
"Louise, kau sangat tidak tahu malu. Bagaimana bisa kau muncul seperti ini di depanku. Katakan, apa yang bisa kulihat?" tanya Joanna.
"Memperlihatkannya padamu yang sudah pernah mencicipinya, kenapa aku harus malu. Aku hanya sedang berbaik hati, mungkin saja Joanna ingin mencicipinya lagi kan?" jawab Louise, mencoba menggoda Joanna dengan membuka handuk itu tanpa beban sedikitpun.
Tangan Joanna dengan refleks melemparkan perintilan milik Oskar ke arah Louise, lebih tepatnya kearah itu.
Mulutnya sangat ingin mengucapkan sumpah serapah, tapi tidak sempat karena matanya sudah terlanjur melihat penampakan Louise yang sangat original. Tapi meskipun begitu, matanya tadi masih sempat mengekor dan melihat pemandangan itu meskipun hanya sepersekian detik.
"Joanna, apa kau berencana menghancurkan masa depanmu. Kenapa kau melempar benda-benda ini kearah sana. Lagipula, apa-apaan ekspresimu ini, tidakkah kau terlalu berlebihan. Kau kan sudah pernah melihat dan mencicipinya!" protes Louise dengan melindungi bagian tubuhnya yang dia anggap paling berharga.
"Itu hanya kesalahan, kesalahan karena ulahmu yang mesum itu. Jadi jangan pernah mengungkitnya lagi!"
Joanna memijit kepalanya yang pusing, dirinya yakin umurnya tidak akan panjang jika terus terjebak dalam situasi seperti ini.
Louise tertawa puas, lalu memakai onderdinya dan celana panjangnya juga, "Buka matamu, aku sudah berpakaian," pinta Louise.
Louise menarik satu tangan Joanna untuk diletakkan di pinggangnya agar Joanna bisa merasakan bahwa dirinya telah memakai celana. Tapi juga menuntun tangan itu untuk menyentuh ABS kerasnya seperti batu.
"Joanna, aku akan pergi sebentar lagi," pamit Louise sembari memakai atasan tipis sebagai dalaman kemejanya.
"Kau mau pergi kemana?" tanya Joanna.
"Ada yang harus ku selesaikan bersama Arthur dan William. Sebaiknya kau jangan pergi kemana-mana, aku akan meminta mama untuk menemanimu sampai aku kembali," lanjut Louise.
"Oh," jawab Joanna singkat.
Ini sedikit canggung. Kenapa Louise harus meminta mamanya mamanya. Wanita itu tidak akan terus mendesaknya untuk segera menikah dan jadi menantunya seperti hari-hari sebelum ini kan?
"Kenapa, apa kau tak rela aku pergi?"
"Bukan seperti itu."
"Atau kau ingin segera melunasi hutang-hutangmu padaku, hm?"
"Louise, berhentilah berbicara jika hanya kata-kata mesum yang keluar dari mulutmu."
Lagi-lagi Louise tersenyum kemudian menarik tangan Joanna dan menyerahkan kemejanya, "Bantu aku memakai pakaianku."
"Kenapa?"
"Bukankah seperti ini bisa menambah kesan romantis?" jawab Louise singkat sambil menarik Joanna untuk lebih mendekat kearahnya.
Joanna memakaikan kemeja itu, lalu meraih dasi berwarna navy dan membantu Louise mengenakannya juga.
"Louise," panggil Joanna.
"Hm, ada apa?"
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau bukan ayahnya sejak awal?" tanya Joanna.
"Apa itu penting?" jawab Louise.
"Tentu saja penting. Kenapa bisa begitu?" tanya Joanna.
"Mana aku tahu, adikku dan sepupumu itu yang membuatnya. Kenapa kau bertanya seolah-olah akulah yang membuatnya," jawab Louise dengan tatapan aneh.
"Ah, benar juga."
"Lalu, kenapa kau masih membahas ini lagi?" tanya Louise.
Sebenarnya, Joanna merasa bersalah. Sangat bersalah meskipun sudah meminta maaf karena dia terus-terusan berkata jahat kepada Louise. Seperti, 'dia kan anakmu' atau 'kau kan ayahnya'.
"Aku hanya ingin memastikannya," akhirnya hanya kata itulah yang keluar dari mulut Joanna.
"Kau bohong," kata Louise.
"Aku tidak bohong," sanggah Joanna.
"Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu. Benarkan?"
"Tidak."
"Katakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan?" paksa Louise.
"Tidak ada."
"Kenapa, apa kau kecewa karena aku bukan seorang ayah?" desak Louise.
"Kapan aku bilang begitu?" jawab Joanna semakin canggung.
"Joanna, kalau kau kecewa maka lahirkan anak untukku. Dengan begitu aku bisa jadi ayah yang sesungguhnya," kata Louise percaya diri. Lalu masih mendekatkan wajahnya kepada Joanna dan memandang matanya dengan lekat.
"Sudah kubilang aku tidak kecewa," jawab Joanna secepat kilat dan segera mengalihkan pandangannya.
Kamar itu sebenarnya menyalakan pendingin ruangan tapi Joanna merasa kepanasan. Joanna juga tidak lapar tapi tubuhnya merasa gemetaran. Itulah luar biasanya efek dari berada di dekat Louise yang tampan dan terus-terusan mengobral wajah tampannya di depan Joanna.
"Joanna, apa masih belum selesai juga?" tanya Louise dengan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Sepertinya waktu yang dibutuhkan Joanna terlalu lama hanya untuk memasang sebuah dasi.
