The Slayers

The Slayers
Chapter 76 (Season 3)



"Hiiiih!"


Alex berdiri dari kursinya dengan ketakutan. Dia bergetar dengan kuat dan mukanya pucat seperti mayat.


Semua orang yang sedang menikmati makanan, menunggu sambil bermain handphone, berbincang-bincang dengan kenalan, teman dekat dan keluarga, bahkan pasangan yang sedang mesra-mesraan langsung melihat kearah Alex. Norga pun terkejut.


"M-m-m-mata, ada mata!" Kata Alex sambil menunjuk Cindy dengan tubuh yang masih bergetar. Cindy yang sibuk melayani pelanggan pun terkejut dengan teriakan Alex, apalagi Alex menunjuknya


"Hei kak! Kau kenapa sih? Orang-orang pada melihat kesini."


Alex segera menarik Norga dari tempat duduk dan pergi dari warung.


Orang-orang yang melihat hanya terkejut sebentar, dan kemudian langsung mengurusi urusan masing-masing. Cindy juga terkejut sebentar saja dan langsung mengurusi pelanggan.


Terakhir, orang yang menolong Norga dan yang memberi Alex peringatan bergumam kecil.


"Sudah kuperingatkan, tapi masih saja menatapnya dengan aneh, Dasar," Katanya sambil menggelengkan kepala.


Dia kemudian lanjut bermain game di Handphone.


***


"Hei, kak Alex! Kita mau lari sejauh mana sih? Sepeda kita ketinggalan woi!"


"Saat ini, keselamatan nyawa kita lebih penting daripada sepeda kita!"


Mendengar perkataan Alex yang menurutnya sangat konyol. Norga segera Melepaskan tangan Alex dari pergelangan tangannya. Kemudian dia berteriak marah.


"Hei! Kakak kenapa sih? Apa gara-gara kakak menatap Mbak Cindy terlalu lama dan kau malah berhalusinasi yang tidak-tidak!?"


"Kau tak mengerti Norga! Aku tadi melihat mata! Mata seperti mata naga dileher, tangan, pipi, dan lengannya sekalipun muncul tangan!" Kata Alex menjelaskan.


Tapi tanggapan Norga tentu saja,


"Sudahlah, kak. Sepertinya kakak sedang sakit, kau harus istirahat yang cukup dan sepertinya kakak sekarang tidak boleh menatap Mbak Cindy terlalu lama."


"Kau tidak percaya padaku!?"


"Memang siapa yang percaya begituan? Orang gila mungkin percaya, tapi aku tidak."


Alex kesal dengan perilaku Norga, tapi memang hal yang ia jelaskan sama sekali tidak masuk akal. Tapi, Alex berpikir tentang sesuatu dan lanjut menjelaskan.


"Dengar Norga! Tadi kakak itu menjelaskan tentang aku akan ditatap balik kan?"


"Iya, kata kak Alex begitu."


"Nah, maksud dari 'dia' bukan Cindy, tapi sepertinya kata 'dia' merujuk pada mata yang menatapku balik."


"Jadi, kakak itu tau tentang 'dia'?"


"Ya! Karena itulah dia memperingatiku."


"Hmmm, kalau begitu aku percaya."


"Nah, begi- eh? Kau menganggapku gila, padahal kita sudah bersahabat sampai 5 tahun, tapi kau malah percaya pada orang yang satu kali menolongmu!?"


"Ya, bagaimana ya? Orang itu pasti bukan orang biasa. Orang itu juga punya pengetahuan lebih dari kita. Makanya aku percaya."


"Ya, masuk akal sih. Tapi hatiku tetap sakit tahu!"


"Sudahlah kak, lebih baik kita mengambil sepeda kita. Sekalian kita tanya kakak itu."


"Ah benar juga!"


Alex dan Norga langsung lari kembali ke warung Soto Pak Budi. Mereka meninggalkan warung sebelum makan soto mereka, jadi mereka akan kembali ke warung untuk soto mereka. Sekalian bertanya pada orang yang memperingatkan Alex dan membantu Norga.


Tapi, saat mereka kembali, orang yang memperingatkan Alex sudah tidak ada.


"Sepertinya kakak itu sudah hilang," ucap Alex dengan kecewa.


"Yah, setidaknya kita bisa mengambil soto kita, kak."


"Mungkin sebaiknya kita bungkus sotonya."


"Kenapa kak?"


"Aku terlalu malu untuk masuk, kau masuk saja dan katakan bungkus sotonya."


"Enak banget kalau ngomong ya!?"


Tapi pada akhirnya Norga masuk dan meminta untuk membungkus soto yang tadi mereka pesan.


Tak lama, Norga keluar dengan memegang plastik berisi soto.


"Sip, ayo pulang."


"Ayo, sudah jam 4 nih. Nanti malah dimarahi."


Dan mereka pulang dengan naik sepeda.


***


Ling Hua kali ini dalam suasana hati yang sangat baik. Dia sedang memainkan psp dengan senyum riang diwajah cantik mempesonanya.


Walaupun tidak kelihatan serius. Tapi dia berhasil melawan bos dengan sangat mudah. Dia sebenarnya sangat ahli dalam bermain game karena ia selalu menghabiskan waktunya diruangan pribadinya, tertidur disofa besar, empuk dan nyaman berwarna merah tua. Kemudian bermain game yang ingin dia mainkan.


