
'Ini... aneh.'
Jika dimakan oleh naga sungguhan, maka orang akan jijik setengah mati. Tapi yang Johan rasakan sekarang berbeda. Rasanya sangat menenangkan, nyaman, dan membuat ngantuk.
Johan benar-benar terlarut dalam perasaan nyaman, membuat matanya perlahan menutup.
Tetapi, tubuhnya kembali semangat secepatnya, dia seperti disuntikkan serum peningkat kekuatan.
[Johan, segeralah keluar dari sini! Semakin lama kau disini, kau akan kehilangan kesadaran. Jika kau kehilangan kesadaran, jiwamu perlahan akan dicerna oleh roh Fafnir!]
'Baiklah!'
Johan segera menarik pedangnya dan menebas sambil berputar seperti tornado. Leher monster itu segera lepas dan dia berhasil menciptakan jalan keluar.
Johan tentu langsung keluar dengan cepat dan melesat kearah pedang Gram.
Tepat setelah dia hampir berhasil meraih gagang pedang Gram, ekor berwarna putih seperti air menghantam Johan dan membuat Johan terlempar, tapi berkat [Angel Wings] dia bisa berhenti.
"Apa-apaan itu?'
Naga yang dipenggal johan kembali seperti semula. Kepalanya masih tersambung dengan baik.
"Cih!"
Johan mempercepat terbangnya untuk mengambil pedang Gram. Rasanya mustahil untuk melawan roh naga Fafnir.
Tapi, dia selalu dihalangi oleh roh naga Fafnir entah bagaimana caranya.
"Bagaimana cara mengalahkannya?"
Roh naga Fafnir bisa menghembuskan Johan dan membuatnya terpental jauh. Gerakannya juga gesit meski tubuhnya sangat besar. Dan sebanyak apapun Johan memotong roh Fafnir menjadi beberapa bagian, naga itu selalu bisa beregenerasi.
"Apakah dengan mengaktifkan rune, aku bisa mengalahkannya, Sera?"
[Tidak, rune mu tidak akan bekerja untuk roh. Kecuali jika kau mengubah beberapa ukiran dan urutannya.]
"... sial."
Johan kehilangan harapan satu-satunya. Seraphim memberitahu jika akan banyak naga yang menghadangnya. Jadi Seraphim mengarahkannya untuk membuat rune khusus untuk melawan naga.
Tapi saat ini, lawannya sekarang bukan sekedar naga, tapi roh naga! Maka diperlukan rune khusus yang lain.
"Bagaimana jika aku menyerangnya dengan belati ini?"
Belati lempar yang diberikan oleh Volund belum dia gunakan. Volund berkata jika gunakan belati ini disaat-saat genting, jadi dia mencoba untuk melempar belati ini.
Tapi, Johan lupa akan satu hal. Akurasinya sangat-sangat payah.
Saat dia melempar belati yang diberikan Volund. Tanpa menghindari belati itu, serangan Johan tidak kena.
Ekspresi Johan langsung menggelap. Dia sejak dulu hanya belajar berpedang dan tidak pernah belajar menggunakan senjata lain, bahkan kemampuannya memakai belati tidak buruk, tapi tidak bagus juga.
'Bagaimana ini?'
Pikirannya agak kacau, dia nyaris tak dapat menghindari serangan roh Fafnir.
[Sebenarnya, kau bisa mengubah ukiran dan susunannya. Tapi itu terlalu beresiko untukmu.]
'Tidak apa-apa! Aku menerima resikonya!'
[Kau gila!? Itu bisa membuatmu kehilangan seluruh tenagamu. Jika itu terjadi, bagaimana kau bisa menghadapinya?]
'Aku masih punya banyak ramuan kan? Dan, apakah kau bisa menyuntikkan sedikit kekuatan mu?'
[Dengar Johan, meski aku patron mu, tapi kami para malaikat punya batas. ...kau harus bersyukur karena aku yang jadi patronmu, Johan.]
Seraphim dengan perlahan mengeluarkan energi cahaya yang merembes kemana-mana. Kemudian, ratusan rantai muncul dan membentuk sebuah bola yang melindungi Johan.
[Baiklah Johan, sekarang, ikuti arahanku.]
'Baiklah!'
Johan segera mengeluarkan Helios, pedangnya. Dia mengaktifkan rune nya yang membuat tulisan disisi pedang menyala.
Johan langsung mencoba mengubah susunan rune. Tapi...
"Ugh! Berat!"
Tulisan rune sangat sulit untuk dipindahkan. Sekali digerakkan, mana dalam tubuh Johan terkuras habis.
Tapi dengan bantuan Seraphim, tenaga Johan kembali pulih.
Sedangkan diluar, roh Fafnir berusaha untuk memakan bola itu. Tapi tidak bisa, umpamanya seperti manusia yang mencoba menggigit batu, roh Fafnir tidak bisa menembusnya.
Roh Fafnir mencoba untuk menghempaskan bola itu dengan ekornya. Sayang sekali untuk roh Fafnir, tidak ada goresan atau retakan.
Setelah beberapa saat, roh Fafnir seperti bermain bola. Dia menghempaskan bola itu kesana-kemari. Dia seperti bermain bola voli tanpa ditemani oleh seseorang.
