
"Kalian masih belum menemukannya!?"
Pria paruh baya berusia 39 tahun berteriak kepada ara bawahannya dengan ganas. Di mansion mewahnya saat ini, dia seperti orang gila saat ini sebab darah daging yang sangat ia sayangi sedang menghilang.
Seharusnya orang tua tidak perlu khawatir jika anaknya belum pulang saat itu. Tapi dia mendapatkan kabar bahwa anaknya menghilang. Dia langsung mengerahkan banyak Slayer bayaran untuk mencari anaknya.
Saat pria itu mondar-mandir sedangkan istrinya duduk disofa sambil menggigit jari, pintu ruangan digebrak secara tiba-tiba oleh pelayannya sendiri.
"Tuan! Tuan muda ada dipintu gerbang utama!"
Kabar baik tersebut membuat mereka langsung ceria kembali dan membuat muka mereka penuh dengan senyuman.
"Segera bawa anak itu masuk!" sang Istri berdiri dari tempat duduknya dan memberi perintah pada si bawahan. Namun si bawahan terlihat agak enggan, bisa terlihat dari wajahnya.
"Tapi Tuan, ada beberapa orang tidak dikenal yang bersama dengan tuan muda."
Keduanya pun kebingungan dan cemas. Apakah mereka adalah orang yang meminta uang penebusan dengan menculik putra mereka? Pikir keduanya.
"Mereka bilang, mereka ingin berbicara dengan anda, Tuan!"
Sang Pria mendecakkan lidahnya dan merasa kesal. Tidak punya pilihan lain, sang Pria memerintahkan bawahannya untuk membuka gerbang utama.
Diluar gerbang utama, empat manusia dan satu hewan buas sedang menunggu untuk dibukakan gerbang. Ekspresi mereka terlihat kelelahan, tapi hanya satu orang yang punya senyum di wajahnya, itu adalah senyum ceria.
***
"Akhirnya dibuka juga gerbangnya."
Aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur dirumah. Tapi, saat-saat ini membuatku bersemangat. Aku bisa bertemu dengan orang yang sangat penting malam ini. Semua berkat bocah biad*b pembawa keberuntungan satu ini.
Saat kami menginjakkan kaki kami dihalaman super mewah ini, kami tidak bisa tidak terkejut. Bagaimana tidak? Alex, Norga, dan Cindy adalah orang yang berkecukupan, tapi mereka tak hidup dalam kemewahan. Sedangkan aku, aku memang kaya, tapi aku tidak menggunakan uangku untuk hidup seperti orang kaya sungguhan. Aku merasa aku sudah cukup hidup seperti itu.
Tapi melihat mansion satu ini, apakah aku harus membangun mansion pribadi? Mansion ini sangat memanjakan mata, ditambah dengan cahaya yang nampak dibalik kaca-kaca bening, bukankah ini terlihat sangat indah?
"Hey, bocah."
"Y-ya?"
"Berapa harga mansion satu ini?"
"Lebih tinggi dari harga dirimu."
"... Janc*k."
Sabar, anak ini adalah jackpot. Kalau aku menyakitinya sekarang, di mansion keluarganya, kehidupanku yang damai akan hilang dalam sekejap.
Kami setelah melalui taman yang indah meski malam hari, kami masuk kedalam mansion dan masih disambut oleh keindahan. Lama-lama aku memandang, aku jadi muak dengan keindahan ini. Lukisan absurd yang dipajang, satu lorong yang dipenuhi dengan patung atau barang mudah pecah, dan satu hal yang paling mengganggu adalah lampunya yang sangat terang.
'Kayaknya memang kesederhanaan dan tempat yang gelap adalah yang paling cocok untukku.'
Setelah melewati lorong yang panjang dan bercabang, kami akhirnya sampai didepan pintu yang terbuat dari kayu, dipahat dengan motif bunga yang indah. Orang satu ini suka yang estetik, huh?
"Silahkan masuk."
"Baiklah, terima kasih sudah mengantar kami~"
Setelah itu, kami langsung masuk. Ada dua orang didalamnya, satunya pria dan satu lagi wanita, pasti itu adalah Tuan dan Nyonya Purnomo.
"Papa! Mama!"
Reza yang berdiri disebelahku langsung berlari menuju kearah orang tuanya.
"Baby ku!"
Welp, meski panggilannya agak aneh bagiku, tapi adegan ini menghangatkan hatiku. Aku jadi teringat masa-masa saat ayah dan ibu masih hidup, dan saat-saat dimana aku diasuh oleh paman dan bibi. Aku benar-benar kangen masa itu.
"Senangnya, andai aku punya orang tua seperti itu."
"Hmm?"
