
Pengalamanku dalam menimba ilmu di Akademi. Hari pertama, lumayan menyenangkan. Pelajaran di Akademi cukup mudah, dan diajarkan dengan cukup menarik. Beberapa pengajar sangat baik, tapi ada juga yang lumayan menyebalkan, cuek, dan tegas. Salah satu pengajar yang seperti itu adalah wali kelasku sendiri, pak Arton.
Tapi aku tidak keberatan. Aku bisa terbiasa dengan sikap pak Arton. Kemudian, hal yang membuat aku bersemangat sekolah adalah mereka. Tentu yang kumaksud adalah enam orang yang dulu satu sekolah denganku.
Terkecuali Via, lima orang lainnya sangat kesal melihatku. Juga, masih ada yang tidak percaya dengan kehadiranku. Ekspresi mereka benar-benar mantap untuk dilihat. Dan aku akan melihat ekspresi mereka lagi kedepannya. Aku jadi berpikir, apa yang harus kulakukan pada mereka?
"Huahhhh!"
Pikiranku tiba-tiba pecah karena orang disebelahku mengeluh. Orang itu adalah Norga yang sedang mengacak-acak rambutnya. Disebelahnya, ada orang yang tak kalah stress. Sudah jelas orang disebelahnya adalah Alex. Alex sedang membenamkan wajahnya pada buku tulis didepannya.
Saat ini, mereka sedang mengerjakan soal matematika. Itu adalah pr dari pak Arton. Aku sudah menyelesaikan pr itu terlebih dahulu. Pr itu mudah bagiku. Melihat mereka yang kesusahan, aku beranjak bangun dari kasur dan mengambil buku pr ku dan memberikannya pada mereka.
Mereka tak bisa menahan rasa terkejut mereka. Sebelumnya, saat mereka bertanya padaku tentang pr hari ini, aku berkata aku belum mengerjakannya. Tentu aku berbohong, karena aku ingin mereka berusaha sendiri. Tapi sepertinya pr yang diberikan terlalu sulit bagi mereka. Karena itu aku memutuskan untuk memberi mereka jawabannya. Daripada mereka mengeluh terus.
"Kok ... bukannya Kak Alan belum?" Norga langsung kebingungan dengan tindakan ku.
Alex juga langsung terbengong melihat buku didepannya. Tapi Alex tidak bertanya dan langsung menyalin jawabanku.
"Ahahaha, sebelum kalian ke ruanganku, aku menyelesaikan pr ku."
Norga mengangguk mengerti dan langsung menyalin jawaban dariku. Mereka tidak takut dengan benar atau tidak nya jawabanku. Itu karena aku pintar. Aku pun yakin dengan jawabanku.
"Jangan lupa, kirim jawabannya ke Cindy. Untuk berjaga-jaga jika dia juga bingung." Ucapku.
"Siap, Kak!" Alex kemudian memfoto jawabanku dan mengirimkannya pada Cindy. Tak lama, suara deringan dari hp Alex terdengar.
Sepertinya Cindy sudah membalas pesannya. Bisa dilihat dari muka Alex yang berseri-seri. Dia selalu begitu setiap menerima balasan dari Cindy. Muka itu tidak bisa ia kendalikan.
"Apa jawabannya?"
"Ah, errr, dia bilang terima kasih atas jawabannya. Dia juga lumayan kesulitan, apalagi nomor terakhir."
"Ohhh, baiklah."
Aku kemudian lanjut berbaring santai di kasur. Sambil menunggu mereka menyelesaikan pr mereka, aku berpikir tentang banyak hal. Terutama tentang sampai kapan aku bisa menyembunyikan kekuatanku. Tidak mungkin aku bisa bertahan terus, 'kan?
Tidak mungkin juga Alex bisa melindungi ku secara terus menerus. Apalagi, lawanku adalah lima orang brengs*k yang punya back up dari orang tuanya.
Aku juga punya back up sih. Tapi, aku tidak ingin merepotkan dia juga. Eh, omong-omong, bagaimana kabar dia beserta anak-anak ya?
'Buset, kek udah punya istri dan anak aja dah aku.'
"Selesai!"
"Akhirnya!"
Mereka berdua berteriak dengan lega. Wajah mereka sangat bahagia. Mungkin mereka sangat stress tadi.
"Ngomong-ngomong, apa yang akan kita lakukan setelah ini, Kak?"
"Entahlah...."
