
"Kira-kira, kita diarahkan kemana ini?"
"Tidak tau, ikuti saja."
"Perasaanku gak enak."
"Kenapa? Kau takut?"
"Masalahnya, aku gak bawa pedang sekarang."
"Kalau itu mah, gampang!"
Mungkin ini bukan waktunya, tapi, Alan dan Johan berjalan dengan santai saat ini. Setiap langkah dilalui tanpa beban. Walau begitu, mereka masih waspada terhadap apa yang akan datang.
"Apanya yang gampang? Diantara semua senjata yang ada didunia ini, aku hanya bisa menggunakan pedang!"
"Pfft, menyedihkan," ucap Alan, sambil menahan tawanya.
"Huh? Kau mengejekku!?"
"Apakah aku kurang jelas? Aku bilang, menyedihkan."
"Kau...!"
Percakapan mereka berakhir dengan Johan yang marah dan Alan yang masih tertawa tanpa rasa bersalah.
"...sebenarnya," Alan mulai berbicara lagi. "Kau itu tidak menyedihkan. Luar biasa bagi orang yang menguasai satu hal, hingga titik dimana kau menyatu dengan hal itu."
Johan agak terkejut. Tak disangka olehnya kalau Alan akan berkata hal seperti itu. Juga, perkataan Alan terdengar tulus. Hal itu menambahkan senyuman pada wajah
"Terima kasih."
"Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya."
"Haha, rasanya aneh mendengar itu darimu."
Alan hanya bisa tersenyum. Dia merasa pandangan orang-orang padanya itu beragam. Mulai dari orang aneh, gila, sakit jiwa, dan pandangan negatif lainnya. Tapi, dari Johan, dia penasaran apa pandangannya terhadap dirinya. Pikirannya sangat tertutup, seperti kabut. Masuk sekali saja, maka dia akan ditolak oleh sebuah keberadaan tersembunyi.
"Aneh, dari tadi hanya jalan lurus, dan belokan saja."
Johan merasakan adanya keanehan pada jalan. Seperti sudah ditentukan arah kearah mana mereka akan lalui. Itu membuatnya khawatir
"Bukankah itu bagus?" Alan berbeda. Dia tidak merasakan kekhawatiran, melainkan kesempatan.
"Bagus? Bagian mana yang bagus?"
"Dengan begini, berarti kita diarahkan pada ruangan bos."
"Tunggu, apa!?" Johan sangat terkejut mendengar hal itu. Itu artinya mereka seperti menantang maut.
"Kenapa, bukannya selalu seperti itu? Kau tidak pernah memainkan game rpg bertema dungeon?"
Johan menggeleng. Alan sangat terkejut, sampai-sampai menepuk kepalanya karena frustasi.
"Kau tidak pernah main game?"
Johan menggeleng sekali lagi.
"Bermain pedang dengan kayu?"
"...sialan kau."
"Apa ada yang salah dengan itu?" tanya Johan dengan ekspresi polos. Alan hanya merespon dengan menggeleng.
"Hmm? Itu ...." Dari kejauhan, Johan melihat ada ruangan besar yang serasa disiapkan hanya untuk mereka.
"Akhirnya, kah?"
Tanpa berpikir panjang, keduanya berlari menuju kearah ujung.
"Hah? Kosong?"
Setelah menginjakan kaki di ruangan yang luas. Yang mereka temukan hanyalah kekosongan belaka. Johan menjadi kecewa setelah melihat semua ini.
Tidak dengan Alan, yang masih mengamati sudut-sudut ruangan. Tetap saja, tidak ada apa-apa.
"Akhirnya...."
Suara yang berat memenuhi ruangan secara tiba-tiba. Tapi, tidak siapa-siapa disana kecuali mereka berdua. Sampai...
"Selamat datang, Johan Satriaputra, dan Alan Lexius."
Mereka mendadak mendengar suara yang memanggil nama mereka masing-masing, dan itu berasal dari belakang. Keduanya menghadap belakang dengan cepat, namun tidak ada siapa-siapa. Sialnya, jalan mereka juga ditutup.
"Cih, tidak ada jalan keluar ya?"
"Tidak ada cara lain, Alan. Kita harus melawan."
"Ck," sambil mendecakkan lidah, Alan mengeluarkan pedang dari Inventory miliknya.
"Johan, pakai ini!"
"Eh, darima-"
"Diam, ini bukan waktunya!"
Johan menyarungkan pedangnya, dan Alan menyiapkan kuda-kuda. Keduanya langsung bersiap untuk bertarung.
"Talenta muda dari akademi emang bukan main. Sangat spesial dan unik. Coba saja ada talenta seperti itu dalam organisasi kami, pasti luar biasa." Suara yang berat berbicara entah darimana. Alan dan Johan sama sekali tidak melihat dan merasakan kehadiran orang-orang disekitarnya. Hanya suara saja yang muncul.
"Hei, bajing*n, jika kau seorang pemberani maka tunjukan dirimu!"
Orang itu kemudian tertawa mendengar provokasi Alan.
"Seperti ucapan si necromancer, kau adalah orang yang pemberani, Alan."
'Necromancer? Apa-'
Alan menyadari sesuatu. Orang yang menjebak mereka ini mengenal Necromancer yang beberapa waktu yang lalu pernah ia lawan.
Saat itu juga, Alan merasakan ada sesuatu didahinya. Cairan keluar dari dahinya, mengalir deras seperti air terjun. Disitulah ia menyadari kalau kepalanya sudah tertancap sesuatu.