Aku kaget tiba-tiba Norga berbicara seperti itu. Kalau diingat-ingat, Norga adalah anak yang tidak diinginkan. Lahir diluar kawin, ibunya menitipkan Norga pada pamannya dan akhirnya tumbuh bersama paman dan sepupunya. Aku cukup kaget saat dia bercerita seperti itu. Untung pamannya bisa membesarkan Norga dengan baik.
Satu lagi, untungnya dia tumbuh menjadi anak yang cukup ceria, meski dia blak-blakan dan kadang pertanyaan yang dilontarkan tidak tau waktu atau tempat.
"Sampai kapan mereka akan berpelukan?" Alex mulai merasa tidak nyaman dan ingin pulang. Aku juga, tapi aku harus menyelesaikan urusanku disini.
"Biarkan mereka menikmati momen ini, Alex. Momen seperti ini adalah hal yang indah untuk dilihat dan dirasakan." Cindy kemudian membalas perkataan Alex. Alex langsung menganggukkan kepalanya dengan serius. Dasar, anak satu ini memang bucin.
Setelah beberapa menit menatap momen harmonis ini. Sang Pria akhirnya sadar dan berdehem.
"Maaf membuat kalian menunggu, rasanya tidak sopan ...."
"Tidak apa-apa, melihat keharmonisan kalian itu menyenangkan hatiku. Tapi memang, kalian kelamaan." Kataku dengan sedikit blak-blakan.
"Ahaha ... Maaf. Sebelum itu, kalian siapa?"
"Kami hanyalah anak muda biasa yang tidak sengaja melihat putramu diculik."
"Diculik oleh siapa!?"
"Necron."
Ketika kata 'Necron' keluar dari mulutku, si Pria langsung mengepal tangannya dengan erat. Ekspresinya menjadi panik tak karuan.
"Kalian tidak diikuti, 'kan?" Pria ini bertanya dengan khawatir.
"Aku jamin kita tidak diikuti."
Sejenak, orang itu merasa lega. Namun orang itu kembali dalam ekspresi serius.
"Karena sudah membantu mengembalikan anakku, berarti kalian ada orang-orang yang hebat, tapi aku tidak tau siapa kalian?"
"Kami memang tidak terkenal."
Orang ini sepertinya curiga pada kami, memang kami terlihat mencurigakan sih. Bagaimana caranya anak muda seperti kami bisa menghadapi Necron?
"Tenang saja, Necron yang kami temui itu berlevel rendah, meski ada satu yang bertingkat tinggi, tapi kami berhasil kabur. Tolong percayalah pada kami."
Aku hanya berharap orang ini percaya dengan kata-kataku, jika tidak, maka kesempatanku habis sudah. Ini akan jadi kesempatan sekali seumur hidup.
"... Baiklah, aku percaya padamu."
"Terima kasih banyak, Tuan."
'Berhasil!'
"Kalau begitu, mari kita duduk dulu, tuan dan nona."
Orang ini sudah mulai melunak, aku dengan senang hati duduk disofa yang empuk ini. Tapi, Norga tentu lebih dulu dibandingkan aku, seperti biasa, malunya hilang ditelan bumi.
Sofa ini sangat lebar, cukup untuk diduduki oleh empat orang. Bahkan dengan badan kekar milik Alex, masih ada banyak ruang tersisa untuk duduk. Sang Pria juga duduk disofa luas disebrang kami, sedangkan istri dan anaknya keluar dari ruangan ini.
"Pertama-tama, aku akan perkenalkan diri dulu."
"Namaku adalah Rega Purnomo, kepala sekolah Akademi Slayer Indonesia."
Begitu selesai memperkenalkan diri, Alex, Norga, dan Cindy menjatuhkan rahang mereka. Mereka tak bisa menahan kejutan yang datang, tapi aku berbeda. Aku masih dalam senyum khas milikku. Aku sudah tau tentang siapa orang tua anak ini ketika dia menyebutkan nama orang tuanya.
"Kalian sangat terkejut ya? Hehehe ... Kalau begitu, siapa kalian?"
"Aku Norga Garrison, seorang Blacksmith!" Norga memperkenalkan diri terlebih dahulu dengan percaya diri.
"Aku Alex Dwisatya, seorang Beast Rider."
"Oh, jadi serigala besar ditaman itu peliharaan mu?"
"Iya, itu benar."
Rega menunjukkan ketertarikan pada Alex. Mampu menjinakkan Direwolf berukuran besar memang menakjubkan.
"Saya Cindy Miria, seorang mage."
"Aku Alan Lexius, Alchemist." Aku memperkenalkan diri dengan acuh tak acuh, aku tidak sabar untuk mendapatkan imbalannya.
"Hooo, kalian berempat merupakan anak muda yang unik."
"Terima kasih." Ucap Cindy.
"Kalau begitu, langsung saja, apa yang kalian inginkan?"
Begitu ditanya, semuanya tak menjawab. Ruangan malah menjadi hening seketika.
