The Slayers

The Slayers
Chapter 109 (Season 3)



Apa yang akan terjadi jika karakter level satu melawan bos level lima puluh? Sudah pasti akan kalah.


Kalaupun menang, membutuhkan peralatan yang bagus, strategi, dan kelincahan.


Sama seperti mereka berdua sekarang. Yang sedang dikeroyok oleh kuda. Ya, kuda, kuda besar bertanduk.


Kuda-kuda iblis berlarian kesana-kemari doan dengan ganas mencoba untuk menyundul Alex dan Norga.


Alex dan Norga hanya bisa menghindar dengan susah payah. Mereka tak punya cukup kelincahan untuk menghindari sundulan para kuda bertanduk dengan mudah. Apalagi Alex, dia yang paling kesulitan untuk menghindar karena ganjur dan perisai yang dia bawa. Norga juga tak kalah kesulitan karena palu ganda nya yang berat.


Tapi, terkadang Alex dan Norga juga memberi serangan balik. Meski susah untuk mencari kesempatan dalam kesempatan, tapi mereka bisa mengurangi jumlahnya.


"Hahh... Hahh, tinggal 7 lagi, kita pasti bisa!" Ucap Alex semangat.


"Bapak kau bisa! Ngalahin satu aja susah!" Norga berbeda, dia pesimis kalau mereka akan kalah.


"Optimislah, Norga! Mereka tidak kelihatan pintar, jadi kita mungkin bisa mengulangi pola yang sama."


Norga agak tidak setuju, tapi menurutnya itu juga agak layak untuk dicoba.


Para kuda bersiap untuk menyundul, Alex dan Norga bersiap untuk menangkis.


Para kuda mulai maju duluan dengan ganas, mereka memajukan kepala mereka dan mata mereka menyala disertai dengan nafas tidak biasa.


Salah satu kuda menuju kearah Norga. Dengan cepat, Norga menghindar dan menyerang balik, tapi kuda tersebut bergerak kearah lain hingga serangan tersebut meleset.


"Hiyaaahhh!"


Untungnya, Alex bergerak dengan cepat, memegang gagang ganjurnya dengan sangat erat, berlari dengan semangat dan menghunuskan ganjurnya layaknya pahlawan perang yang pemberani.


*JLEB!*


Bagian ujung ganjur menembus daging lunak salah satu kuda. Darah menjadi muncrat dan melumuri tanah.


Alex menarik ganjurnya dengan ekspresi jijik. Bagaimanapun, perasaan saat membunuh untuk pertama kali itu aneh dan menjijikan. Dan juga, Alex berhasil naik level berkat itu.


Disisi lain, Norga yang kesal karena serangannya meleset mencoba untuk menyerang kuda yang lain.


Dia berputar-putar seperti tornado dan secara tak sengaja, kepala dua kuda terkena palu Norga.


Kedua kuda itu tak mati, tapi tumbang. Norga memanfaatkan kesempatan itu dengan memukul dua kepala kuda dengan palunya seperti sedang bermain drum.


Kepala kedua kuda itu hancur dengan sempurna. Norga melihat dua kepala yang sudah hancur lebur itu langsung ingin muntah, tapi dia ingat kalau dia masih dalam pertarungan.


Selama dua puluh menit penuh, mereka melawan sisanya dengan 'brutal'. Mereka tak ada pilihan lain selain melawan mereka habis-habisan.


Kuda terakhir yang tersisa mencoba untuk menghantam Alex. Alex mengangkat perisainya dan menahan serangan kuda itu.


Alex langsung terdorong karena perbedaan kekuatan, karena terdesak, Alex menusukkan ganjurnya ketanah untuk membantunya menahan.


Kemudian, suatu hal yang tak disangka terjadi.


Norga menginjak punggung Alex dan melompat sambil berputar. Pemandangan itu membuat Alex terkejut hebat.