Tiba-tiba, saat dia menang dan menuju stage baru. Seorang laki-laki tinggi muncul dari belakang secara tiba-tiba dan menepuk pundak Ling Hua.


"Kyaaaa!!!"


Ling Hua terkejut dan orang itupun ikut terkejut.


"Hei hei hei, santai woi!"


Orang itu menenangkan Ling Hua sambil menyumbat telinganya


"Sedang apa kau disini!?"


Yang datang adalah Alan, sehabis dia makan di warung Soto Pak Budi, dia berpikir untuk jalan-jalan, tapi akhirnya dia bosan dan mempunyai rencana untuk pergi ke markas Guild Chaos.


Kemudian Alan terkejut saat melihat game yang dimainkan Ling Hua.


"Kau main Noisy Hill?"


"Iya, memangnya kenapa?"


"Woah, aku tak menyangka kau akan bermain game seperti itu."


Noisy Hill adalah game horror dengan monster absurd yang muncul dimana-mana. Game ini terkenal karena sangat menantang dan membuat frustasi. Ditambah lagi desain monster yang absurd, tidak masuk akal, dan sangat menjijikan.


"Aku jarang memainkannya, ini terlalu sulit."


"Mana, sini kubantu kau."


Ling Hua pun menatap Alan dengan bingung dan meremehkan.


"Kau meremehkanku? Heh, aku ini sudah menamatkan game ini 10 kali mode easy, 17 kali mode normal, 24 kali mode hard, 39 kali mode nightmare dan bahkan aku sudah menamatkan DLC nya 41 kali!"


Tatapan Ling Hua semakin aneh. Tanpa Ling Hua berbicara, Alan pun tahu maksud dari Ling Hua.


'Dasar pembohong yang tak tahu malu!'


"Hei, mending aku menunjukannya sendiri padamu."


Alan mengulurkan tangannya didepan wajah Ling Hua dan Ling Hua dengan enggan menyerahkan pspnya.


Saat ada di menu game, Alex tanpa ragu memilih mode Nightmare. Ling Hua langsung terkejut.


"Kau, benar-benar memilih mode Nightmare."


"Sttt!" Alan menaruh jari telunjuknya di bibir Ling Hua.


"Oh ****, bibir mu sangat lembut!" Alan bertujuan untuk menyuruh Ling Hua diam dan memperhatikan, tapi malah kagum dengan kelembutan bibir Ling Hua


"Hei! Apa yang kau lakukan!?"


"Diam dan perhatikan, Nona. Biarkan ahli yang bermain."


"Dasar arogan!"


"Heh, setidaknya rasa aroganku sama dengan kemampuan bermain game ku."


"Sudahlah, palingan kau hanya membu-"


Ling Hua langsung diam seribu bahasa. Alan dengan gesit menekan tombol menembak dan dodge. Dia bermain dengan teliti, karakternya gesit dan akurat. Monster yang terus bermunculan pun tidak diberi kesempatan untuk menyerang.


"Kau... kau benar-benar-"


"Sttt, ini baru permulaan, Nona."


Game dilanjutkan dengan kemunculan bos pertama dalam game.


Tapi itu dikalahkan oleh Alan tanpa kehabisan health sekalipun, meskipun itu membutuhkan waktu.


Semua itu berlanjut hingga bos terakhir yang dikenal hampir mustahil. Tapi Alan juga tidak kehilangan Health sekalipun. Tapi pertarungan berjalan selama 2 jam penuh untuk itu.


"Gila! Bagaimana ada orang dengan skill sepertimu didunia ini!?"


"Heh, ini karena sebelum aku menjadi Special, aku sangat kecanduan main game. Aku pun mecari informasi tentang berbagai bos game, dan mengalahkan mereka semua."


"Meski terjebak lama, tapi skill ku sama sekali belum pudar."


Ling Hua langsung mencengkeram kedua pundak Alan dan berkata.


"Mau bergabung keGuild-"


"Tidak. Aku tidak ingin bergabung denganmu."


Ling Hua pun langsung bersedih. Dia merasa hatinya sakit karena ditolak, sama seperti saat mengungkapkan perasaan pada orang yang disukai tapi kena tolak dan ter-friendzone.


Alan langsung menghibur Ling Hua yang jadi murung dengan mengajaknya main.


"Kau punya plus stesion 6 kan? Kau punya teken 8?"


"Aku punya."


"Kalau begitu ayo main! Kita lihat siapa yang paling banyak menang."


"Ayo!"


Mereka langsung bermain game fighting terbaru. Mereka bermain sampai jam 03:00 pagi tanpa mereka sadari. Dan tentu saja, 50 ronde dimenangkan semua oleh Alan.


"Hoam...."


"Kau sudah mengantuk, Nona?"


"Tentu saja, sudah jam 3 pagi."


"Oh benar juga, kalau begitu aku akan pulang dulu."


Alan berdiri dan memakai jaketnya. Dan tentu saja sebelum ia pergi, ia menepuk kepala Ling Hua yang sedang mengantuk.


'Sial, saat mengantuk, dia bertambah imut!' Kata Alan dalam hati.


"Selamat tidur, Nona."


Dan Alan pun pergi.


Ling Hua langsung naik kesofanya dan tidur nyenyak. Meski dia kalah telak dari Alan saat bermain tadi. Tapi menurutnya, itu sangat menyenangkan. Jarang ada yang bermain dengannya.


Dia menantikan hari esok, berharap ada hal yang membuatnya bahagia seperti tadi.