CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)

CRAZY RICH DADDY (Secret After Lie)
CRD Raksasa Besar



Berbeda dengan Ebra yang langsung bangkit dan memberikan salam, Oskar malah enggan melihat daddynya. Dia memilih melanjutkan aktifitasnya dengan menjilat sisa saus terakhir di sumpitnya dan menjawab pertanyaan daddynya belakangan. "Makan bekal buatan mommy yang tidak daddy makan!" jawab Oskar lalu kembali mengacuhkan Louise sepenuhnya.


"Ebra, apa kau sudah kenyang sekarang?" tanya Oskar.


"S-sudah, aku sangat kenyang!" jawab Ebra.


Jujur saja anak itu sedikit takut setelah melihat wajah Louise yang sangar ditambah Oskar yang acuh. Ebra melihat Oskar, kemudian melihat Louise secara bergiliran. Tidak biasanya mereka perang dingin seperti ini. Apa yang harus Ebra lakukan untuk mencairkan suasana di ruangan ini. Jika tahu akan seperti ini, dia pasti akan memakan bekal itu di ruangan William saja tadi.


"Aku juga sangat kenyang. Kalau begitu ayo pulang kerumah. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan disini!" ajak Oskar. Oskar segera membereskan wadah bekalnya tanpa mencucinya terlebih dulu lalu menarik Ebra untuk mengajaknya keluar.


"Oskar, apa kau tidak ingin berbicara dengan Paman Louise? Paman kan baru datang. Aku bisa pergi ke ruangan papa sendiri kok," tanya Ebra dengan menggaruk perutnya.


"Aku tidak mau bicara dengan pria ini. Aku dan mommy sudah menunggunya sejak tadi. Mommy bahkan membuat makanan kesukaan untuknya sejak pagi tapi dia malah pergi makan dengan wanita asing. Aku tidak mau pria ini lagi. Jadi ayo!" jawab Oskar. Tangan yang masih belepotan saus itu bahkan sudah menarik tangan Ebra.


Sementara Louise, mendengar jawaban itu membuat wajahnya semakin datar dan tidak bersahabat. Sampai sekarang Oskar memang tidak takut padanya, tapi tidak dengan Ebra. Dia semakin ketakutan terlebih saat melihat Louise mulai berjalan mendekati keduanya seperti raksasa yang besar. Suara sol sepatu itu bahkan terdengar sangat menyeramkan seperti bunyi alarm detik-detik terakhir saat sebuah bom akan meletus.


Ebra mulai gemetaran, menggigit bibirnya yang merah dan mundur selangkah. Tapi apa yang dilakukan Oskar membuat Ebra kehilangan rasa takutnya dan membatin, "Begini baru kakak yang benar."


Oskar tidak hanya menarik Ebra ke belakangnya, tapi juga maju kedepan untuk menyambut daddynya yang garang dengan berkacak pinggang. "Daddy?" teriak Oskar.


Sumpah, Louise tidak bisa lagi menahan tawanya sehingga muncul juga senyum tipis itu saat melihat tingkah Oskar. Dia tahu anak itu marah. Tapi darimana Oskar tahu dia sedang makan dengan perempuan lain. Tapi itu tidak penting, yang penting sekarang adalah dia ingin tahu apa yang ingin dilakukan Oskar dan mulai menggodanya. "Apa yang kau lakukan. Kenapa kau menyembunyikan Ebra di belakang sana?" tanya Louise.


"Karena daddy membuat Ebra takut," jawab Oskar.


"Lalu, apa kau tidak takut dengan daddy?" tanya Louise.


"Tidak!" jawab Oskar.


Oskar melihat Louise dengan keberanian maksimal dan berkedip seminimal mungkin. Anak kecil berusia enam tahun itu terlihat lucu dimata Louise tapi terlihat sangat keren di mata Ebra. Iya keren, karena dia melindungi teman yang baru dia paksa jadi adiknya. Tapi apa-apaan dengan bekal makanan di tangan kirinya itu?


Baiklah, Oskar memang terlihat seperti pahlawan dalam karakter film. Satu-satunya kekurangan Oskar saat ini adalah dia masih terlalu kecil dan munculnya perut yang membuncit karena terlalu banyak makan. Seandainya Oskar sudah lebih besar sedikit saja, Louise yakin akan ada jutaan gadis yang terpesona dan jatuh cinta saat melihat tingkahnya ini.


"Benarkah?" tanya Louise.


Pria itu menekuk lututnya. Merendahkan dirinya dan mendekatkan wajahnya pada Oskar dengan senyum tipis yang membuat hati dua bocah itu meleleh seketika. Bahkan Ebra sudah tidak merasa takut lagi karena melihat wajah yang gantengnya kelewatan.


