The Slayers

The Slayers
Chapter 132 (Season 3)



Saat-saat yang saat menyebalkan saat tidur adalah saat kamu sudah tidur pulas, tiba-tiba kau mau pipis. Betapa mengganggunya saat-saat itu. Sayangnya, Norga mengalami hal tidak menyenangkan itu. Dia mendadak ingin pipis saat dia hampir tidur pulas. Mau tidak mau, dia harus membuangnya.


Saat itu adalah jam 03:00 WIB. Norga sebenarnya enggan pergi ke toilet. Adik kecilnya memaksanya untuk pergi ke toilet mau tidak mau.


Rasanya seperti air yang menabrak bendungan dengan deras hingga mau pecah. Norga langsung pergi kearah toilet secepatnya, menuruni tangga, dan menyalakan lampu toilet. Saat Norga mengeluarkannya, rasa puas memenuhi sekujur tubuh Norga.


Sesudah itu, Norga dengan cepat menaikkan celananya dan keluar dari toilet sambil menekan saklar untuk mematikan lampu toilet. Norga tidak bisa tidak memandang Alan yang sedang tidur disofa. Norga merasa sedih karena Alan belum menunjukkan tanda-tanda sadar.


Norga pun menaiki tangga, dengan langkah cepat tentunya. Dia tidak ingin diluar lama-lama sebab lampu ruang tamu, dapur, dan dilantai dua, semua dimatikan. Norga tentu takut dan selalu terbayang tentang hal yang seram.


Baru menaiki setengah tangga, Norga tiba-tiba melihat lampu dilantai dua menyala. Awalnya dia menduga itu adalah Alex, tapi saat dia melihat kebelakang, lampu diruang tamu dan dapur juga menyala. Saklar lampu ruang tamu dan dapur berada dilantai satu, jadi tidak mungkin Alex bisa menyalakannya, begitu pikiran Norga.


Norga menjadi sedikit merinding, berpikir bahwa ada penyusup disekitar rumah. Tapi Norga berpikir lagi, jika ada penyusup, Lyfa yang berada diluar pasti tau dan menggonggong. Meski sedang tidur, Lyfa masih bisa mendeteksi bau dari orang-orang karena penciuman yang tajam.


'Apa mungkin musuh kali ini punya skill bersembunyi tingkat tinggi? Atau Lyfa sudah dilumpuhkan terlebih dahulu?' Pikir Norga.


Norga, dengan perasaan takut, segera mengintip kejendela menuju taman. Lyfa si Dire wolf masih tidur dengan pulas. Norga juga melihat sekeliling, tidak ada orang atau keberadaan yang mencurigakan.


"Kalau begitu, kenapa bisa menya... la?"


Tiba-tiba, ruangan menjadi gelap. Semua lampu mendadak mati, baik diruang tamu, dapur, dan lantai dua. Norga menjadi merinding, Norga berpikir mungkin rumah ini sedang dihantui.


Lampu kembali menyala, semuanya menjadi terang. Badan Norga bergetar tidak karuan dan segera berlari ketangga. Namun, lampu mati kembali, dan menyala. Mati dan menyala kembali berulang kali. Tanah juga mendadak bergetar pelan. Norga tidak peduli lagi akan apa yang terjadi dan langsung berlari menuju lantai atas.


Sedangkan yang berada dilantai atas. Alex Dwisatya yang sedang tidur dengan pulas tiba-tiba terbangun. Dia membuka mata kanannya sedikit dan segera membuka kedua matanya secara penuh ketika melihat Norga tidak ada dan lampunya menyala.


"Norga, benar-benar ya..." Alex merasa jengkel karena lampu kamarnya dinyalakan dan tidak segera dimatikan. Jika Norga kembali, Alex akan memarahinya.


Namun, tiba-tiba lampunya mendadak mati. Alex kebingungan sekaligus kaget. Alex kemudian berdiri dari kasurnya dan berjalan kearah jendela. Lampu luar milik tetangga masih menyala. Alex kemudian membuka jendela dan melihat keluar. Lampu masih menyala dirumah yang lain. Itu membuat Alex bertanya-tanya mengapa hanya rumah mereka saja yang mati lampu.


Saat sibuk berpikir, lampu kamar kembali menyala, tapi kembali mati. Tak lama, lampu kamar menjadi hidup dan mati seperti sedang pesta.


Alex kemudian berlari keluar kamar untuk melihat keadaan dibawah. Saat dia membuka pintu kamar dan berbelok, dia bertabrakan dengan sesuatu dan keduanya terjatuh. Saat Alex melihat sosok yang menabraknya, ternyata itu Norga.


"Norga, apa yang terjadi?"


