The Slayers

The Slayers
Chapter 173 (Season 4)



"Bisa kau ulangi? Aku tak mengerti."


"Serius?"


"Iya, aku serius."


"Ini sudah ketiga kalinya!"


Setelah berkumpul dengan kelompok besar, Alan mau tak mau harus menjelaskan kondisi mereka sebelumnya. Sayangnya, Johan terlalu bingung dengan penjelasan Alan.


"Huff," Alan sudah capek untuk menjelaskan situasinya. Namun, dia masih tetap mengulangi penjelasannya kembali, setidaknya, untuk terakhir kali.


"Jadi, mekanisme labirin ini sangat rumit. Bagian-bagian tertentu memiliki jalan buntu dan bisa dibuka dengan mengalirkan Mana pada dinding tertentu. Dengan begitu, struktur labirin akan berubah secara acak. Membuka jalan lain, tapi secara bersamaan menutup beberapa jalan hingga menjadi jalan buntu."


"Kau juga tau itu, kan?"


Johan merespon dengan anggukan polos.


"Nah, karena seperti itu, berpisah adalah keputusan yang buruk, jadi kami memutuskan untuk bergabung bersama kalian, dengan cara teleportasi."


"Teleportasi?" Mata Johan seketika berbinar.


"Iya, kenapa reaksimu seperti itu?"


"Apakah ada bagian dari labirin yang mempunyai efek teleportasi?"


"Tidak."


Johan seketika kecewa mendengarnya.


"Kalau begitu, kau berteleportasi dengan apa?"


"Rahasia."


Johan sekali lagi merasakan rasa kekecewaan yang berat. Johan juga berpikir kalau itu percuma, sebab yang dia tanya adalah Alan yang sangat tertutup dan misterius. Tapi, Johan berpikir, mungkin Alan akan lebih terbuka karena situasi sekarang ini sedang gawat. Namun, ternyata Alan masih sama, tertutup dan tidak mau membuka mulut.


"Hei, apa yang kalian diskusikan?"


Derus mendadak muncul ditengah-tengah Alan dan Johan. Dengan cepat, merangkul keduanya dan berbisik, "ikutan dong, jangan main rahasia-rahasiaan."


"Hei, dik, temanmu ini sebenarnya kenapa? Cuek banget," bisik Derus pada Johan. Johan hanya bisa tertawa pelan.


Alan adalah orang yang tertutup, tapi, disaat yang sama, dia bisa saja berteman dengan orang-orang karena penampilan luarnya yang ramah, dengan senyum yang ceria serta aneh. Tetapi, saat Derus mendekatinya, senyum itu hilang. Wajahnya datar dan secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya pada Derus.


Johan agak mengerti dengan reaksi Alan, karena dia merasakan sesuatu yang tidak baik. Namun, Derus belum melakukan tindakan yang mencurigakan.


"Omong-omong, apakah kalian ada menemukan suatu petunjuk?" tanya Alan.


"Tidak sama sekali, kau bagaimana?" Johan bertanya balik. Alan menggelengkan kepala, membuat Johan kecewa.


Keduanya tak mendapatkan hasil yang memuaskan. Keduanya mulai pusing untuk memikirkan jalan keluarnya.


Disisi lain, ada pihak yang mulai ketakutan, pasrah, dan berpikir untuk mati saja.


"Hei, kapan kita akan keluar?"


"Apakah kita beneran bisa keluar!?"


"Lakukan sesuatu, brengs*k!"


Orang-orang mulai menunjukan kemarahan mereka atas ketidakmampuan para Slayer. Namun, itu hanya karena mereka stres saja.


"Haduh, mulai bertindak tidak masuk akal nih." Ucap Alan dengan nada yang lelah.


Johan berusaha menenangkan orang-orang bersama dengan Slayer yang lain, namun, namanya juga masyarakat. Ketika sudah bersatu, apa yang bisa dilakukan?


Alan hanya bisa menepuk dahinya dan menghela nafas. Sambil melihat keatas dengan kesal. Bersamaan dengan itu, dia menyadari sesuatu.


Diam-diam, Alan dengan cepat mengambil pistol dari Inventory dan menembak langit-langit.


Kerumunan orang dikagetkan dengan suara tembakan itu dan terdiam seketika.


Johan pun bingung dengan tindakan Alan yang tiba-tiba. Namun, tiba-tiba, ada tumpahan cairan berwarna yang datang dari atas. Tumpahan tersebut mengenai wajah Alan yang mengakibatkan seluruh wajahnya ditutupi oleh cairan merah.


Tapi, Alan tak jijik atau menunjukkan reaksi apapun selain tersenyum.