Ruangan mulai hening. Memang, tidak ada yang bisa dilakukan. Aku tidak bisa berlatih disekitar sini. Banyak kamera pengawas yang dipasang. Aneh jika aku, seorang Alchemist, terlihat melatih fisikku. Itu tidak seharusnya terjadi.
Kalau begitu, apakah aku harus cari informasi mengenai murid-murid disini? Bai-
Tiba-tiba, Alex memecahkan keheningan diantara kami.
"Kak Alan, kak Nera itu ... jobnya apa?"
Akhirnya pertanyaan itu sudah muncul. Mungkin dia kepikiran dengan hal yang tadi.
Soal jobnya, apa ya yang kulihat tadi ... oh, aku ingat!
"Toxic Charmer."
Keduanya langsung terkejut. Job itu terdengar aneh. Tapi, fakta tidak bisa dihindari;dia adalah wanita beracun.
"Senjata miliknya adalah cambuk. Tipe petarung jarak menengah yang menyebalkan untuk petarung jarak dekat. Kau harus hati-hati dengannya, Alex."
"Apa maksudnya, Kak?"
"Jadi ... begini, cambuk adalah senjata yang menyebalkan. Karena itu membuat musuh tak bisa mendekatinya. Setiap berjalan satu langkah untuk menyerang, pasti akan terkena lima atau lebih cambukan.
Cambuk itu cepat dan mematikan. Ayunan acak bisa membuat orang ketakutan karena kecepatan dan rasa sakit yang diberikan. Cambuk sendiri bisa memberi trauma pada beberapa orang karena itu."
Alex langsung meneguk ludahnya. Dia harus mempersiapkan badannya untuk bertahan dari cambuk kali ini. Ngomong-ngomong, aku tahu ini karena aku melihat skill-nya.
"Terus, dengan empat yang lain bagaimana, Kak?"
Norga tiba-tiba bertanya tentang empat lainnya. Rasa penasaran muncul diwajahnya, Alex pun ikut penasaran dengan empat lainnya.
"Kalau begitu, aku akan mulai dari Nusa. Dia adalah Assault Grappler. Seperti namanya, dia berbahaya jika sudah dekat denganmu. Dia akan menangkap anggota tubuhmu dan mencengkeramnya dengan sangat kuat. Paling-paling kalian akan dibanting, dikunci, atau mungkin diremukkan."
Kali ini, mereka berdua meneguk ludah secara bersamaan. Memang, teknik grappling sangat mengerikan. Teknik seperti itu bisa membuat orang lumpuh.
"Kemudian, Zoel, orang yang paling kasar diantara mereka semua. Dia juga yang paling bodoh. Jobnya itu chieftain. Sesuai dengan namanya, dia adalah seorang yang suka menjadi pemimpin. Dalam pertarungan kelompok, dia akan sering menjadi pemimpin. Zoel juga petarung handal yang agresif dan kasar."
Semua ini berdasarkan pengamatanku dan hipotesis ku saja. Tapi kemungkinan besar ini benar. Dari namanya saja, sudah menunjukan sifat dari jobnya.
"Kemudian, ada Rio, cowok yang kalian lihat dikantin. Jobnya Expert magician. Aku kurang tau bagaimana cara dia bertarung. Tapi dugaanku, dia bertarung dengan trik sulap yang membingungkan dan penuh tipuan, itu intinya."
"Kemudian, terakhir, ada Lara. Cewek twintail yang kalian lihat dikantin. Jobnya adalah sniper. Terdengar lebih sederhana dibanding yang lainnya kan? Tapi sebenarnya ini yang harus kalian waspadai. Matanya, dia bisa melihat sampai jarak yang jauh. Untuk selebihnya, aku tidak tahu."
Setelah itu, mereka mulai mencerna informasi yang ada. Ruangan kembali hening. Aku pun juga berpikir. Bagaimana aku harus membalas dendam ada mereka. Mereka pasti waspada, 'kan?
...sudahlah, mending aku tidur saja. Aku harus bersiap untuk hari esok.
"Kalian berdua, kembalilah ke kamar kalian. Kalian juga harus istirahat."
""Oke Kak!""
Mereka kemudian keluar dari kamarku dan menuju kamar masing-masing. Aku kemudian mengunci kamarku dengan rapat dan mematikan lampu. Sekarang, ruangan sudah gelap. Aku suka ini.
Aku kemudian terbaring di kasur dan hendak tidur. Tapi, pikiranku menahan rasa kantukku. Aku jadi tidak bisa tidur.
"Hahhh ... dasar, overthinking..."