The Slayers

The Slayers
Chapter 115 (Season 3)



Darah yang bercucuran di trotoar berhasil menarik perhatian orang-orang yang sedang berjalan-jalan. Orang-orang yang tadi hanya cuek saja sekarang memiliki berbagai ekspresi diwajah mereka. Seperti biasa, pasti ada orang yang merekam kejadian tersebut.


Cindy terkejut dan kakinya lemas. Dia terjatuh dan tubuhnya bergetar saking terkejutnya. Untungnya dia tidak terluka sedikitpun, tapi tidak dengan Alex.


Alex dengan sigap melindungi Cindy dan alhasil, tangannya tegigit.


Taring Lyfa menembus daging Alex, benar-benar dalam dan sakit, saking sakitnya Alex ingin berteriak sekencang mungkin. Tetapi, sebagai cowok yang sedang diperhatikan oleh sang pujaan hati, Alex berusaha bersikap keren.


"A-apa yang kau lakukan!?" Teriak Alex.


Lyfa hanya menggeram dan melempar Alex hingga Alex terpental jauh dan hampir menabrak orang-orang.


Alex kemudian bangun dan menahan rasa sakit yang ada. Dia pun berlari secepat mungkin ketempat nya semula.


Disisi lain, Alan yang sedang bermeditasi dengan tenang, memejamkan mata dan fokus , tiba-tiba membuka matanya.


Mata merah semerah darahnya bercahaya. Dia berdiri dan mukanya tidak menunjukkan senyum sedikitpun. Saat dia berniat untuk melesat pergi, Norga memanggilnya dari belakang.


"Kak Alan, aku sudah selesai!"


Alan langsung menoleh kebelakang, tapi ekspresi nya tidak berubah sedikitpun. Itu membuat Norga yang tadi sangat senang jadi bingung dan agak takut.


"A-ada apa kak?" Tanya Norga dengan suara rendah.


Alan tak langsung menjawab, dia memegang pundak Norga dan berkata "Alex sedang tidak baik-baik."


Norga langsung terkejut, tetapi sebelum dia bereaksi, tubuhnya langsung berteleportasi ketempat umum, disana ada Alex, Lyfa, dan Cindy.


Alan kemudian mengucapkan "Nest!" Dan dalam sekejap, Alan, Norga, Alex, Lyfa, dan Cindy menghilang dari area itu. Orang-orang tak dapat mengikuti apa yang terjadi dan akhirnya kebingungan.


***


"Benar-benar, aku tak akan mengira akan jadi seperti ini." Ucap Alan sambil mengusap wajahnya. Dia mendekati Alex dan mengambil sebuah botol ramuan yang kemudian dia tuangkan ke luka gigit ditangannya. Dengan ajaib, luka itu langsung sembuh.


Saat ini, mereka sedang berada entah dimana. Hanya ada jaring-jaring halus yang membentuk sebuah penghalang.


Alan kemudian melihat kearah Lyfa yang masih waspada, kemudian Cindy yang ketakutan. Tapi, dibalik wajah ketakutan itu, dia tahu kalau ada sesuatu yang sedang senang.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Alan sambil menunjuk Cindy


"A-a-aku hanya lewat dan menyapa A-" Cindy berbicara dengan takut dan gagap. Karena itu, Alan mengangkat tangannya sebagai tanda untuk menyuruhnya berhenti.


"Sudah, lagipula aku tidak terlalu peduli. Yang kupedulikan adalah..."


Alan berjalan mendekati Cindy dan akhirnya mereka berhadapan.


"Keluar kau bangs*t!" Teriak Alan dengan suara ganasnya ada Cindy. Saking ganasnya, itu membuat Alex, Norga, dan Lyfa merinding.


Cindy sendiri bingung dan takut, tapi ekspresi itu segera hilang.


Ekspresinya dari takut, berganti menjadi datar, dari datar menjadi tersenyum. Perlahan, Cindy cekikikan dan itu berubah menjadi tawa yang menyeramkan.


Perlahan-lahan, rambut Cindy yang hitam lebat menjadi semakin panjang seperti akar. Matanya pun berubah, dari hitam menjadi kuning.


Tubuhnya perlahan dililit kayu berwarna coklat dan terbentuk sebuah tongkat kayu yang dipegang olehnya.


"Hehehehe..." Tawa Alan, "Akhirnya kau muncul, nenek lampir!"


"Berani juga manusia sepertimu memanggilku begitu." Kata Cindy, atau lebih tepatnya mahluk di dalam tubuhnya.


"Ini pertama kalinya aku melihat mahluk rendahan mencoba menantangku, menarik."


"Memang kenapa? Kau baru tahu kelakuan warga plus 62?" Balas Alan sambil nyengir.


Melihat ekspresi tenang diwajah Alan, 'dia' semakin tertarik dengan Alan.


"Sebelum aku menghabisimu, boleh aku tahu tujuanmu menantangku?" Tanya nya penasaran.


"Sederhana saja, aku menginginkan material yang ada pada anak buahmu, wahai Witch of Colossus."


Muka nya langsung menggelap setelah mendengar jawaban itu. Nada bicaranya pun berubah setelah itu.


"Kau.... Siapa kau!?"


Alan masih dengan senyum gak jelas miliknya. Dia kemudian menjawab "Jika kau ingin tahu, maka lawanlah aku."


"Dasar!" Mengamuklah dia.


Karena kemarahan nya tersebut, sebuah retakan tercipta diudara tepat dibelakangnya. Retakan itu semakin besar, semakin melebar. Perlahan, sebuah tangan kurus dan tajam keluar. Kemudian diikuti dengan lengan yang seperti lidi dan perlahan setengah wujud dari monster itu terlihat. Sebuah monster raksasa yang kurus, hanya ada kulit, dan kepalanya yang botak dipenuhi dengan mata. Tidak ada telinga, tidak ada hidung, hanya ada mulut dan mata.


Layaknya mayat yang sudah membusuk, baunya benar-benar membuat orang ingin muntah, kecuali Alan yang mukanya malah bersemangat.


"Inikah Colossus? Luar biasa!"


Saat sedang sibuk memperhatikan dan mengagumi mahluk aneh tersebut, Colossus tersebut sedikit membuka mulutnya dan sesuatu yang cepat keluar dari mulutnya, mengincar leher milik Alan.


Tapi, dengan santai, Alan memegang benda yang mengincar lehernya. Ternyata itu adalah sebuah lidah yang tipis, tapi tajam layaknya pedang.


Alan dengan santai memotong lidah tersebut. Setelah itu, Alan menghirup bau yang ada dan berkata "Ah, baunya kayak t*i kambing."


Kemudian, bagian dari lidah tersebut menghilang dari tangan Alan, seperti terhisap oleh sesuatu.


"Walau baunya buruk, tapi kualitasnya bagus juga, seperti yang diharapkan dari Colossus." Ucap Alan, dia semakin semangat untuk mendapatkan material dari Colossus.


"Apa-apaan? Sebenarnya apa tujuanmu!?" Teriak Penyihir itu kebingungan.


Alan tersenyum lebar, seperti psikopat. Dia kemudian berkata "Aku hanyalah seorang Alchemist."


Setelah itu, sebuah pedang muncul dari tangannya, berwarna hijau terang dan pedang itu adalah claymore.


"[Book of Seven warlords, Fourth technique:Soccerer of swords.]"