
Merinding, takut, terancam. Hal itu dirasakan oleh Grace saat ini, disaat tangannya digenggam oleh tangan besar dan kasar dari Derus. Grace berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangannya dari Derus. Dengan perbedaan statistik fisik yang cukup jauh, Grace berhasil melepaskan genggaman tangan Derus.
"Apa yang kau lakukan!?" teriak Grace. Perlahan-lahan ia mundur, sampai badannya menabrak dinding.
"Cewek yang tangguh, bikin tambah semangat nih!" Derus, dengan ekspresi wajah yang semakin lama semakin tak karuan, mendekati Grace dengan perlahan.
"Woi, apa yang kau lakukan, hah?" Salah seorang pria bertanya.
"Melakukan hal yang ingin kulakukan sebelum mati."
"A-apa?" Salah seorang lagi bertanya. Seorang pemuda yang kelihatan seperti kutu buku. "Ta-tapi, ini bukan saat-"
"Diam!" teriak Derus yang jengkel. "Orang-orang seperti kalian ini sangatlah pengecut. Apa salahnya melakukan hal seperti ini, toh, kita semua bakal mati."
"Mati? Tidak akan ada yang mati."
Suara laki-laki yang asing terdengar diantara mereka. Diantara mereka berlima, tidak ada yang punya suara seperti itu.
Menoleh kearah suara yang asing itu, mereka semua melihat satu laki-laki yang berdiri tak jauh dari mereka. Rambutnya perak, dikuncir, dan jabrik. Ekspresinya datar, tapi menatap dengan tajam. Ditangannya memegang dua palu yang ada di masing-masing tangannya.
Dibelakangnya, ada orang-orang yang berlari mengikuti laki-laki itu.
"Kau ... Siapa?" tanya Derus yang agak dikagetkan oleh kemunculan tiba-tiba si pemuda.
"...kau hanya mengingat yang kelihatannya menguntungkan mu, huh?"
"Apa?"
"Aku berdiri didekat kak Alan sepanjang waktu dan kau tak melihatku sama sekali?"
Derus menggeleng. Hal itu membuat sang pemuda yang tidak lain dan tidak bukan adalah Norga merasa kesal.
"Bisa-bisanya aku bertemu dengan bajing*n sepertimu, disini. Sungguh keberuntungan yang buruk."
"Kau tidak pernah diberi pelajaran sopan santun oleh orang tuamu, ya?"
"Bajing*n, aku yatim piatu."
"Sudahi saja bicaranya. Kedua palu ku sudah gatal, ingin menghancurkanmu." Kata Norga dengan dingin.
"Tch, kau berani!?" Derus mengangkat pedang perisai miliknya. Norga tersenyum pahit. Melihat kuda-kuda yang lemah, celah dimana-mana, dan lagi, kepalanya terbuka lebar.
"Perhatikan hidungmu." Ucap Norga, sebagai peringatan. Sayangnya, Derus terlalu bodoh untuk mengerti maksud dari Norga. Sedetik kemudian, Norga melempar palunya yang terbang hingga mengenai tepat pada hidung Derus.
Derus langsung terpental. Berguling-guling ditanah yang agak jauh dari mereka. Derus seketika tak sadarkan diri.
"Tch, pecundang!" Norga mencemooh. Ia kemudian mengambil kembali palunya. Sembari melakukan hal tersebut, Norga menendang wajah Derus sekuat tenaga. Muka Derus sekarang sudah hampir tak terbentuk. Sudah pasti orang-orang tidak akan mengenalinya kecuali melihat kartu identitasnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ina pada Grace yang masih terpatung. Grace langsung tersadar dan mengangguk.
Grace sangat terkejut dengan sikap Derus yang berubah. Ditambah lagi, kemunculan Norga yang tiba-tiba juga membuatnya kaget.
"Terima kasih ... Siapa namamu?" Ina sesudah menenangkan Grace langsung menghampiri Norga.
"Norga."
"Ah, Norga, Nama yang unik."
Biarpun dipuji, Norga tak menunjukan reaksi apa-apa. Norga malah melihat kearah lain, dimana area itu hanya ada kekosongan.
"Norga ...." Grace berniat untuk berterima kasih. Namun, niatnya sendiri menciut karena tatapan tajam dari Norga yang tiba-tiba. Sorot matanya menunjukan kebencian yang jelas.
"...terima kasih." Ucap Grace dengan lirih.
Norga tampaknya tidak peduli dan kembali menghadap kearah lain.
"Kalian semua masih bisa berjalan?" tanya Norga pada semua orang. Karena ada tekanan pada nadanya, semua orang tak berani menjawab tidak.
"Kalau begitu, kita akan lanjut berjalan, sampai kita bisa menemukan jalan keluar!"
Norga mulai berjalan, dan diikuti oleh orang-orang. Semuanya tak punya pilihan lain selain mengikutinya. Melihat Derus yang dikalahkan dengan satu serangan, mereka mengharapkan nyawa mereka pada Norga. Semuanya berpikir seperti itu.
Sedangkan Grace, pikirannya hanya satu, 'dia masih membenciku, ya?'