Dengan gerakan yang keren, Norga langsung menghantam kepala kuda bertanduk hingga tumbang.


Tak hanya si kuda bertanduk, Norga juga juga jatuh dan suara *KRAK!* terdengar Kemudian, Alex mengambil kesempatan itu untuk menusuk sang kuda bertanduk dan kemudian menghampiri Norga.


"Norga! Kau baik-baik saja!?"


"Tidak, sepertinya aku patah tulang." Jawab Norga dengan tenang, meski begitu, dalam dirinya dia berteriak sekeras-kerasnya.


"Kau bodoh! Kau saja jarang olahraga dan malah mencoba hal seperti itu! Lagipula kita ini berbeda dengan kak Alan."


"Aku hanya mencoba untuk menjadi keren."


"Keren matamu! Yang ada kau malah patah tulang seperti sekarang!"


Norga terdiam, dia memang menyesal melakukan gerakan seperti tadi. Meski keren, tapi sangat beresiko bagi orang yang jarang olahraga seperti Norga.


Norga berpikir kalau melakukan gerakan seperti Alan itu keren. Tapi Norga sendiri tidak tau kalau Alan sendiri gerakannya sangat tidak normal diantara para Slayers.


Alex mengeluarkan potion dari Inventory. Potion itu berwarna merah, yang lain dan tidak bukan adalah medium Health potion.


Potion itu diciptakan oleh Alan, lebih bagus daripada medium Health potion yang biasanya berkat Grimoire:tale of Alchemist.


Alex membuka tutup botol potion dan mendekatkan ujung botol pada bibir Norga. Cairan tersebut mengalir dan masuk kemulut Norga.


Perlahan, Norga kembali sehat dan bisa bergerak lagi. Mulai saat itu, Norga bersumpah kalau dia tak akan mencoba untuk melakukan gerakan akrobatik sebelum belajar akrobatik pada Alan.


"Oh ya, ngomong-ngomong, kak Alex level berapa?"


"Eh, sebentar..." Alex dengan cepat memeriksa levelnya dan langsung terkejut. "Level 67!" Teriaknya.


"Apa!?" Norga juga terkejut, dia langsung melihat level miliknya sendiri.


"Hei, Norga, menurutmu kita memilih job dulu atau kita selesaikan portal ini dulu?"


"Hmmm, mungkin kita selesaikan dulu."


"Baiklah, ayo!"


Mereka menaruh poin stats mereka masing-masing sesuai diri sendiri. Sesudah itu mereka lanjut berburu dan mungkin juga menantang bos monster.


***


"GRAAAAA!!!" Teriakan monster menggelegar diudara, tapi itu bukan monster melainkan manusia, atau lebih tepatnya Alan.


*GRAAAAAA!!!* Teriakan Alan yang seperti monster disusul oleh auman seekor naga berwarna putih.


Tak hanya satu ekor, tapi banyak naga yang berterbangan di langit.


Saat ini, Alan berada pada lantai 45 yang dimana dia harus berhadapan dengan ras yang biasanya dianggap sebagai ras terkuat dalam sebuah cerita fantasi, yaitu naga.


Dan, mini bos kali ini adalah naga putih yang menguasai elemen angin. Karena itu pertarungan terjadi diatas udara.


Semua naga yang ada mengepakan sayap dengan kuat, mengelilingi Alan, mencoba menyerang Alan dengan nafas mereka.


Tapi, Alan yang seolah-olah sedang menginjakkan kaki di udara, memunculkan sebuah seruling putih dan kemudian memainkannya.


Melodi lembut yang memenuhi langit, membuat angin menari-nari dan berkumpul ditelapak kaki Alan.


Tapi, Alan kemudian memainkannya dengan berbeda. Melodi yang tenang, lembut, dan damai hilang, digantikan dengan melodi yang seolah-olah dimainkan oleh musisi dari neraka. Sangat menyakitkan, putus asa, dan menyeramkan.