"Aku tidak tau! Mendadak lampunya menjadi seperti ini, aku tidak melakukan apapun!"


"Apakah ada musuh?"


"Tidak ada, aku sudah mengeceknya!"


"Mari cek lagi bersama-sama!"


Norga kemudian mengangguk dengan enggan. Alex dan Norga turun kebawa dan berniat untuk mengambil kunci. Mereka takut ada yang mencoba untuk mengacaukan rumah mereka. Namun, perhatian mereka tiba-tiba teralihkan.


Mereka melihat Alan yang tubuhnya kejang-kejang tak karuan. Mereka langsung panik, berpikir kalau ada seorang penyihir atau dukun sakti yang menyantet Alan. Mereka mencoba untuk mendekat pada Alan yang kejang-kejang secara perlahan.


Tiba-tiba, lampu rumah mereka hidup mati tak karuan, lebih dari sebelumnya. Lantai keramik yang mereka pijak juga bergetar. Perabotan rumah, berbagai benda hias, dan lain-lain bergetar hebat. Alan juga menunjukkan tanda-tanda yang aneh.


Dahinya perlahan terukir tanda berwarna merah;simbol berbentuk lingkaran dan terdapat bintang ditengahnya. Itu seperti terukir dengan darah. Membuat Alex dan Norga merasa ngeri.


"GROAAAHHHHHH!!!!" Secara mendadak, seperti binatang buas, Alan tiba-tiba berteriak.


Alex dan Norga reflek saling memeluk sambil ketakutan setengah mati. Bukan tidak mungkin mereka akan ngompol dicelana sebentar lagi. Mereka tambah ketakutan lagi, karena Alan tiba-tiba saja kayang, mencakar sekelilingnya, dan mata Alan yang pupil matanya berwarna merah tidak kelihatan mengeluarkan air mata. Mungkin tidak pantas disebut sebagai air mata, karena itu lebih tepatnya adalah darah.


Bagaimanapun, lampu kelap-kelip seperti disko, goncangan seperti gempa bumi, dan Alan yang mendadak jadi Aing Maung membuat Alex dan Norga hampir pingsan. Mereka berdoa dalam hati mereka. Meski dalam hati, mereka berdoa untuk hal yang sama. Mereka berdoa supaya semua ini berakhir seperti tidak terjadi apa-apa.


"..."


"..."


Alex dan Norga terkejut dan merasa aneh. Bagaimana bisa doa mereka dikabulkan secepat itu? Mereka membuka mata mereka secara perlahan.


Benar saja, lampunya kembali mati. Meski gelap, mereka bisa melihat barang-barang yang berserakan. Mereka mendekati saklar lampu dan menekannya. Saat pencahayaan menerangi ruang tamu. Alex dan Norga langsung melihat kearah Alan. Alan setelah menjadi buas tanpa alasan yang jelas, sekarang seperti tubuh tanpa jiwa. Matanya tidak menutup, memperlihatkan mata tanpa pupil.


Mereka mendekati Alan dengan langkah pelan. Takut kalau Alan akan kerasukan seperti setan lagi.


"...."


"...."


".... AAHHHHH!"


"HWAAHHHH!!!!!!"


"Haah... Haah... Aku selamat?"


***


POV Alan.


Aku tidak percaya ini, tapi aku berhasil melewati itu hidup-hidup. Rasa sakit saat mereka memasuki tubuhku benar-benar sakit. Rasanya seperti setiap bagian dari tubuhku seperti mau meledak. Aku hampir tidak mampu menahannya.


""Kak Alan!""


Alan mendengar suara yang familiar. Pemilik kedua suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alex dan Norga. Mereka melihatku dengan wajah yang ketakutan, apa ada yang salah diwajahku?"


"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan disini? Kenapa semuanya berantakan?" Aku melontarkan berbagai pertanyaan pada mereka. Aku penasaran dengan apa yang terjadi disini.


Mereka menceritakan kejadian horror yang mereka alami. Mulai dari lampu yang mati-nyala secara terus menerus, mendadak ada goncangan, dan aku mendadak seperti orang kerasukan setan?


"What the f*ck?"


"Memang ini sulit dipercaya kak, tapi ini memang benar terjadi! Barang-barang yang berserakan ini buktinya!" Ujar Alex dengan sungguh-sungguh. Norga pun juga mengangguk dengan cepat.


Berarti, apakah proses itu membuat kondisi disini jadi berantakan? Mataku juga terasa sakit dan terasa ada cairan yang jatuh melalui mata dari pipi. Saat aku meraba pipiku, ternyata benar itu darah, sesuai perkataan mereka.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih sudah bercerita. Aku akan membereskan kekacauan ini dulu." Aku beranjak bangun dari sofa empuk dan memungut setiap barang yang berserakan dilantai, kemudian menaruhnya kembali ditempat yang seharusnya. Alex dan Norga juga ikut membantu.


