The Slayers

The Slayers
Chapter 147 (Season 4)



Ruang kelas tiba-tiba sunyi, semua disebabkan oleh satu jabatan tangan yang semula bertujuan untuk berkenalan dan mengakrabkan diri dengan sesama. Sekarang, kedua orang tersebut sedang dalam kondisi yang ... bisa dibilang aneh, dan tiba-tiba.


"Kak Alan, matamu keluar darah!"


"Hah?"


Alan awalnya tidak percaya, tapi dia memang merasakan cairan mengalir dari mata turun ke pipi. Alan mengusap pipinya dengan buru-buru, ternyata benar, ada darah di kelima jari-jarinya.


'Sialan, apa yang sebenarnya terjadi?'


Alan mulai berpikir kalau ada yang salah dengan Johan. Pertama, yang tentunya paling aneh adalah sensasi menyetrum yang ada saat berjabat tangan. Itu bukan sekedar jahil, itu adalah hal yang tidak pernah diduga oleh kedua pihak. Jika itu hanya prank, maka Johan tidak akan ikut terpental.


Yang kedua, Alan secara samar melihat sosok yang bentuknya terlihat seperti malaikat. Alan berpikir, apakah itu halusinasi sebab setruman tadi? Dia tidak tahu. Ketiga, dia mendengar suara Jaldabaoth secara tiba-tiba. Dia mengira itu adalah bagian dari halusinasi, tapi secara tiba-tiba tubuhnya bergerak sendiri, seperti dikendalikan oleh sesuatu. Alan mengira itu mungkin Jaldabaoth. Terakhir, Alan dan Johan mengucapkan kata-kata yang sama disaat yang bersamaan. Keduanya pun tiba-tiba tersadar dan sama mengeluarkan darah dari tempat yang berbeda;Alan dibagian mata sedangkan Johan bagian hidung.


Alan mulai berpikir, mungkin Johan punya sesuatu dalam dirinya, sama seperti dirinya. Sesuatu yang spesial, dan jika dilihat dari nada bicara Jaldabaoth, yang dengan samar-samar penuh kebencian, sepertinya ada hubungannya dengan mahluk ditubuh Alan.


'Malaikat melawan Iblis, huh?'


Alan jadi kepikiran, apakah dia akan terjerat dengan perang antara malaikat melawan iblis? Jika iya, maka hidupnya tidak akan pernah sama lagi.


Alan akhirnya memutuskan untuk mengesampingkan semua itu. Alan ingin berada dalam Akademi untuk menempuh pendidikan dan balas dendam, bukannya terjerat dalam perselisihan antar mahluk diluar akal.


Alan membersihkan semua darah pada pipinya dan menghampiri Johan. Kali ini, dia mengulurkan tangannya sambil bertanya, "kau tidak apa-apa?"


"Aku ... baik-baik saja." Johan dengan ragu-ragu menerima tangan Alan. Seisi kelas langsung menjauh, tapi ada yang bersiap untuk menangkap keduanya jika mereka terhempas secara bersamaan.


Saat kedua tangan itu bertemu ... tidak terjadi apa-apa. Semua di kelas langsung merasa lega. Untungnya tidak terjadi apa-apa.


Karena tidak terjadi apa-apa, Alan dan Johan berjabat tangan sambil mengayunkan tangan keatas dan kebawah. Mereka juga tidak lupa ditemani dengan senyum canggung.


'Canggung banget, serius.' Pikir mereka berdua secara serentak.


Suasana canggung itu tentu juga dirasakan oleh murid yang lain. Untung saja, kondisi canggung itu pecah karena Pak Arton tiba-tiba masuk.


"Hmmm?"


Namun, ketika melihat bekas darah di hidung Johan dan di kedua sisi pipi Alan. Pak Arton berpikir, apakah kedua anak ini bertengkar? Tapi tidak ada bekas pukulan pada bagian tubuh kedua pihak. Bisa jadi, mereka berdua disembuhkan oleh Ecak yang merupakan seorang healer dan kemudian berdamai. Satu lagi, mungkin mereka menggunakan sihir untuk melukai satu sama lain. Memikirkan itu, Pak Arton tersenyum tipis.


Memang itu adalah senyum tipis, tapi ara murid bisa melihat perbedaannya dengan jelas. Mereka semua menganga tak percaya. Ini pertama kalinya mereka melihat Pak Arton tersenyum. Memang Pak Arton pernah tersenyum, tapi itupun saat melihat para murid tersiksa.


Tapi kali ini berbeda, mereka tidak sedang tersiksa, hanya ada kejadian heboh. Memang Pak Arton, sebelum keluar, berkata kalau bisa gelud sana. Pak Arton yang mengira anak muridnya berselisih dengan murid baru menyukai itu.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Duduk sana sebelum ****** kalian berbisul."


Semua anak langsung kembali duduk ditempat masing-masing. Semuanya langsung fokus pada pelajaran mau tak mau.


'Ini pelajaran pertama ku!'


Alan menjadi sangat semangat karena ini menjadi pelajaran pertamanya. Inilah yang dia tunggu-tunggu saat dia masih berhalusinasi tentang kehidupan Akademi. Sekarang, semuanya sudah terwujud.


'Kelas apa yang akan aku dapatkan? Kelas bertarung? Kelas Alchemist? Kelas pengolahan Mana?'


"Baiklah, anak-anak, coba kalian jawab pertanyaan satu ini!"


Pak Arton mulai menuliskan sebuah sebuah rumus dengan kapur di papan. Rumus itu adalah rumus fisika.


'Lah, gak belajar bertarung?'


Alan ingin protes, tapi tidak seharusnya dia sebagai anak baru protes, karena itu dia menahan diri.


"Nah, sudah, silahkan jawab."


Rumus fisika itu membuat semua orang kebingungan, tentunya. Alan bisa menjawab soal itu, tapi dia menunggu yang lainnya.


"Yang bisa jawab, bisa skip pelajaran bertarung."


'....NICE!'