
Di pagi hari, Alan sudah berada dikelasnya. Alan sedang membaca novel yang tebal. Alan datang paling pertama. Selalu begitu, seperti saat dia dulu sma. Datang pagi memberikan Alan sebuah perasaan tenang dan mantap. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada yang mengacau, hanya ada kesunyian yang mendalam. Kesunyian itu membantunya fokus dalam membaca.
Tak lama, seseorang membuka pintu kelas dan ternyata, itu Via Lestari. Via yang baru tiba terkejut saat melihat Alan yang sudah datang terlebih dahulu. Tapi, dia juga teringat dengan sosok Alan yang dulu. Alan selalu datang pertama, dan dia datang setelahnya. Sosoknya selalu senang, tapi juga takut disaat yang bersamaan. Senang karena dia mendapatkan ketenangan, takut karena orang yang membullynya akan datang dan menghajarnya tanpa alasan, seperti biasa.
Sekarang, sosoknya berbeda dengan yang dulu. Sekarang, Alan terasa lebih percaya diri, tenang, tidak ada rasa khawatir atau takut. Juga, tidak ada lagi penampilan yang suram dan tanpa harapan, hanya ada wajah tersenyum yang membaca novel fantasy dengan tenang.
'Wajahnya ... tampan...'
Tanpa sadar, Via terpesona dengan wajah Alan. Alan, yang sadar akan kehadiran Via dan membaca pikirannya, hanya bisa tersenyum pahit.
"Apa yang kau lakukan disitu, Via? Kau tidak duduk?"
Via kemudian sadar dari lamunannya dan mukanya terlihat memerah sedikit. Via kemudian langsung duduk di kursinya.
Selanjutnya, hanya ada keheningan. Keduanya hanya membaca novel mereka masing-masing. Namun, berbeda dengan Alan yang tenang, Via sangat merasa malu dengan kejadian tadi. Dia sampai bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Novel apa yang kau baca?" tanya Alan, tiba-tiba.
"A-a-apa?" Via berbicara secara terbata-bata. Alan langsung terkekeh dan bertanya kembali, "novel apa yang kau baca? Genre romance?"
"Ah, i-iya!"
"Oh- eh, aku sepertinya pernah membaca itu?"
"Benarkah?"
"Oh! Iya, aku pernah membacanya."
"Woah! Tunggu, kau membaca genre romance?"
"Heh, aku ini penikmat hampir semua genre."
Keduanya mulai berbincang-bincang tentang novel, genre yang mereka sukai, penulis favorit, dan langsung mengarah kearah lain. Topik mereka terus berjalan, sampai satu laki-laki membuka pintu.
"Novel ini benar-benar membuatku me-"
Pembicaraan mereka terhenti sebab seorang laki-laki membuka pintu. Laki-laki itu selalu di posisi yang kedua soal datang ke kelas, tapi kali ini dia ada di urutan kedua. Tapi, sayang sekali, hari ini dia berada diurutan ke-tiga.
"Selamat pa- eh?"
Nusa, yang baru saja datang, melihat pemandangan yang seharusnya indah, tapi itu adalah pemandangan yang buruk baginya.
"Halo, Nusa, bagaimana kabarmu?" Yang menjawab duluan bukanlah Via, tapi Alan. Dia melambai-lambai dengan senyum cerah.
Meski senyum itu cerah dan ramah, tapi ada arti dibaliknya, dan Nusa berhasil menangkap pesannya. Senyum itu sebenarnya adalah senyum sinis yang mengejek.
Nusa tak bisa menahan emosinya terlalu lama. Nusa langsung berlari tanpa berpikir panjang. Menapaki meja dan kursi, Nusa melompat hingga berada diatas Alan. Nusa sangat cepat hingga Via terlambat bereaksi.
Alan sudah memprediksi hal ini. Masih tenang dengan buku ditangannya. Saat Nusa melakukan tendangan dan hendak menendang wajah Alan, tendangan itu berhenti, dengan sebuah buku.
"Eh?"
