The Slayers

The Slayers
Chapter 99 (Season 3)



Johan membuka matanya dan yang dia lihat hanyalah jeruji besi, dinding kotor, dan didepannya ada jeruji besi lain. Dia masih bisa melihat meski minim pencahayaan karena bantuan Seraphim juga.


Dia tidak lama dimasukan kedalam sel. Lagipula dia hanya akting pingsan supaya bisa masuk kedalam penjara.


Seperti yang dia duga, barang-barang yang terlihat bagus diambil darinya. Pedang, belati, jaket, tas berisi makanan dan minuman juga diambil. Bahkan sepatunya juga diambil oleh mereka.


Tapi, Johan tidak terlalu marah. Dia bisa mencarinya kembali. Johan tanpa ragu berdiri didepan jeruji besi dan membengkokkan nya. Dia juga mematahkan jeruji besi untuk menjadikannya senjata.


Salah satu kelemahan fatal dari penjara ini adalah, tidak ada penjaga sama sekali. Mereka sangat yakin kalau para tahanan tak bisa kabur.


Para tahanan yang melihat Johan sangat terkejut dan bertanya-tanya bagaimana cara dia membebaskan diri. Tapi segera dijawab oleh Johan dengan membengkokkan jeruji besi salah satu sel. Tahanan tersebut langsung keluar dari tempatnya. Dia membebaskan semua tahanan yang ada.


"Terima kasih, elf baik hati."


"Oh pahlawan!"


"Terima kasih... terima kasih."


Orang-orang bersujud pada Johan, menganggap Johan sebagai penyelamat. Johan merasa tidak enak dan menyuruh mereka untuk berdiri.


Diantara orang-orang yang dia selamatkan, tidak ada yang mempunyai aura dari pedang Gram.


"Semuanya, kalian sekarang sudah bebas. Kalian boleh melakukan apa saja, bahkan merusuh!"


"Ta-tapi, kami sama sekali tidak punya tenaga untuk merusuh atau melawan para penjaga."


Johan menjentikkan jarinya dan cahaya terang keluar dari tubuh orang-orang. Mereka merasa hangat dan nyaman, mereka juga kembali bertenaga dan sehat.


"Sekarang, kalian sudah bisa bertarung kan? Kalian bekerja samalah untuk mengalahkan orang-orang, jika kalian bekerja sama, pasti kalian bisa!"


Orang-orang mengangguk dan segera pergi meninggalkan Johan. Mereka segera keluar dari penjara, para penjaga kaget dan berusaha menahan orang-orang yang kabur. Tapi orang-orang itu dengan ganas menyerang para penjaga, mencuri senjata mereka, dan membunuh para penjaga dengan brutal. Sedangkan Johan, dia mencari aura pedang Gram.


Dia tak lupa berkeliling untuk mencari perlengkapannya yang dicari. Beberapa saat kemudian, dia berhasil menemukannya. Johan beruntung karena tidak ada yang hilang.


"Nah, sebenarnya dari mana aura pedang Gram itu?"


[Aku merasakannya dari bawah.]


Johan segera mengumpulkan energi ke tangannya. Dia meninju lantai bawahnya, menciptakan jalan pintas.


Johan jatuh dan mendarat dengan sempurna. Dia jatuh keruangan yang benar-benar tidak ada pencahayaan sampai Johan melubangi lantai atas. Tetap saja, tempat itu masih gelap.


Walau gelap, Johan tetap bisa melihat pintu raksasa yang sangat besar dan megah. Dia mendekat kearah pintu tersebut dan mencoba mendorongnya.


Lagi-lagi, ruangan yang gelap gulita. Tapi...


"Siapa.... kau..." Suara serak, lemas, dan lemah terdengar.


"Namaku Johannes, kau ada dimana?" Johan tak dapat melihat apa-apa, benar-benar sangat gelap.


"Aku... didepanmu..."


Johan mencoba untuk berjalan maju. Dia tiba-tiba menabrak dinding batu.


"Eh, kenapa aku tidak menggunakan itu ya?"


Johan mengumpulkan mana ke tangannya dan ada cahaya terkumpul di telapak tangannya.


Akhirnya, dia bisa melihat orang yang berbicara dengannya. Seorang pria tua yang sangat kurus dengan janggut lebat. Ditubuhnya terlihat banyak bekas pecutan dan siksaan lainnya


Pria tua itu dirantai dikedua tangannya dan digantung.


Johan segera menarik pedangnya dan memotong rantai dikedua tangan pria tua itu. Setelah itu, pria tua itu jatuh dan ditangkap oleh Johan.


"Hei, kau baik-baik saja, pak?"


"Terima... kasih..."


Melihat kondisinya yang mengenaskan, Johan segera memberikan heal pada pria tua itu. Dia juga memberi energi kepada pria tua itu.


Pria tua itu sekali lagi mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, nak, namaku adalah Volund. Apa yang bisa kulakukan untuk membalas budi?"


Johan dengan jujur menjawab "Aku merasakan aura pedang Gram darimu."


Mata Volund terbuka lebar, dia berkata "Kau... bagaimana kau-"


"Aku sedang mencari pedang Gram. Kau sepertinya punya hubungan dengan pedang itu. Hutang budimu akan lunas jika kau membantuku mencari Gram."


Volund terdiam sejenak. Dia sedang berpikir dengan keras.


"Huft... Gram itu, aku yang membuatnya."


'Tunggu, apa!?' Johan sungguh beruntung, karena dia sedang bertemu dengan pembuat pedang itu sendiri.