The Slayers

The Slayers
Chapter 148 (Season 4)



Semua yang dikelas, hampir semua, tidak pandai fisika. Bukannya tidak pandai, tapi memang soal yang dituliskan di papan oleh Pak Arton Dennis lumayan berbeda.


Contohnya seperti Johan, salah satu murid dan si rangking satu. Johan memang ranking satu, tapi itu semua karena kerja keras (dan keberuntungan, tentu) sebelum dia memasuki Akademi. Begitu masuk, hilang sudah materi-materi itu dari kepalanya.


Nah, ada juga beberapa anak yang berbeda. Mereka secara alami adalah anak cerdas dan pintar. Misal, seperti Via, Nusa, Nero, El, Risse, Naya, dan beberapa yang lain. Tetap saja, soal kali ini sulit untuk dipecahkan. Sebagai pengecualian, Nusa, Risse, Via sudah mengangkat tangan.


"...tidak ada yang lain?" Tatap Pak Arton kearah para murid yang tidak mengangkat tangan dengan tatapan tajam.


Pak Arton sudah bosan dengan Via, Risse, dan Nusa yang selalu mengangkat tangan. Pak Arton butuh seseorang yang berbeda. Karena itu, Pak Arton memutuskan untuk mengeluarkan umpan.


"Yang mampu menjawab, kalian diperbolehkan untuk tidak ikut dalam kelas pertarungan."


Tetap saja, tidak ada yang bisa, kecuali Via, Risse, dan Nusa. Namun, setelah beberapa detik, sesuatu yang tidak terduga terjadi.


***


Seperti biasa, yang mengangkat tangan adalah aku, Risse, dan Via. Yang lain hanya melongo;melihat papan dengan ekspresi bodoh mereka.


Memang benar, rangking tidak selalu menunjukkan seberapa pintar seseorang. Lihat Johan, ekspresinya bingung tak karuan.


"Yang mampu menjawab, kalian diperbolehkan untuk tidak ikut dalam kelas pertarungan."


"???"


Wow, aku tidak menyangka Pak Arton akan melemparkan sebuah hadiah ditengah-tengah para murid. Kelas pertarungan selalu menjadi kelas yang paling berat diantara para murid. Apalagi jika pengajarnya adalah Pak Arton yang dikenal sinis dan tidak kenal ampun. Para murid selalu berharap kalau mereka bisa melewati kelas itu, setidaknya sehari.


Walau begitu, tidak ada yang berani 'mengambil hadiah' itu. Karena mereka merasa percuma. Setidaknya, aku Via, Risse, dan Alan akan mengambil hadiah itu.


...tunggu, Alan?


Apa yang dia lakukan? Rendahan itu? Dia mengangkat tangan?


"Hooo, kau mau coba murid baru?" Pak Arton langsung menunjukkan ketertarikannya pada Alan. Dia mau cari perhatian?


"Yap, saya mau mencoba!" Wajahnya tersenyum sombong, seperti tidak ada apa-apanya.


Darimana dia mendapatkan kepercayaan diri yang berlebihan itu? Atau mungkin dia sudah gila?


"Kalau begitu majulah, murid baru. Jika jawabanmu salah, kau akan mendapatkan jam pelajaran ekstra."


"Challenge accepted, sir."


Heh! Alan, apakah dia menganggap remeh hal ini? Dia hanyalah seorang Alchemist yang tak mampu bertarung. Tidak mungkin dia bisa melewati pelajaran yang keras ditambah dengan jam ekstra. Dia terlalu memaksakan diri, aku jadi kasihan. Disaat yang sama, inilah saat yang kutunggu-tunggu, dimana aku melihat pecundang itu mempermalukan dirinya sendiri.


Alan sudah berada dipanggung kelas. Sudah tidak ada cara untuk menyerah atau kembali. Dia sudah tamat!


...eh?


***


Soal ini adalah hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Aku sudah belajar materi fisika yang satu ini. Jadi, ini adalah hal kecil, sekecil kacang.


Aku melihat pikiran-pikiran murid lain. Ada banyak reaksi mereka. Kebanyakan menganggap ku sudah gila atau cari perhatian. Salah satu contoh dari orang tersebut adalah Nusa dan Zoel. Mereka juga menunggu untuk melihatku malu didepan panggung kelas dan menerima jam ekstra. Sayang sekali, harapan kalian tidak akan terwujud.


Reaksi yang paling kusukai adalah reaksi milik Via, dia khawatir denganku. Seperti biasa, dia adalah gadis yang lembut dan peduli pada orang-orang disekitarnya.


