
"Jadi inikah Tuan William yang menjadi penerus keluarga kita selanjutnya?" sambut Peter basa basi dengan mengulurkan tangannya.
William menyambut uluran tangan Peter. Kemudian tersenyum simpul sebelum mengatakan selamat datang sebagai tanda bahwa dia menyambut kedatangannya kembali. "Selamat datang kembali. Senang bertemu denganmu!"
Sama seperti William, Peter pun juga menyunggingkan sebuah senyuman untuk William. "Mari!" ajak Peter.
Peter segera membawa William masuk ke dalam. Membiarkan para Tetua mengobrol dengan kedua orangtuanya yang sejak tadi sudah sibuk menyambut tamu-tamu yang hadir. Sekumpulan Tetua itu, biar orangtuanya saja yang mengurusnya. Toh orangtuanya pasti akan segera membawa mereka masuk setelah ini.
Ya, pria yang menyambut dan membawa William masuk itu namanya Peter. Anak tertua Keluarga Amber dan satu-satunya kakak Daisy yang baru saja kembali dari luar negeri. Peter sebenarnya sudah tidak asing dengan nama William karena sering mendengar nama William disebut oleh Daisy adik kesayangannya.
Tidak hanya menyebut namanya, Daisy juga menceritakan semua tentang William kepada Peter, termasuk mengatakan bahwa dia menyukai William dan membutuhkan bantuan kakaknya untuk mewujudkan impiannya untuk hidup bersama William di masa depan.
Karena penasaran, Peter pun meminta Daisy mengirimkan seperti apa rupa William. Jadi sebenernya Peter sudah tahu seperti apa wajah William. Kata-kata sambutannya tadi, tentu saja hanya pemanis buatan untuk membuat mereka sedikit lebih akrab sebelum melakukan satu-satunya permintaan Daisy setelah acara selesai nanti.
"William?" sapa Daisy ketika melihat William muncul bersama kakaknya.
Wanita yang sedang menuruni anak tangga itu memang cantik. Sangat cantik sampai membuat pandangan semua orang tertuju padanya. Kebanyakan pria pasti tertarik untuk memilikinya meskipun mereka sudah beristri sekalipun. Tapi William berbeda. Dia adalah pria yang setia, bahkan jika William ingin membagi cintanya sekalipun, tetap bukan Daisy orangnya.
"Kenapa dia ada disini. Bukankah dia sedang ditahan. Apa dia sudah dikeluarkan?" batin William.
"William, aku senang kau datang!" sambut Daisy saat dia sampai di lantai yang sama dengan William. Tangannya bahkan sudah melingkar di tangan William tanpa permisi sehingga membuat pria itu memberikan tatapan tidak suka padanya.
"Daisy, apa yang sedang kau lakukan. Aku sudah memiliki seorang istri yang cantik dan anak yang lucu. Jadi tolong jaga sikapmu agar tidak membuat orang lain salah paham!" kata William tanpa mengurangi volume suaranya.
William segera melepaskan tangannya dari kungkungan Daisy. Tidak ragu menunjukkan ketidaknyamanannya meskipun semua orang masih melihatnya.
Peter bahkan mulai emosi melihat tingkah adiknya yang terlalu frontal. Kenapa dia tidak bisa bersabar sedikit saja. Kalau dia menunjukkan antusias yang berlebihan seperti ini diawal-awal, Peter takut itu akan membuat William akan menjaga jarak dengannya sehingga merusak semua rencana mereka.
"Daisy, dari sekian banyak tamu yang hadir, apa harus William yang kau sambut. Kalau kau merasa masih ada waktu, lebih baik kau pergi mengunjungi teman-teman wanitamu di sisi yang lain!" kata Peter marah.
"Kakak?" protes Daisy tidak terima.
"Daisy, apa kakak harus mengatakan untuk yang kedua kalinya untuk membuatmu mengerti?" hardik Peter. Tidak hanya memberikan bentakan pada Daisy, tapi Peter juga memberikan kode lewat tatapan matanya untuk meminta Daisy pergi secepatnya.
Daisy sangat malu dengan bentakan kakaknya. Tapi dia sangat merindukan William sampai lupa menjaga jarak. Dia hanya terlalu bahagia karena tidak melihat Joanna yang selalu menjadi penghalangnya hadir bersama William. Untung saja ada kakaknya yang segera mengingatkannya.