Mendengar melodi itu, para naga berteriak, segera menjauhi Alan secepatnya untuk menghindari melodi yang menyakitkan telinga mereka.


Tapi, rencana Alan sudah terpenuhi. Dia dengan cepat mengganti seruling itu menjadi sebuah pedang besar berwarna hijau, tetapi pedang itu langsung berubah menjadi pedang pendek berwarna hijau, hampir seperti belati.


Alan mengangkat pedang itu dan disekitarnya muncul pedang-pedang tembus pandang berwarna hijau.


"[7 book of warlords, fourth technique:witch blade thrust.]"


Pedang disekitar Alan langsung melesat maju, memburu mangsa mereka masing-masing. Para naga tak bisa menghindar, mereka langsung terkena tusukan yang menyakitkan dibagian tubuh mereka. Nasib buruk bagi naga yang terkena dibagian tenggorokan, mata, ataupun langsung headshot. Mereka langsung mati dengan mengenaskan.


Sedangkan naga putih yang merupakan pemimpin mereka, naga putih masih bisa bertahan dengan membelokkan arah pedangnya dengan angin kearah kawannya sendiri.


Sekarang, hanya ada naga putih dan Alan. Mereka bertatapan dengan sangat intens, sang naga berpikir untuk memakan Alan. Sedangkan Alan sendiri berpikir hadiah apa yang akan dia dapatkan setelah mengalahkan naga didepannya. Memikirkan item luar biasa yang akan muncul membuat semangat dalam dirinya menggebu-gebu.


Dengan semangat membara, ia maju dengan kecepatan tinggi, naga putih juga ikut melesat dan membuka mulutnya lebar-lebar.


Dan...


***


"Ada yang bertanya?" Pertanyaan yang sangat wajib diucapkan oleh guru pada murid. Meski para murid biasanya tidak bertanya.


Para murid dikelas tidak menjawab, ada yang menggeleng, dan ada yang asik sendiri.


"Kalau begitu, ibu akan tunjuk salah satu dari kalian untuk mengerjakan soal ini!"


Seisi kelas langsung panik berkeringat dingin, kecuali beberapa anak pintar seperti Via, Grace, dan Rise yang rajin belajar.


Untuk Johan, dia termasuk orang yang panik. Dia adalah orang yang tidak pandai matematika. Yang dia harapkan sekarang adalah untuk tidak terpilih.


"Baiklah, ehm..." Bu Nira, ibu guru yang baik mengajarkan mata pelajaran matematika, melirik anak muridnya yang hampir semuanya panik dan membeku ditempat.


"Ah, Johannes, silahkan maju dan kerjakan ini!"


'Ah, mampus aku...'


Tak mampu menolak, Johan maju dengan pasrah dan hendak mengerjakan soal yang ada dipapan.


Tapi, sebelum ujung spidol hendak menyentuh papan, Johan merasakan sengatan dari energi jahat yang membuat tubuhnya merinding seketika.


Dia melihat kearah kiri dimana dia merasakan hawa tidak enak. Kemudian, dari jarak jauh dia melihat sebuah tangan yang memiliki cakar tajam dan lengan kurus keluar dari tanah.


Dia terkejut dan tanpa memperdulikan perhatian yang tertuju padanya, dia berjalan kearah jendela dan membukanya, mencondongkan tubuhnya keluar dan dengan mata emasnya yang berkilau, dia melihat banyak orang dengan aura jahat sedang bertarung dengan satu wanita dari jauh.


"Johannes, kau kenapa nak?"


"T-tidak apa-apa bu, hanya tadi aku melihat sesuatu yang menarik dil luar, hahaha..."


Ibu Nira tidak bertanya lagi meski alasan yang digunakan itu murahan.


Johan langsung berjalan kearah papan tulis dan dengan sebisanya menjawab.


Hasil akhirnya adalah, gagal total.