
'Bagaimana caranya seseorang punya dua status yang saling menindih, ini sangat aneh.' Ku amati cewek itu dengan cermat, berusaha menguraikan statusnya yang tidak jelas dan akhirnya,
'Pertama, namanya adalah Cindy Miria, dan yang lain merupakan huruf abstrak yang tidak kumengerti.'
'Umurnya 16 tahun, umur yang lain adalah tiga tanda tanya. Job nya adalah mage, kata mage bertumpuk dengan kata witch of Colossus, Keren sekali!'
'Statusnya ada yang standar penyihir dimana INT nya mencapai 1000 lebih dengan stats lain yang sangat menyedihkan. Tapi stats lain nya sangat tidak masuk akal, ATK AGI dan INT berjumlah sekitar 3000 dan sisanya 1000 lebih. Ini bukan stats yang dimiliki oleh jenis penyihir.'
Saat aku sibuk kagum dengan statusnya yang tumpang tindih, aku baru menyadari kalau tiba-tiba ada garis vertikal di belakang leher Cindy.
Kemudian, garis vertikal itu terbuka perlahan-lahan dan terlihat bola mata berwarna merah dengan pupil vertikal.
'Asem!, apa-apaan itu!?'
Aku langsung menghadap kearah lain, jantungku masih berdebar kencang dan belum mereda.
'Aku ketahuan mengintip statusnya, apakah dia tahu?, tidak, sepertinya hanya mahluk dalam dirinya yang tahu.'
Aku kembali meliriknya lagi, mata di belakang lehernya sudah tidak ada, dia melayani pelanggan dengan ramah tapi malu-malu.
'Aku penasaran dengan mahluk dalam dirinya, tapi memata-matai cewek itu akan berbahaya. Sudahlah, aku disini untuk menikmati soto, bukan untuk memata-matai sebuah mahluk misterius!'
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya soto yang kupesan dengan nasi putih sudah jadi. Aku langsung memakannya dengan lahap. Benar-benar enak, tidak heran kalau tempat ini selalu ramai.
Beberapa saat kemudian, soto dan nasiku habis bersama dengan es teh manis. Sangat memuaskan untuk makan disini, walaupun sangat ramai dan salah satu pelayannya punya potensi untuk menghancurkan kota.
Dengan rasa puas dihati dan perut, aku pergi dengan jalan kaki dibawah langit yang cerah.
Meski suasana hatiku berseri-seri, aku masih teringat dengan mata itu. Rasa penasaran masih ada dalam diriku.
"Sudahlah, banyak orang yang meninggal karena rasa penasarannya yang kuat," kataku pada diriku sendiri.
Saat aku pulang, aku akan melanjutkan lantai 26-30.
Aku akan menyelesaikan menara itu secepat yang kubisa, dan meraih skill yang membuatku menjadi kuat!
"Tunggulah aku, kalian para pec*ndang!"
Tanpa disadari, aku sudah didepan rumah. Aku segera membuka pintu, berlatih sebentar, dan kemudian melanjutkan lantai 26-30.
...
Dalam gang yang gelap dan sepi seperti kuburan yang punya suasana horror.
Seorang anak kecil sedang ketakutan, celananya basa karena mengompol. Saat ini, dia sedang berhadapan dengan para preman gila, mereka membawa pisau dapur, menculik anak itu dan menjual organnya.
"Jangan takut, nak, jadilah penurut dan jangan melawan!"
Air mata anak itu sudah tidak tertahankan, dia segera menangis sekeras-kerasnya. Tapi mulutnya segera ditutup oleh salah satu penculik itu.
"Sial, sudah kubilang jangan melawan!"
Karena kesal, preman gila itu berniat menusuk perut anak itu dengan pisau ditangannya.
"Hei."
Suara wanita yang lembut dan memanjakan telinga terdengar. Membuat para preman itu menoleh kearah suara itu.
Dan terlihat, seorang cewek muda yang menatap mereka dengan tatapan aneh.
"Siapa k-"
Sebelum bisa menyelesaikan kalimatnya, kepalanya hilang, menyisakan badan tanpa kepala dengan leher yang dipotong rapi.
Segera, perampok yang kepalanya hilang itu terjatuh dan darah mengalir deras dari lehernya.
3 perampok lainnya kaget dan melihat sekeliling sebelum kemudian mereka melihat keatas secara serempak.
Diatas mereka, tepatnya diatas langit malam, ada sebuah lingkaran portal dan dari situ, keluar sebuah mahluk yang sangat besar.
Mereka tak sempat mengeluarkan respon karena kepala mereka juga menghilang secara misterius.
Anak kecil itu ketakutan, dia takut kalau kepalanya yang akan hilang selanjutnya.
Cewek itu masih berdiri dengan tatapan aneh sebelum akhirnya dia berjalan menuju anak kecil itu, berjongkok dan kemudian menepuk pundak anak itu.
"Tenang, dia tidak akan memakan kepala dan badanmu kok, setidaknya begitu."
Sang bocah awalnya bingung, tapi dia segera menyadari, bahwa salah satu dari anggota tubuhnya tidak aman.