Tendangan yang terlihat epic, dragon kick, dihentikan dengan mudah, dengan sebuah buku!
'A-apa? Itu buku? Novel? Kenapa tendanganku bisa terhenti?' pikir Nusa yang mendadak kebingungan. Keadaan saat ini tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata ataupun nalar.
Alan membelokkan tendangan itu, seketika Nusa langsung mendarat meski hampir kehilangan keseimbangan.
Dengan rasa malu itu, pasti Nusa tak diam saja. Nusa segera menyerang kembali dengan mengayunkan tangannya kearah pipi Alan.
BUK!
"Apa!?"
Lagi-lagi, ayunan itu ditangkis dengan novel biasa.
"Ada apa, Nusa? Kenapa pukulanmu bisa tertahan oleh novel biasa? Pfft!" Alan berbicara sambil menahan tawa.
"Kau, kau-" Nusa tak mampu menahan malunya lagi. Tangan kirinya segera membentuk kepalan dan berniat meninju muka Alan, Sayangnya....
GREP!
Tangan Nusa mendadak dicengkram oleh seseorang, yang tak lain dan tak bukan adalah Via.
"V-via, lepaskan aku! Aku akan menghajarnya!"
Bukannya dilepaskan, malah tambah erat lagi. Merasa tidak akan dilepas, Nusa langsung memaksa, tapi akhirnya terhenti, sebab muka Via sudah berubah.
Alan pun tak berbeda dari Nusa yang terkejut. Ekspresi muka Alan langsung terkejut sambil menganga, tapi, ekspresi itu segera menjadi senyuman yang lebar dan penuh dengan rasa ketertarikan.
"Nusa, sebaiknya kau mulai berubah sekarang! Kau masih sama seperti dulu! Itulah kenapa aku memilih putus dengan mu!"
"V-via, a- aku-"
"Diam! Berhentilah, atau kau akan berduel denganku, satu lawan satu!"
Ekspresi Via sangat menakutkan bagi Nusa, tapi menarik bagi Alan. Mereka berdua tak pernah melihatnya seperti ini. Ini benar-benar pertama kali ekspresinya seperti ini.
Nusa tak punya pilihan lain selain menerima kekalahan. Ia pun pergi ketempat duduknya dan hanya bisa menatap tajam dari tempatnya. Alan balas dengan menaikkan jari tengahnya sambil menjulurkan lidahnya.
Nusa tentu kesal dengan itu, tapi apa dayanya? Via masih mengawasinya dengan mata tajam.
Akhirnya, semuanya kembali seperti semula, murid-murid berdatangan dan saling bertukar kata. Sampai akhirnya, seorang guru masuk. Bukan Pak Arton, tapi guru yang lain. Namanya Pak Zeto. Biasanya dipanggil sebagai orang eksentrik, tak hanya oleh para murid, tapi juga para guru. Sifatnya, agak b*jingan menurut para murid, karena dia selalu menunjuk murid yang kurang mampu dalam kemampuan akademik dan menekannya. Tujuannya tidak diketahui.
"Pagi anak-anak, seperti biasa, buka bu- Ohhh, ada murid baru sepertinya~."
Alex, Norga, dan Cindy meneguk ludah mereka, berbeda dengan Alan yang tersenyum percaya diri.
"Kalian tidak terlihat pintar, tapi aku bukan tipe orang yang melihat seseorang dari luarnya."
Setelah berpikir sebentar, Pak Zeto menunjuk seseorang.
"Kau!"
"Aku?" Orang yang ditunjuk adalah Alan Lexius.
"Ya, kau! Kau daritadi tersenyum dengan percaya diri, huh? Kalau kau merasa percaya diri, coba jawab pertanyaan ku."
"Sebutkan nama dari monster yang punya tanduk yang berisi bubuk mana. Kemudian, monster apa yang tanduknya bisa menghasilkan bubuk mana paling banyak dan murni. "
"Ah...."
Mungkin, bagi anak-anak yang lain, ini adalah jawaban yang sulit, tapi, bagi Alan Lexius, ini adalah pertanyaan sekecil kacang...