"Kalian tidak kembali tidur? Ini masih pukul 03:20."


"Tidak kak, aku sudah tidak ngantuk." Ucap Alex.


"Kejadian tadi membuat kami shock tau, kak!? Kami tidak akan bisa tidur meski kami mau!" Norga juga ikut menambahkan. Aku hanya bisa terkekeh dan meminta maaf. Siapapun akan takut dan tidak bisa tidur jika mengalami kejadian menakutkan seperti itu.


"Ngomong-ngomong, kak Alan kenapa kemarin tertidur pulas sekali? Dibangunkan dengan berbagai cara pun tidak bisa." Tanya Alex.


"Benar, dan cincin apa yang ada dijari tengah kakak? Kami mencoba mengeluarkannya dari jari kakak. Tapi itu nyangkut seperti hutang yang dibawa mati!" Tambah Norga.


Mereka mencoba melepaskan cincinku? Apa yang bakal terjadi ya?


"Cincin ini?" Tanyaku sambil memamerkan cincin emas nan berkilau dijari tengah tangan kananku. "Cincin ini adalah item yang spesial. Aku tidak bisa memberitahukan detailnya pada kalian karena ini sebuah rahasia. Yang pasti, aku akan memasuki kondisi tidur dan tidak akan bangun kecuali aku mau."


Mereka mengerti dan mengangguk. Aku melepaskan cincin ini dari jari tengahku. Tiba-tiba, cincin ini menghilang, meninggalkan butiran-butiran cahaya kecil


Mungkin cincin itu akan bertemu dengan pemilik yang baru. Statusku sebagai penantang sudah berakhir. Aku sudah mendapatkan semuanya yang ada dimenara. Kuharap, mereka semua yang dimenara bisa hidup tenang.


****


"Kak Alan kenapa makan banyak sekali?" Norga yang berada menatapku dengan terkejut sekaligus kagum. Kali ini aku ada di restoran jepang yang menjual mie pedas. Bersama dengan Norga yang ada disebelahku beserta dengan Alex dan Cindy yang duduk berdua disebrang.


"Entahlah, aku hanya merasa lapar." Memang aku terlihat rakus. Aku sudah memakan 5 mangkok super spicy jumbo chicken ramen. Meski tidak pedas, tapi ini cukup enak. Aku bingung kenapa yang lain pada pada kepedasan?


Orang-orang pada terkejut melihatku. Entah karena aku makan 5 mangkok jumbo sekaligus atau karena aku tidak kepedasan sama sekali saat memakan mie ini? Atau karena dua-duanya? Terserahlah, aku juga tidak peduli.


Setelah makan, aku mengajak mereka bertiga untuk pergi-pergi. Bukan pergi ke portal, tapi ketempat yang menyegarkan. Aku rindu dengan pemandangan bumi. Walau aku disana cuma beberapa jam, tapi disana terasa lama. Aku juga ingin merasakan keindahan dunia.


Saat ini, aku pergi kelapangan luas Hartika, taman yang biasanya digunakan sebagai tempat piknik. Disini lumayan menyegarkan, dengan udara sejuk yang masuk kehidungku, aku menjadi seperti puncak gunung yang dingin.


Alex, Norga, dan Cindy tengah bermain-main di area taman seperti anak kecil. Mereka bermain kejar-kejaran dan saling menangkap satu sama lain. Menyenangkan melihat pemandangan seperti itu.


Ngomong-ngomong, aku belum mengecek statusku. Apa yang kudapat dari mereka ya?


Aku mencoba untuk membuka statusku. Namun tiba-tiba ada suara yang terdengar.


"Hei, bocah." Suara itu terdengar familiar, rasanya aku pernah mendengarnya di ....


"Kau... Kau yang waktu itu berbicara padaku dimenara kan? Yang memberiku kekuatan untuk melawan naga itu?"


"Kau masih mengingatku, untung kau bukan pemuda yang pikun." Ternyata itu benar dia, mengapa dia muncul disini?


"Aku masih muda, tentu aku tidak pikun. Lagipula siapa kau? Mengapa kau bisa membuka kunci dari dua teknik terakhir?"


"Oh ya, aku belum memperkenalkan diriku."


Aku tidak tau siapa orang ini. Tapi tebakanku adalah, orang yang berbicaraku adalah Hum, master beladiri ras Houman.


"Kau pasti berpikir bahwa aku adalah Hum, 'kan? Sayangnya bukan, aku adalah Rhodes, Dewa dari ras Houman, salam kenal, manusia!"