
Saat ini masih belum ada anak murid yang mencapai tantangan ke-lima. Yang benar saja? Johannes Satriaputra, dia punya bakat, tapi lihatlah, dia tidak bisa menyelesaikan soal matematika itu. Seharusnya dia bisa berada di garis finish dengan mudah.
Kemudian, Via Lestari akhirnya bisa mencapai tantangan ke-empat. Dia murid yang pintar, seharusnya dia bisa menyelesaikan tantangan itu dengan mudah. Kemudian, 3 murid baru itu tidak buruk juga, setidaknya mereka bisa mengimbangi.
"Pak Arton!"
"Hmm?" Fokusku teralihkan oleh panggilan dari bocah berambut hitam yang jangkung. Matanya agak lain, berwarna merah darah seperti vampir. Kulitnya pun sangat pucat, ketahuan sekali kalau dia adalah seorang nolep yang tidak pernah keluar rumah.
Tapi, dia cukup pintar. Saat menjawab soal dariku, dia tidak ragu untuk menulis rumus yang ada dan jawabannya benar. Kemudian, badannya yang jangkung, dan tubuhnya yang entah kenapa tapi memberi kesan kekar, membuatku agak sedikit bingung. Satu lagi, lihatlah senyumnya yang menyebalkan. Senyumnya itu ... memberikan kesan yang memancing orang-orang untuk memukulnya. Tanpa skill [Provoke] pun orang ini tanpa ragu akan dihajar duluan. Dia adalah Alan Lexius.
"Ada apa?"
"Pak Arton, apa aku boleh bergabung?"
Pertanyaan itu seperti listrik kejut. Aku sempat bingung dengan ucapannya.
"Kau ... yakin?"
"Yap!"
Seorang pemuda yang memiliki job Poison Alchemist, yang sangat pintar namun mukanya menyebalkan. Sekarang, dia ingin ikut dalam latihan? Apa yang dipikirkan oleh anak muridku yang baru ini? Bagaimana dia bisa bertahan dengan tubuh yang dilemahkan dengan kebiasaan nolep itu?
"...baiklah, lakukan apapun yang kau mau. Aku tidak peduli juga," kataku.
Terserah dia saja lah, jika dia mau ikut dengan kepercayaan diri yang besar itu, maka aku akan membiarkannya. Toh, mungkin dia akan kena mental.
Sebelum dia terjun ke lapangan berbahaya itu, dia melakukan sedikit perenggangan. Tak lama, ditangannya muncul sesuatu seperti...
'Vial?'
Alchemist, seperti biasa, mereka tidak bisa tidak mengandalkan vial. Itu ciri khas mereka, dan memang untuk melewati berbagai rintangan, mereka harus menggunakan skill mereka. Tapi, aku penasaran, bagaimana cara Alan Lexius menggunakan vial-vialnya untuk melewati rintangan pertama.
Ngomong-ngomong, kecepatan tangannya sangat cepat. Orang awam tidak akan bisa melihat kecepatan tangannya. Dia seperti pesulap profesional. Alan kemudian juga membuka tutup vial-vialnya dengan cepat. Anak ini memiliki persiapan yang matang;dia bahkan sampai belajar trik tangan pesulap. Namun, hanya itu saja belum cukup. Aku jadi penasaran, langkah apa yang akan dilakukannya.
Tiba-tiba, dia tersenyum. Alan tiba-tiba melihat kearah ku. Senyumnya seperti ... dia seperti bisa membaca pikiranku dan melihatku dengan senyum yang menantang. Sebenarnya, apa yang dia pikirkan?
***
POV Alan.
Pak Arton sangat meremehkan ku ya? Memang konyol sih jika seorang Alchemist tiba-tiba meminta untuk ikut masuk kedalam medan perang. Namun, aku ini berbeda. Aku ini haus darah!
Dengan vial angin, aku mulai berlari. Lebih tepatnya, aku seperti sedang berlari di udara, seperti ninja! Tantangan pertama bukanlah masalah bagiku!
Dengan cepat melewati tantangan pertama, aku menyiapkan vial kedua. Bukan untuk digunakan pada tubuhku, tapi untuk diledakkan.
Peluru-peluru karet itu dengan cepat datang padaku, tapi sayangnya, aku sudah melempar 5 vial mudah meledak yang sudah ku isi dengan mana tidak jauh dari punggungku sendiri. Apa yang terjadi jika sebuah vial mudah meledak diisi dengan mana dengan jumlah yang berlebih? Yes...
*BOOM!
Tertawa seperti orang gila, aku melesat karena terkena daya ledak yang kusebabkan. Punggungku masih baik-baik saja karena aku sempat menggunakan vial es untuk menahannya. Kemudian, dengan vial angin, kecepatan ku ditingkatkan hingga 2 kali lipat! Dengan mudah, aku meninggalkan beberapa murid lainnya, dengan sangat mudah!