Dan secara ajaib, Johan sama sekali tidak menerima guncangan. Dia masih fokus dalam membentuk dan menyusun rune untuk menghadapi roh Fafnir.
Tanpa dikira-kira, roh Fafnir melambungkan bola itu dan menggunakan semburan api berwarna putih.
Tetap saja, tidak berefek.
"Sebentar lagi!"
Johan hampir selesai mengubah susunannya. Dia akhirnya berhasil menukar letak salah satu huruf dan akhirnya, rune telah selesai.
Tepat saat itu, Seraphim mengnonaktifkan bola perisai dan Johan langsung melesat kearah roh Fafnir.
Johan mengalirkan mana pedangnya, membuat rune aktif. Dia segera menyerang roh Fafnir dileher.
Berbeda dengan tadi, roh Fafnir menghindari serangan itu. Dia merasakan bahaya dari pedang Johan.
Johan segera menyerang lagi. Tapi saat hampir mengenai leher roh Fafnir, Fafnir lagi-lagi menghindarinya dengan gesit.
'Cih, mari kita coba lagi!'
Johan mengambil salah satu belati dan melemparnya.
'Dewa keberuntungan, berpihak lah padaku!"
Johan segera melempar belati itu, berharap jika itu bisa mengenai bagian roh Fafnir sedikit.
Dan memang, doa anak baik itu cepat dikabulkan. Belati yang Johan lempar segera mengenai sayap roh Fafnir.
Itu membuat roh Fafnir kesakitan.
'Berhasil!'
Johan tidak membuang waktunya, dia segera melesat.
Dia memegang gagang pedangnya. Perlahan, waktu berjalan sangat lambat, dan Johan entah kenapa tiba-tiba teringat masa sebelum dia memasuki akademi.
"Johan, terima dan pelajari buku ini." Kata Grayson sambil menyerahkan sebuah buku pada Johan.
Buku itu memiliki gambar 4 hewan, phoenix merah, naga biru, kura-kura hitam, dan macan putih.
"Untuk apa ini, ayah?" Johan bertanya pada Grayson yang merupakan ayah angkatnya.
"Itu teknik pedang yang kugunakan, saat itu aku menemukannya di sebuah portal tipe macan. Teknik pedang itu cukup kuat, jadi sebagai anakku, kau akan meneruskan teknik pedang itu."
"Baik, terima kasih ayah!"
Johan kemudian memeluk ayah angkatnya itu.
"Berhati-hatilah saat di Akademi. Tak perlu memaksakan dirimu untuk jadi yang terbaik, hanya, berusahalah sebaik yang kamu bisa."
"Tentu, ayah."
Mari kita akhiri flashback ini, karena Johan akan mulai mempraktekkan teknik pedangnya.
Johan mulai menarik pedangnya, seluruh tubuhnya perlahan ditutupi oleh api, sayapnya pun juga diselimuti api yang panas.
Johan dengan cepat melesat maju dan kemudian secara ajaib, tiga orang keluar dari tubuh Johan. Perawakannya sangat identik dengan Johan. Itu merupakan klon dari Johan sendiri.
"[Guardian of south, suzaku:Flame star.]"
Johan beserta para klon nya menebas roh Fafnir dengan pedang mereka yang terselimuti bara api. Tebasan mereka membentuk sebuah bintang.
Roh Fafnir jatuh dengan teriakan melengking. Johan yakin kalau roh Fafnir sudah mati. Setidaknya sampai Seraphim memperingatinya
[Johan, ini belum selesai. Cepat ambil pedang itu sebelum roh Fafnir kembali.]
Johan terkejut sebentar, tapi dia dengan cepat berbalik untuk mengambil pedang Gram yang patah.
Tanpa mendarat, dia mengambil gagang pedang Gram. Itu membuat cahaya terang yang tersebar dimana-mana hilang. Johan langsung melesat pergi kepintu keluar.
Disaat yang bersamaan, di sarang naga utama.
Seorang dragonborn berlari terbirit-birit. Dia menyusup diantara kumpulan naga yang sedang bicara-bicara.
Akhirnya, dia sampai didepan tahta, tentu dia langsung bersujud didepan raja para naga.
"Yang mulia! Aku punya kabar buruk!"
Naga yang sedang santai itu langsung kesal dan berniat untuk membunuh dragonborn itu, tapi dia memutuskan untuk mendengarkan kabar buruknya terlebih dahulu.
"Apa itu?" Suaranya sangat berwibawa, dan tenang. Tapi dia sebenarnya tidak seperti itu.
"P-p-pedang Gram sudah dicuri!"
Kabar tersebut membuat tak hanya raja naga, tapi semua naga melotot dengan panik.
"Apa!? Bagaimana!? Mustahil untuk mengalahkan roh leluhur!"
"Aku tidak tahu, yang mulia. Hanya saja tanda-tanda pedang Gram sudah menghilang!"
Seketika, dragonborn itu hangus terbakar oleh nafas raja naga.
"Semuanya! CARI ORANG YANG MENCURI PEDANG GRAM! YANG MENEMUKAN PENCURINYA AKAN DIBERIKAN HADIAH!"
Semua naga menjadi bersemangat dan segera mengepakkan sayap mereka.