencari alasan agar aku tidak operasi lagi kan?" tanya William curiga.
"William, kenapa semakin besar kau semakin tidak menurut?" protes Louise.
"Karena aku sudah bukan anak kecil. Jangan memperlakukanku seperti anak kecil lagi. Aku sudah berusia 26 tahun sekarang," kata William mengingatkan.
"Baiklah, terserah kau saja. Tapi berjanjilah, kau harus tetap hidup!" pinta Louise.
"Apa kau takut aku mati?" sindir William. Tidak merasa bersalah sedikitpun meskipun dia tahu Louise sedang mengkhawatirkannya.
"Aku tidak peduli. Kalau kau mau mati ya mati saja!" jawab Louise kemudian pergi dengan kesal.
Tentu saja Louise takut William mati. Hanya saja tidak ingin mengakuinya di depan William. Alasan Louise pergi begitu saja sebenarnya dia tidak ingin William melihatnya yang matanya sedikit berkaca-kaca karena bakti William untuknya dan untuk mama dan papanya.
"Dasar, kenapa kau selalu saja membuatku kesal!"
...***...