The Slayers

The Slayers
Chapter 165 (Season 4)



"Hari pertama pelatihan, kelas D.


"Jangan lari kau, br*ngsek!"


"Dasar buta! Kalau kau ingin bertarung, aku akan meladeni mu! Sekarang bukan waktunya untuk itu!"


Dipagi yang indah ini, dengan sinar surya yang cerah, harusnya kali ini mereka akan disambut dengan pagi yang menyenangkan. Karena itu, menurut Via, waktu kali ini akan menjadi waktu yang pas untuk latihan.


Namun tampaknya, dengan adanya satu anggota yang kelakuannya seperti kaum barbar, tidak mungkin ada waktu untuk berlatih dengan teratur dan tenang.


Tak hanya Zoel dan Danu yang sedari tadi kerjaannya hanya ribut, yang lain juga tak kalah menyusahkan untuk Via. Mulai dari El, yang pendiam dan hanya menggambar ditanah. Kemudian, Alan yang sedang bermeditasi dibawah pohon. Hanya satu orang yang bisa diajak kerja sama, yaitu Niji.


Tak mampu menahan rasa frustasinya, Via mengambil nafas yang dalam.


"BERHENTIIIIII!!!"


Teriakan dari Via sampai menggetarkan pohon dan menimbulkan sebuah gelombang kejut skala kecil. Semua orang, kecuali Alan yang masih tenggelam dalam meditasinya, berhenti melakukan aktivitasnya. Via menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali dengan cepat.


"Semuanya, berkumpul disini! Cepat!!"


Mendengar perintah dari ketua tim, mereka dengan cepat berkumpul didekat Via yang kemudian membentuk lingkaran. Via memeriksa semua timnya yang ternyata kekurangan satu anggota. Via menatap kearah Alan yang sedang bermeditasi.


Dengan amarah yang kuat, dia berjalan dengan menghentakkan kaki ketanah yang membuat tanah sedikit bergetar. Getaran tersebut tak membuat Alan terganggu sama sekali. Matanya masih terpejam dan postur tegapnya tidak terganggu sama sekali.


Beberapa langkah mendekati Alan, pundak Via disentuh oleh seseorang yang ternyata adalah Zoel. Dengan pedang besar ditangannya dan sorot matanya yang seperti hewan buas, terdapat maksud dibalik tindakannya.


"Ada apa, Zoel?" Via melihat ekspresi Zoel yang menyiratkan sesuatu yang tidak mengenakan terjadi.


"Biar aku saja, Via. Tak perlu membuang tenagamu untuk anak anj*ng macam dia!"


"Zoel, jangan macam-mac-"


Tepat saat bilah tajam dari pedang besar Zoel hampir mengenai wajah Alan. Secara mengejutkan, pedang itu berhenti.


"A-a-apa!?"


Pedang besar nan tajam milik Zoel berhasil dihentikan dengan dijepit diantara lembaran buku novel oleh Alan. Semua orang dibelakang bingung dengan kejadian itu. Sedangkan itu, Alan yang membuka matanya, secara perlahan, nampak mata tanpa pupil merahnya yang biasa. Dia memutar tangannya dan buku novelnya, membuat Zoel terputar dan terpaksa mundur.


Sementara itu, pedang besar Zoel yang masih diputar oleh Alan kemudian dilemparkan ketanah dan tertancap tak jauh dari kaki Zoel.


Alan mulai kembali menampakkan pupil matanya yang berwarna merah sambil berdiri dan meregangkan tubuhnya.


"Tak bisakah kalian lebih tenang? Mengganggu saja kalian." Kata Alan sambil menguap.


"Kau sendiri kenapa tak bangun-bangun, hah!?" Via mulai menggembungkan pipinya.


"Aku meditasi, untuk menenangkan pikiranku."


Alan berjalan mendekati mereka sambil mengambil pedang Zoel yang tertancap ditanah. Alan kemudian melirik Zoel. Dengan senyum yang cemerlang, dia memberikan itu pada Zoel.


Zoel tak menerimanya, malah menyerangnya dengan tinju yang terarah pada wajah Alan. Alan dengan baik menghindar kebawah. Disaat yang bersamaan, Zoel juga menunduk kebawah sambil menyandung Alan hingga dia kehilangan keseimbangan. Pedang Zoel pun ikut terlepas dari tangan Alan dan diambil oleh Zoel kembali.


Mengambil kesempatan, Zoel mengayunkan pedangnya pada Alan. Tanpa diduga, Alan menggunakan tangannya untuk menyentuh tanah dan mendorongnya ke udara kembali sambil menghindari pedang Zoel dengan membuat gerakan berputar yang sangat sulit dilakukan, kecuali jika tubuh itu fleksibel dan atletis.


Alan, dengan kecepatan tangan yang luar biasa, memunculkan vial berisi cairan biru muda yang terdapat hawa dingin didalamnya. Alan kemudian mengendalikan vial dan cairan yang keluar teresap ditanah yang dipijaki oleh Zoel. Ditanah yang dipijaki Zoel, muncul lingkaran sihir. Tak sempat mengelak, Zoel sudah tak dapat bergerak lagi ... Lebih tepatnya, dia sudah membeku.


Alan menghembuskan nafas lega dan menyeka keringat di dahinya. Sayangnya, kelegaan itu hilang saat dia sadar akan bilah tajam pedang yang sudah siap menusuk leher belakangnya.


Alan tidak mengharapkan hal ini, tapi, mau tak mau senyumnya bertambah lebar.


"Apa maksudmu nih, menodongkan pedang tajam mu padaku, Via? Tidak baik loh ...."