'Apa-apaan? Kukira kalian punya banyak permintaan.'
Aku ingin mengusap wajahku saat melihat mereka yang bingung dengan permintaan mereka.
Kalau begitu, aku akan mulai dulu.
"Kau akan mengabulkan permintaan kami kan?"
"Iya."
"Apapun itu?"
"Iya."
"Kalau begitu, sederhana saja, jadikan aku murid di Akademi Slayer Indonesia."
Ruangan itu menjadi hening lagi. Orang itu nampak agak terkejut. Ini memang tujuan awalku kesini. Ketika aku mendengar kata Purnomo di nama belakang Reza dan mengingat dia dari keluarga kaya, aku tahu kalau Reza bisa menuntunku kemari, dan inilah permintaan ku satu-satunya.
"Bagaimana? Apakah bisa?"
Orang yang daritadi bengong itu mendadak sadar kembali dan berkata, "aku bisa mengabulkan permintaan itu, tapi ...."
"Ada apa?"
"Kau umur berapa?"
"Delapan belas tahun."
Orang itu Kembali terkejut mendengar umurku. Serius, apakah wajahku terlihat setua itu?
"Kau tidak berusia dua puluh tahun keatas?"
"Tidak, aku berumur delapan belas."
'YESSSSSS!'
Saat inilah yang kutunggu-tunggu saat aku menjadi Special. Menjadi bagian dari Akademi Slayer! Dengan ini, aku bisa bertemu dengan mereka dan membalas perbuatan mereka!
"Kalau begitu, yang lain bagaimana?"
Yang lain belum memutuskan apa yang mereka inginkan. Tapi, Norga langsung berkata, "kalau begitu, aku juga sama!"
"Menjadi murid di Akademi Slayer?"
"Iya!"
"Berapa umurmu?"
"Lima belas tahun."
"Hmmm, baiklah."
Aku agak terkejut mendengar hal itu, tapi tidak apa-apa. Aku punya teman didalam Akademi, ini akan jadi menyenangkan.
"Kalau Norga ikut menjadi murid, maka aku juga sama!"
"A-aku juga sama!"
...mereka semua, aku jadi terharu. Aku punya tiga teman yang mendampingi ku, ini membuatku berpikir tentang skenario apa yang akan aku buat saat pergi kesana.
"Jadi kalian berdua juga, ya? Berapa umur kalian?"
"Kita berdua tujuh belas tahun."
"Hmmm, baiklah."
"Kalian berempat, kalian akan masuk dikelas 10-D. Kebetulan sekali ada empat slot tersisa."
"Buset ...."
Kebetulan macam apa ini? Bisa-bisanya tersisa empat slot. Rasanya seperti empat slot itu sudah ditakdirkan untuk kami.
"Sayangnya, kelas ini ditempati oleh rangking satu, dua, tiga, dan enam. Mungkin kalian akan tertekan karena saingan kalian berat."
Empat orang top sepuluh dalam satu kelas? Ini akan menjadi sangat seru.
"Aku tidak keberatan, malah ini akan menjadi sangat menantang, bukan begitu teman-teman?"
Welp, sepertinya yang lain tidak setuju denganku. Mereka memiliki ekspresi takut dan menggelengkan kepala mereka.
"Untunglah, bagaimanapun, mau tidak mau kalian harus memenuhi slot supaya ada keseimbangan."
Kami mengangguk, dan selanjutnya yang ingin kulakukan adalah, "Tuan Rega, boleh aku minta daftar murid?"
"Tentu."
Tuan Rega menekan tombol yang ada pada dinding dan berkata "bawakan aku daftar nama kelas 10-D!"
Setelah 2 menit, ada suara ketukan pintu dan masuklah bawahan dari Tuan Rega, membawa satu lembar kertas berisi nama-nama anak dari kelas 10-D. Bawahannya memberikan kertas itu kepadaku langsung padaku.
Saat aku melihat namanya, aku langsung tertuju pada lima nama. Pertama ada Johan, yang waktu itu dikatakan sebagai ranking pertama ya? Kemudian tentu saja Via, yang merupakan cinta pertama ku. Kemudian ada Nusa dan Zoel.
"Hehehehehehehehehehehe...."
Aku tidak peduli, aku ingin tertawa seperti orang gila sekarang. Kelas ini akan menjadi kelas favorit ku, karena ada cinta pertama dan dua orang biad*b yang paling kubenci.
Mereka memiliki ekspresi ketakutan diwajahnya saat aku tertawa. Sepertinya aku sudahi dulu tawaku.
"Ehem... Terima kasih atas daftarnya."
"I-iya, sama-sama."
"Kapan kami akan masuk?"
Norga mendadak bertanya pertanyaan yang ingin kutanyakan, bagus Norga!