Satu-satunya orang yang tidak terbaca pikirannya adalah, Johan. Orang itu, seperti ada penghalang yang menghalangiku untuk melihat pikirannya.


Mengesampingkan hal itu, aku menerima kapur dari Pak Arton. Masih menggunakan papan kapur, sangat klasik. Melihat soal didepanku, aku langsung menuliskan rumus dalam otakku tanpa ragu.


Tak, tak, tak, tak, tak...


Suara beruntun dari kapur yang sangat cepat, semua karena aku menulis dipapan kapur dengan sangat cepat. Kecepatan ini sangat tidak biasa dan membuat sekelas ternganga, kecuali Pak Arton. Bukan berarti Pak Arton tidak terkejut. Pak Arton membuka matanya yang lesu secara perlahan. Perlahan dan perlahan, matanya terbuka dengan lebar seiring aku menuliskan rumus dipapan.


Semuanya sudah rapi dan terstruktur. Aku yakin dengan jawabanku. Terima kasih untuk Baphomet yang sudah memberikanku skill pasif yang sangat-sangat berguna.


"Bagaimana, Pak?"


Aku langsung melirik Pak Arton dengan cepat. Pak Arton mengangguk-angguk.


"Kerja bagus, kau diperbolehkan untuk melewati kelas pertarungan."


"Sedangkan yang lain, kalian akan mendapat jam pelajaran ekstra."


Anak-anak murid langsung terguncang dan tidak terima. Tidak maju beresiko, mundur malah dapat jam ekstra. Mereka merasa sangat tidak adil. Hampir semuanya ingin menunjukkan protesnya.


"Aku tidak menerima protes kalian. Daripada protes, mendingan kalian mempersiapkan diri untuk kelas pertarungan sebentar lagi."


"Kuberi waktu sepuluh menit!"


Setelah itu Pak Arton keluar. Rasanya melegakan sekali. Melihat ekspresi pasrah dari anak-anak lain dan menatap diriku dengan penuh kebencian serta iri, aku hanya bisa tersenyum dengan ciri khas ku yang biasa.


Beberapa orang berkata aku punya senyum yang khas. Aku tidak mengerti maksud dari senyum khas itu. Saat kutanya apa senyum khas ku, orang-orang berkata kalau senyumku adalah senyum ramah. Memang ramah, tapi entah kenapa senyum ramah itu bisa membuat orang ngeri. Rasanya seperti senyum dari seorang psikopat, tapi ramah. Aku pun bingung dengan pernyataan itu. Malah banyak yang setuju.


"Hebat sekali kau, Kak!"


"Benar, kakak kelihatan tidak kesulitan!"


"Rasanya seperti dengan kerja kerasku, aku tidak akan pernah bisa menyaingi kepintaran mu, Kak."


Aku langsung dipuji-puji oleh Norga, Alex, dan Cindy. "Jika kalian ingin seperti ku tadi, belajarlah dengan giat."


Memang itu sangat mudah diucapkan. Itu adalah bullsh*t semata. Aku sendiri memang pintar, tapi aku dibantu oleh skill pasif. Jadi itu semua tidak akan bisa tercapai tanpa skill sepertiku. Kecuali dengan bakat dan kerja keras yang menunjang.


"Oh iya, ngomong-ngomong, siapa ketua kelasnya?" Aku sedikit berteriak untuk bertanya.


Seketika, Via mengangkat tangannya.


"Oh, Via rupanya."


Lagi-lagi, seperti dulu, dia jadi ketua kelas.


"Boleh aku pergi ke toilet?"


"Baiklah!"


"Terima kasih."


Setelah mendapatkan izin, aku segera pergi ke toilet. Aku ingin pipis, tapi aku juga memiliki tujuan lain. Jika perkiraanku benar, dia akan muncul sebentar lagi.


Ngomong-ngomong, aku tidak tau dimana letak toilet. Tapi, terima kasih untuk [Eyes of Sage] yang bisa membuatku melihat dari jauh. Setelah melihat dengan teliti, aku menemukannya.


Tidak perlu lama-lama, aku gas saja kesana.


...welp, nih Akademi luasnya memang bukan main. Aku harus berjalan beberapa menit. Dan sekarang aku kesasar ditaman kosong. Ya, bukannya tidak sengaja. Ini sudah ku rencanakan.


"Lagi tersesat ya?"


Suara yang familier, suara yang membuatku tersiksa dulu, suara yang membuatku ingin menampol wajah narsisnya.


"Ya, Nusa, boleh antar aku ke toilet?"


Akan ku hancurkan kau disini, Nusa.