Aku sempat melirik kearah Pak Arton. Masih dengan ekspresi lesu, tapi matanya terbuka dengan lebar. Aku menikmati hal itu.
Kemudian tantangan ke-tiga. Ini sebenarnya sangat mudah jika aku menggunakan kekuatan asli ku. Tapi aku disini dengan aturan membatasi kekuatanku, hanya sampai pada kekuatan Alchemist saja. Karena itu, mungkin aku akan sedikit kesulitan disini.
Untuk mengantisipasi jebakan yang datang, yang perlu ku gunakan adalah vial es dan tentu angin. Vial angin disini adalah yang paling berguna karena membantu pergerakanku untuk menjadi lebih cepat. Sedangkan, vial es ini tentu saja ... aku tidak perlu menjelaskannya, 'kan?
Begitu aku menginjakan kaki di tantangan ke-tiga, disinilah hal yang berbahaya dimulai.
Sring!
"Alex, Norga, Cindy!"
Aku segera membekukan jebakan yang menghalangi mereka dengan mudah. Mereka sangat terkejut dengan kedatanganku.
"Kak Alan?"
"Lah, kok?"
"Bagaimana bisa?"
"Jangan hanya bengong, lari!!!"
Aku mungkin terlalu semangat sehingga aku langsung meninggalkan mereka untuk pergi ke tantangan ke-empat. Aku juga meninggalkan anak-anak yang lain, membuat mereka terkejut bukan main. Bahkan Zoel juga ikut terkejut dan berteriak-teriak tidak jelas.
Dan, tantangan ke-empat. Ada dua orang, yaitu Johan dan Via. Mereka sedang bekerja sama untuk memecahkan soal itu, atau mungkin, lebih tepatnya jika Via yang berusaha lebih keras. Dinding yang harus dipecahkan dengan menjawab pertanyaan matematika dan akan terbuka selama satu menit. Jika sudah datu menit, dinding itu akan menutup lagi dan muncul soal yang baru, menyebalkan sekali, 'kan?
Saat kulihat soal yang ada. Ini ... gampang.
"Minggir!" Secara kasar, aku mendorong bahu mereka. Tidak terlalu kasar juga sih. Kemudian, aku mengetik jawaban yang ada dalam pikiranku.
*pip*
Penghalang yang ada langsung menghilang. Aku tanpa basa-basi langsung berjalan maju. Johan dan Via mengikuti dari belakang.
"Alan? Kenapa kau ada disini?" tanya Via padaku.
"Hanya gabut saja."
"Gabut? Kau menyia-nyiakan kesempatan untuk melewati kelas pertarungan karena gabut!?"
Via cukup terkejut, dia terlihat tidak terima. Aku hanya bisa tertawa pelan.
"Kau ... Bagaimana kau bisa sampai kesini, Alan?" tanya Johan.
"Dengan beberapa trik."
Aku menjawab sesingkat mungkin, aku tidak akan memberi mereka jawaban yang jelas, supaya lebih terkesan misterius. Begini-begini, aku punya sedikit jiwa chunibyo.
Johan memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Yang menyebalkan adalah, aku tidak bisa membaca pikirannya. Jadi aku tidak tahu apa reaksinya. Dia pandai menyembunyikan ekspresinya
Dalam beberapa langkah kaki, kami memasuki tantangan ke-lima. Tiga manekin tiba-tiba terjun dari langit dan menatap kami dengan tajam. Mereka terlihat seperti memperhatikan kami. Sepertinya, mereka ingin meniru cara bertarung kami. Tapi, aku penasaran bagaimana cara dia meniru style bertarungku?
"Alan, bersiaplah! Aku akan melindungimu!"
"Manekin ini mampu meniru gerakan kami dengan sekali lihat, jadi hati-hati! Tetap berada dibelakang kami!"
Via dan Johan langsung menyiapkan posisi bertarung mereka. Johan dengan pedangnya, Via dengan perisai besar dan rapiernya. Bersamaan dengan itu, dua manekin memperagakan posisi yang sama dengan Johan dan Via. Benar-benar mirip. Kemudian, yang satu lagi...
"Eh?" bingung Via.
Johan juga mengernyitkan dahinya dan agak heran. Manekin ketiga mendadak memperagakan kuda-kuda aneh. Seperti hewan buas, tapi kuat, dengan posisi tubuh yang kokoh seperti dinding. Aku sangat mengenal kuda-kuda itu.
"Teman-teman, manekin ketiga bertindak aneh, bersiaplah untuk setiap situasi!" teriak Johan. Dia tidak tahu kalau gaya itu adalah gaya yang berbahaya.
Itu adalah...
'Houman Style?'