"Maaf, Kakak!" ucap Daisy pelan.
"Pergilah sebelum aku semakin marah!" usir Peter.
Daisy akhirnya pergi. Dia menjauh dari William dan kakaknya yang masih berdiri di tempatnya. Tapi wanita itu tidak menemui teman-temannya seperti yang Peter perintahkan. Melainkan meminta pelayan untuk pergi ke kamarnya. Apa tujuannya? Tentu saja untuk mengeluarkan alkohol dengan kadar tinggi yang sudah dia siapkan sebelumnya untuk diberikan kepada Peter.
.
.
.
"Maaf, aku tidak minum alkohol!" tolak William saat Peter menyodorkan segelas alkohol kepadanya. Acara sudah hampir selesai. Saat ini kebanyakan dari mereka memang hanya berbincang santai dengan menikmati minuman beralkohol.
"Ayolah, hanya segelas saja!" kata Peter merayu.
William melirik segelas alkohol yang disodorkan oleh Peter. Memang hanya segelas saja. Tapi William tahu alkohol itu berkadar tinggi. Jika itu Joanna atau Louise, segelas alkohol seperti itu tidak akan memberikan efek apapun selain sebagai penghapus dahaga mereka. Tapi untuk William yang anti alkohol, meminum segelas alkohol seolah membuatnya seperti meminum segentong alkohol.
Bagaimana kalau dia mabuk nanti? Bagaimanapun juga William masih ingat dengan sangat jelas bagaimana saat dia mabuk.
"Maafkan aku, tapi aku harus segera pulang!" tolak William halus. Pria itu masih setia pada pendiriannya, tapi kehadiran Tetua dan Tuan serta Nyonya Amber mematahkan semuanya.
"William, hanya segelas saja untuk menghormati mereka seharusnya tidak masalah. Kita akan segera pulang setelah itu," kata Tetua yang sudah sedikit melunak kepada Daisy.
"Tetua, maaf tapi aku benar-benar tidak minum alkohol," tolak William lagi.
"William, apa begini caramu memperlakukan kami yang mengundangmu. Hanya segelas saja dan kau bisa pergi setelah itu," kata Nyonya Amber.
William kembali melirik alkohol yang masih berada di tangan Peter. Lalu melihat semuanya yang masing-masing sudah memegang segelas alkohol di tangan mereka dan menunggu bersulang dengannya. Dengan berat hati akhirnya William menerimanya. Bersulang dengan mereka dan meminum segentong alkohol itu sebelum pamit pulang. Iya, William berinisiatif pulang dulu bahkan tanpa mengabaikan permintaan si pemilik rumah yang masih berusaha menahannya lebih lama.
"Bawa aku pulang secepatnya. Ingat, jangan membiarkan siapapun mengantarku pulang selain kalian!" kata William saat dia berjalan di lorong bersama empat pengawalnya.
Baru beberapa menit yang lalu William minum alkohol itu. Tapi efeknya sudah mulai menyerang kewarasannya. Bahkan pandangan William sudah mulai ada tiga bayangan. Jumlahnya bahkan semakin banyak dan banyak lagi. William semakin mempercepat langkahnya. Tapi sepertinya kediaman ini terlalu besar sampai memerlukan waktu lama hanya untuk keluar.
"Sial!" batin William diujung kewarasannya.
"Tuan!" kata pengawal itu ketika melihat William mulai sempoyongan. Mereka mulai panik, lalu segera membantu William untuk keluar dari kediaman ini secepatnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka melihat sebuah pintu besar di ujung lorong. Sebenarnya itu adalah pintu keluarnya. Tapi sayang, William tidak akan bisa pulang lewat pintu itu malam ini. Karena sekarang ini, keempat pengawalnya telah disergap oleh orang-orang milik keluarga Amber.
Empat orang melawan puluhan orang tentu saja tidak seimbang. Meskipun mereka telah melakukan perlawanan sebaik yang mereka bisa tapi tetap saja mereka berakhir dengan babak belur dan tak sadarkan diri.
"Bawa William ke kamar Daisy!" perintah Peter dengan senyum kemenangan di sudut bibirnya.
...***...