"Saat besar nanti saat aku sudah sedikit lebih kuat aku akan meminta Paman Louise untuk mundur sedikit agar gantengnya tidak semakin kelewatan," batin Ebra.


Sementara itu, anak kecil lainnya yang sedang berdiri di depan Ebra pun sama frustasinya. Seharusnya adegan berikutnya tidak seperti ini. Ini tidak seperti yang dia harapkan. Dalam bayangan Oskar, harusnya daddynya minta maaf dan akan mengajak dirinya, mommy dan adik bayinya jalan-jalan sebagai permintaan maaf.


"Ah, daddy. Kenapa daddy sangat tampan begini. Bagaimana aku jadi marah kalau daddy meletakkan wajah sedekat ini untuk menggodaku!" jerit hati Oskar.


Meskipun begitu Oskar tidak ingin menyerah begitu saja. Jadi dia meletakkan dua tangannya yang kecil ke wajah Louise sebelum mendorong pundak daddynya sehingga membuat seorang Presdir yang dihormati itu terjengkang kebelakang dan membuat pantat Louise yang berharga terantuk lantai yang dingin. "Aku tahu daddy tampan tapi jangan dekat-dekat dengan Xiao O. Xiao O benci daddy!" teriak Oskar.


"Ah! O-Oskar, apa yang kau lakukan. Bibi Joanna bisa marah kalau melihatmu nakal begini!" kata Ebra histeris. Lebih histeris lagi saat melihat setitik saus di pipi pria tampan itu karena tangan Oskar yang kotor. Padahal baru beberapa detik yang lalu dia tidak takut lagi. Tapi karena sudah begini terpaksa rasa takutnya datang lagi.


"I-itu, Ebra sedikit takut dengan paman. Tapi, tolong jangan hukum Oskar. Dia hanya sebal karena paman tidak pulang-pulang. Jadi memintaku membantunya makan bekal yang bibi masak agar bibi tidak sedih," jawab Ebra lengkap dengan pembelaannya untuk Oskar.


"Paman tahu kok," jawab Louise.


"Tahu?" tanya Ebra.


"Eum. Paman sudah tahu. Ebra, kau bisa pergi sekarang. Kau tahu jalan menuju ruangan papamu kan?" tanya Louise.


"Tapi, bagaimana dengan Oskar. Apa dia tidak boleh pergi bersamaku?" tanya Ebra.


"Kau boleh, tapi anak nakal ini tidak boleh," jawab Louise.


"Ebra tidak akan pergi jika Oskar tidak pergi!" kata Ebra mantap.


"Tapi paman ingin kau pergi mencari papamu!" tegas Louise.


Louise bangkit, mengangkat Ebra seperti anak kucing dan mengurung Oskar di ruangannya. Setelah dia mengirim Ebra ke ruangan William, dia pun kembali dan gantian mengangkat Oskar dan membuarkannya duduk di meja kerjanya sementara dia sendiri duduk di kursi kebesarannya. "Apa kau marah?" tanya Louise.


"Eum," jawab Oskar.


"Kenapa?" tanya Louise.


"Xiao O tidak suka daddy seperti itu dengan wanita asing," jawab Oskar.


"Tapi dia bukan wanita asing," kata Louise.


"Memangnya dia siapa. Kenapa daddy makan dengannya. Kan sudah ada mommy yang cantik. Kenapa memilih wanita seperti mak lampir seperti itu?" protes Oskar.


"Xiao O, dengarkan daddy. Dia bukan wanita asing. Dia itu, pacar daddy dulunya," kata Louise.


Mendengar penjelasan Louise semakin membuat Oskar marah. "Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang!" kata Oskar.


Awalnya, anak itu hanya marah bohongan. Tapi kali ini dia jadi marah betulan sampai ingin pergi dengan membawa mommy dan adiknya. Tapi Louise masih ingin berbicara padanya. "Xiao O, apa kau sangat menyukai mommy?" tanya Louise.


Sebuah pertanyaan itu jelas melukai hati Oskar. Apa dia sangat menyukai mommy katanya? Tentu saja dia sangat suka mommy. Dia bahkan lebih menyukai mommy daripada mama ataupun daddy. "Tentu saja Xiao O suka mommy," jawab Oskar.


"Lalu apa Xiao O menyukai daddy?" tanya Louise.


"Xiao O suka daddy kalau daddy bersama mommy. Kalau daddy tidak bersama mommy, Xiao O tidak suka daddy lagi," jawab Oskar jujur kemudian berlari dan pergi meninggalkan Louise seorang diri. Memaksa Joanna pulang dengannya tanpa membiarkan Joanna bertemu dengan Louise.


...***...