
Pada pagi yang indah, Alan Lexius, melakukan olahraga pagi di kamarnya sendiri. Olahraga pagi itu sederhana, dia melakukan 150 kali push up, 150 kali sit up, 150 kali squat jump, dan lari mengelilingi Akademi.
Alan melakukan rutinitas ini sejak jadi Special dan masih melakukannya meski sudah masuk Akademi. Dia melakukan rutinitas ini pada jam 03:30, tidak lebih dan tidak kurang. Tapi ada yang berbeda kali ini. Sebab, ada seorang lagi yang melakukan ini dan akhirnya mereka melakukan joging bersama-sama (kebetulan).
"Kau melakukan ini setiap pagi?"
"Iya."
"Kau tidak capek?"
"aku capek, tentu."
"Tapi kau tidak terlihat seperti itu?"
"...anggap saja aku capek."
Johan Satriaputra, rangking 1 saat tes masuk, penasaran dengan Alan Lexius. Teman barunya ini sangat unik. Pintar dalam pelajaran, kelewat pintar malah. Kemudian saat dia di tempat pelatihan juga. Johan benar-benar merasa kagum. Tapi, rasa kagum itu diiringi dengan rasa waspada. Apalagi, Seraphim menyuruhnya untuk mengawasi Alan karena ada yang aneh dengan tubuhnya.
"Ngomong-ngomong, saat di tempat latihan, bagaimana kau melakukannya?" tanya Johan.
"Melakukan apa?"
"Bagaimana caranya kau bisa sampai game ke-empat?"
Alan berpikir sejenak, langkah kakinya masih sama, tidak melambat atau cepat. Dia kemudian menjawab, "hanya beberapa trik."
"Aku masih belum puas dengan itu."
Tentu saja Johan tidak puas, jawaban Alan sangatlah singkat dan tidak menjelaskan apa-apa menurut Johan. Alan kemudian menggaruk kepalanya, tapi kecepatannya masih sama.
"Itu memang hanya beberapa trik saja. Tidak ada yang khusus. Aku hanya memasukkan mana pada beberapa vial yang menguntungkan ku pada saat itu. Apakah sudah puas?"
Johan sebenarnya masih belum puas, tapi dia juga tidak enak pada Alan karena Alan terlihat bingung bagaimana menjelaskannya. Johan akhirnya mengangguk saja.
Alan tidak tau harus merasa lega atau apa. Teman sekelasnya ini sangat penasaran dengannya. Alan juga tak menduga kalau akan ada siswa yang bangun pagi-pagi untuk latihan pagi. Malah, bisa pas-pasan begini.
"Stamina mu bagus juga, Alan. Kamu selalu olahraga?"
"Errrr, sebelum jadi Special, aku ... berlatih seni beladiri."
"Seni beladiri? Seni beladiri apa?"
"...judo."
Alan tak berbohong, dia memang pernah belajar seni beladiri. Saat-saat itu, dia tertarik dengan seni beladiri dan ingin belajar. Dia belajar judo dan hasilnya, dia babak belur. Waktu itu, mentalnya lemah. Alan tidak kuat dan niatnya langsung hilang begitu saja. Waktu itu merupakan masa-masa suram dari Alan Lexius. Tapi Alan sudah merasa sangat puas, apalagi Alan mendapat seni beladiri yang terlihat seperti sebuah kecurangan.
"Woah, pantas saja. Tapi, manekin waktu itu, sepertinya bukan judo?"
Mengungkit manekin yang mempunyai gerakan yang sangat random itu, Alan harus membuat alasan lagi.
"Kalau itu ... selain judo, aku belajar kick boxing, capoeira, karate, taekwondo, dan beberapa seni beladiri lainnya."
"Oh iya kah? Kau masih bisa melakukannya sampai sekarang?"
"Tidak, semua itu hilang saat aku jadi Special."
"Kalau begitu, kenapa manekin itu bisa meniru kemampuan mu yang dulu?"
"Lah, aku sendiri juga kaget. Aku sempat berpikir kalau manekin itu rusak. Atau malah itu adalah manekin khusus yang meniru berbagai gerakan dari petarung profesional."
"Hmmm, penjelasanmu yang terakhir masuk akal juga."
"Ngomong-ngomong, kau, Via, Nusa, dan Zoel berasal dari sekolah yang sama kan? Apa kalian dekat?"
Johan melontarkan pertanyaan yang tidak seharusnya ia tanyakan. Johan tak sadar, kalau pertanyaan itu membuat orang disebelahnya tersenyum dengan sangat lebar.
"Tentu saja, kami sangat dekat...."
"???"
Jawabannya sangat berbeda dengan nada yang digunakan. Dari nada yang digunakan, Johan tentu tau bahwa Alan sangat bermusuhan dengan mereka.
"...apa masalahmu dengan mereka?"
"....itu bukan urusanmu."
"Kalau Zoel dan Nusa sih aku tidak terlalu heran, tapi kalau Via, masalahmu apa?"
'Malah dilanjutin...'
Alan tiba-tiba berhenti melangkah. Johan pun juga ikut-ikutan berhenti melangkah dan menoleh kearah Alan yang terlihat seperti sedang merenung.
"Kau kenapa?"
"....dengar, Johan! Aku tidak akan mengulanginya dua kali!"
Johan langsung menelan ludahnya. Kata-kata itu terdengar sangat mengancam.
"Aku tidak punya masalah dengan Via, malahan, aku mau berteman dengannya. Tapi, untuk Zoel dan Nusa, mereka adalah musuhku!"
Johan melotot agak tak percaya. Johan berpikir, mungkin masalahnya lebih rumit daripada yang dia kira.
"...sudahlah, ini hanya membuang-buang waktu."
Alan kembali berlari dan meninggalkan Johan dibelakang. Johan pun mengikuti dari belakang. Kali ini, Johan memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa lagi. Suasana menjadi sangat canggung. Setidaknya sampai Alan bertanya balik pada Johan.
"Sedangkan kau, apa hubunganmu dengan Via. Kalian terlihat sangat dekat."
"Ah, kalau soal itu, hubungan kami tidak sedekat yang kau kira. Kami tidak pacaran, kami hanya teman dekat."
"Siapa yang mengira kalian pacaran?"
"Eh?"
Kecanggungan terjadi secara tiba-tiba. Pipi Johan jadi memerah karena hal itu. Alan kemudian terkekeh dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Maaf-maaf, aku cuma bercanda tadi. Aku memang sempat mengira kalian pacaran. Tapi, melihat sifatmu yang.... sedikit tidak peka, jadi agak mustahil."
"Aku tidak peka?"
"Yep."
"Masa?"
"Kalau tidak percaya, tanya saja pada orang lain."
Johan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alan. Akhirnya, mereka berhenti joging mengelilingi Akademi. Mereka kembali ke kamar asrama masing-masing dan saling mengucapkan selamat tinggal, walaupun nanti bertemu lagi.
Mereka membersihkan diri dan menyiapkan diri untuk pergi ke Akademi. Tapi ... Itu masih terlalu pagi....