"Kemungkinan bulan depan, tapi itu tergantung kalian."
"Bulan depan? Agustus?"
"Iya. Tapi kalian bisa berdiskusi dan mempertimbangkan kapan kalian mau masuk."
"Aku tidak keberatan untuk itu." Norga langsung setuju.
"Aku juga." Alex pun ikut setuju.
"A-aku juga ...." Cindy juga ikut setuju.
"Kalau kalian setuju, aku juga setuju."
"Baiklah, sudah diputuskan, kalian akan masuk pada tanggal 1 agustus."
"Eh tunggu," ucap Alex tiba-tiba.
"Ada apa?"
"Kami berarti akan ketinggalan pelajaran ya?"
"Ahh..."
Seluruh ruangan langsung diliputi kebingungan, tapi tidak denganku.
"Hei, Alex."
"Ya?"
"Kenapa kau khawatir akan hal itu? Aku bisa mengajari mu!"
Ekspresi Alex kembali terang dan dia jadi yakin kembali. Sedangkan Tuan Rega sepertinya bingung dengan kepercayaan diriku yang terlalu berlebihan.
"Kau ... tau materi dari Akademi Slayer?"
"Tidak."
"Kalau begitu-"
"Hei, begini-begini, aku ini jenius loh! Kau bisa memberikanku materi dari bulan pertama dimulainya pembelajaran hingga sekarang dan aku bisa menghafalnya dengan baik."
Tuan Rega mengernyitkan dahinya, melihat kepercayaan diriku yang melebihi langit. Tapi dia sepertinya tidak terlalu peduli, karena itu adalah urusanku sendiri.
"Baiklah, aku akan memberikanmu materi pembelajarannya dan silahkan nikmati waktu belajarmu."
"Terima kasih banyak, Tuan Rega."
"Kalau begitu, mari sudahi pembicaraan kita."
Kami beranjak keluar dari ruangan ini dan keluar dari mansion. Lyfa yang selama ini menunggu di taman dengan tidur terbangun karena mencium bau kami.
"Ayo Lyfa!" panggil Alex.
Begitu pintu gerbang dibuka, kami langsung pergi meninggalkan mansion.
'Akhirnya ya ....'
"Alex, Norga, Cindy, dengarkan aku baik-baik."
Mendengar kata-kataku yang memiliki nada serius, mereka semua langsung mempersiapkan telinga mereka baik-baik.
"Mulai besok, mari kita leveling mati-matian. Kalian harus bisa menyeimbangkan level kalian disana, level mereka rata-rata dua ratus keatas."
Mendengar itu, mereka jadi gugup. Mulai besok, mereka tidak akan bisa santai dan harus bekerja keras, semua karena akademi.
"Kita juga harus belajar dengan giat, setidaknya kita punya bekal di otak kita saat kita masuk dan kita tidak seperti orang bodoh. Aku akan membantu kalian dengan hal itu."
"Dan yang paling penting, kuatkan mental kalian. Seperti yang dikatakan tadi, kelas itu ditempat oleh empat orang sepuluh besar, jadi persaingannya akan sulit untuk kalian."
Mereka semua mengangguk dengan kencang, itu membuatku tersenyum.
"Sekarang, ayo pulang dan beristirahat. Besok kita akan mulai pelatihannya."
Aku tidak berharap banyak untuk mereka. Setidaknya mereka bisa tahan disana. Mungkin masa-masa disana akan runyam, tapi aku yakin mereka bisa bertahan.
Sedangkan aku, aku akan berusaha juga. Aku akan berusaha untuk membalas perlakukan Nusa dan Zoel. Sedangkan Via, aku akan mencoba menjadi temannya kali ini. Aku tidak akan menaruh rasa padanya, karena aku sudah move on sekarang.
Satu hal lagi, aku penasaran dengan si rangking satu, apakah dia adalah orang yang hebat atau punya sesuatu yang spesial padanya. Aku akan mencoba bersaing dengannya.
Sekarang, aku akan beristirahat....
***
Satu bulan kemudian....
***
"Anak-anak, ada empat murid baru dikelas ini."
Pernyataan mendadak dari pak guru membuat semuanya kaget dan bertanya-tanya bagaimana wujud keempat murid baru.
Apakah perempuan atau laki-laki? Apakah mereka punya wajah yang memikat atau tidak? Apakah mereka itu hebat atau tidak? Semuanya masih misteri.
Johan sangat antusias dengan hal itu, dia berharap bisa menjadi teman dari keempat orang itu.
"Tenang anak-anak!"
Karena keributan yang mengganggu telinga, pak guru menyuruh semua murid tenang. Setelah semuanya tenang, pak guru mulai melanjutkan.
"Baiklah, yang diluar, masuk!"
Dengan teriakan yang keras, pintu perlahan terbuka, dan....
****
Season 3 END
****