"Tunggu sebentar," jawab Joanna. Sebenarnya Joanna bisa. Hanya saja dia sedang gemetaran. Mendapatkan tatapan dari pria tampan sepertinya menghancurkan keahliannya dalam hal memasang dasi. Tidak hanya tangannya yang gemetaran, tapi jantungnya pun berdetak tak karuan.
"Joanna, apa jangan-jangan kau tidak bisa memasang dasi ini untukku?" tanya Louise curiga.
"Aku bisa kok."
"Louise kau bodoh."
"Joanna, apa aku selalu bodoh di matamu?" tanya Louise.
Joanna tidak bisa menjawab dan itu membuat Louise semakin merapatkan tubuhnya.
"Louise, bagaimana aku bisa menyelesaikan ini jika kau terus-terusan meletakkan wajahmu sedekat itu?" protes Joanna.
"Oh, memangnya kenapa. Apa ada yang salah?"
"Tentu saja ada."
"Apa masalahnya?"
"Tentu saja wajah tampan milikmu itu masalahnya. Aku ini tidak buta, aku tahu kau sangat tampan. Tapi apa perlu mendekatkan wajahmu sedekat ini. Apa kau sedang menggodaku?"
"Oh, apa Joanna baru saja memujiku? Joanna, kalau begitu tolong pegang aku. Aku hampir terbang karena bahagia," goda Louise. Lalu dengan terang-terangan memeluk Joanna semakin erat dan erat.
"Louise!"
"Sstt, jangan marah-marah lagi. Baiklah, aku pergi sekarang. Beristirahatlah dengan baik!" kata Louise sebelum mendaratkan ciumannya di seluruh wajah Joanna dan melenggang pergi. Tentu saja dengan memasang dasinya sendiri sembari melangkahkan kaki.
"Bajingan itu, kenapa bisa memiliki sifat seperti itu?" kata Joanna pada dirinya sendiri.
"Tuhan, apa aku telah mencintai manusia yang salah? Kenapa, kenapa dia berbeda. Kenapa dia memiliki sikap yang seperti itu?" kata Joanna dengan memukul dadanya ringan.
Sementara itu, Louise yang masih berada di villa segera mengambil ponselnya. Dengan cekatan menghubungi mamanya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Louise, ada apa?" tanya Rose dari seberang sana.
"Ma, bisakah datang ke villa sekarang juga?" tanya Louise langsung pada intinya.
"Hm, kenapa begitu tiba-tiba?" tanya Rose lagi. Selama hidupnya, ini pertama kalinya Louise memintanya untuk segera datang. Rencananya mereka baru akan datang malam nanti.
"Apa mama sibuk?" tanya Louise lagi.
"Tidak, hanya saja mama sedang menemani nenekmu berbelanja," jawab Rose.
"Kalau begitu aku akan menyuruh orang untuk menjemput kalian," kata Louise.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Rose penasaran.
"Aku sudah membawa Joanna dan Oskar pulang. Aku ada urusan diluar jadi akan pergi sebentar. Bisakah menemani mereka sampai aku kembali?" pinta Louise.
"Louise kenapa tidak mengatakannya dari tadi. Tidak perlu menyuruh orang untuk menjemput. Mama dan nenek akan kesana sekarang juga. Kami sudah merindukan Oskar. Ngomong-ngomong kemana papamu, bukannya dia disitu bersama yang lainnya?" tanya Rose.
"Mereka sudah ku usir," jawab Louise.
"Louise, mama akan menginap hari ini ya?" ijin Rose.
"Tidak boleh!"
"Louise, kami ingin berlama-lama dengan Oskar."
"Ma, kalian bisa datang lagi besok."
"Louise?"
"Ma, jangan mengganggu kesenangan anak muda. Lagipula kalau kalian bermalam, kapan Joanna bisa segera melahirkan cucu baru untuk kalian," kata Louise berterus terang.
"Eh, cucu baru?" tanya Rose.
"Iya, kali ini dariku," jawab Louise.
"Louise, baiklah mama akan pulang sebelum jam sembilan malam. Tapi sebaiknya kau tepati janjimu. Cepat berikan cucu baru untuk kami."
Tanpa menunggu jawaban dari Louise, Rose sudah menutup teleponnya. Tapi Louise bisa mendengar mamanya langsung bergosip dengan neneknya di seberang sana tentang cucu baru.
"Apa mereka tidak terlalu bersemangat?" gumam Louise.
Belum juga menghidupkan mesin mobilnya, ponsel Louise kembali berdering. Kali ini dia mendapatkan panggilan dari Kepala Suh.
"Kepala Suh, ada apa?" tanya Louise.
"Tuan Muda, Nona Joanna bilang ingin pindah kamar," jawab Kepala Suh.
"Pindah, kemana?" tanya Louise.
"Nona bersikeras untuk pindah ke kamar tidur untuk tamu. Haruskah kami melarangnya?" tanya Kepala Suh.
"Kalau dia ingin pindah, biarkan saja," jawab Louise.
"Apa tidak apa-apa?" tanya Kepala Suh.
"Asalkan dia tidak pergi, dia bisa melakukan apapun sesuka hatinya."
"Oh, baiklah!"
"Dasar keras kepala. Tapi memangnya kenapa kalau kau pindah kamar. Aku masih bisa menculikmu kapan saja sesuka hatiku," gumam Louise.
...***...