The Slayers

The Slayers
Chapter 87 (Season 3)



Akademi menyuruh para siswa untuk membersihkan portal secara berkelompok, tentu untuk nilai. Semakin cepat, semakin tinggi nilai yang didapat. Portal yang dikhususkan untuk para pelajar di akademi adalah tingkat hyena.


Kelompok Johan menyelesaikan portal dalam 2 jam. Itu sudah termasuk sangat cepat. Saat kelompok Johan keluar dari portal, para petugas akademi mencatat waktu penyelesaian, tipe dunia, dan siswa harus menyerahkan salah satu bagian monster. Niji mengambil bagian gigi.


"Tadi sangat menyenangkan ya?" Ucap Via, dia merasa senang karena menyaksikan pemandangan epik.


"Yep, tapi melelahkan, aku menggunakan banyak kekuatanku tadi. Ah ya, ngomong-ngomong, mantra apa yang kau pakai tadi, El?"


Johan masih penasaran dengan mantra El tadi, yang lain pun penasaran karena mantra yang digunakan sungguh misterius dan mencekam. Padahal hanya bola api berwarna ungu seukuran telapak tangan, tapi dampaknya begitu mengerikan.


El berhenti berjalan dan menoleh kearah Alan. Johan tidak mengerti dirinya, dia juga tak tahu bagaimana cara El menatap Mereka karena poninya yang menutup matanya.


El kemudian mengangkat tangannya dan tanpa mengucapkan kata-kata apapun atau merapal, dia memunculkan bola api seukuran telapak tangannya. Dia kemudian menunjuk bola api itu.


"....bola api?"


El mengangguk dengan senyum polos.


"... baiklah."


Dia merasa kalau El tidak akan menjawab pertanyaannya. Lagipula dia sangat jarang bicara, bahkan dikelas.


Johan hanya bisa bertanya pada Seraphim.


'Seraphim, kau punya bilang akan memberitahu ku tentang mantra yang digunakan El.'


[Mantra yang warlock gunakan biasanya berasal dari Entitas yang dia kontrak. Dan dewa yang dia kontrak termasuk langka dan tidak masuk akal!]


'Apa maksudmu?'


[Entitas itu merupakan dewa Eldritch.]


'Dewa... Eldritch? Dewa macam apa itu?'


[Dewa Eldritch adalah dewa yang aneh, penuh kegilaan, dan bentuknya menjijikan. Mereka cenderung tidak bisa dipahami sama sekali. Kekuatan mereka juga luar biasa dan aneh. Harusnya, mereka itu tidak tertarik untuk melakukan kontrak dengan manusia, tapi dia berhasil melakukan kontrak dengannya!]


'Hmm, selain Dewa Eldritch, apakah ada dewa yang punya aura serupa?'


[Errr, mungkin Mephisto? Tapi agak mustahil untuk Mephisto melakukan kontrak dengan manusia. Dia hanya suka mengamati. Dia sangat jarang berinteraksi dengan para Dewa, Archangel, Demon, Devil, Beast, Dragon, apalagi manusia, jadi tidak mungkin dia.]


'Kalau begitu, apakah benar-benar Dewa Eldritch? Kau tahu Dewa Eldritch yang mana, Sera?'


[Aku tidak tahu, tapi kandidat paling dekat mungkin *******]


'Hah? Kau bilang Apa?'


[*******]


'Hah? Perkataan mu seperti terhalang oleh sesuatu, aku tak bisa mendengarnya.'


[Begitu ya? Mungkin namanya tidak seharusnya didengar oleh mu.]


'Baiklah, untuk saat ini aku hanya bisa mengawasi El.'


Setelah itu, mereka pulang ke Akademi untuk istirahat di asrama masing-masing.


***


".....ehhhhh!!"


[Selamat, kau orang ketiga yang berhasil membunuh monster meski kau hanya manusia biasa. Itu merupakan pencapaian luar biasa untuk orang sepertimu.]


[Karena itu kau akan diberi hadiah,hadiah akan didapatkan jika kau sudah membunuh 5 monster dari dunia lain.]


[Monster yang sudah dibunuh:2/5]


"Kenapa aku bisa melihat ini? Ini kan layar hologram? Muncul dari mana layar hologram ini?" Banyak pertanyaan dari Alex, tapi segera teralihkan oleh suara yang memanggilnya.


"Kak Alex!"


Norga akhirnya menemukan Alex dan menghampiri Alex. Dia beruntung karena dia tidak menemukan monster. Tapi itu sebenarnya karena Alan yang menghabisi semua monster yang dekat dengan mereka.


"Hei, Norga! Aku mendapat hal yang luar biasa!"


"Hah? Kau juga?"


"Iya. Memangnya kakak mendapat apa?"


"Errr, aku melihat sebuah layar hologram muncul didepan ku secara tiba-tiba entah bagaimana caranya."


"Eh, kak Alex juga?"


"Juga? Kau juga melihat layar hologram?"


"Iya, tulisannya aku adalah manusia biasa kedua yang membunuh monster. Aku disuruh membunuh 5 monster untuk mendapat hadiah kejutan."


"Kau yang kedua? Kau membunuh monster duluan?" Alex merasa tersaingi.


"Iya, apa tulisan punya kakak?"


"Sama seperti mu sih. Kau sudah membunuh berapa?"


"Sudah satu dari lima monster."


Seketika Alex merasa lega dan berbicara dengan bangga "Aku sudah membunuh dua loh!"


Norga terkejut, sangat terkejut. Memang Alex punya tubuh besar dan staminanya baik, tapi membunuh dua sekaligus itu mengejutkan, apalagi dia baru berlatih beberapa jam.


"Bagaimana caranya?"


Alex hampir menjawab, tapi dia mulai kepikiran bagaimana cara dia melakukannya. Kekuatannya memang hampir sekuat orang dewasa. Tapi yang dia lawan adalah monster, aneh jika dia bisa mengalahkan monster sekali tusuk dan tebas.


Mereka hanya diberi senjata itu dan mereka tidak bertanya tentang senjata itu. Senjata yang mereka pakai adalah senjata rank B. Senjata itu cukup untuk membunuh monster diportal ini, yang mana portal ini bertingkat ular.


"Sudahlah, yang penting kita harus mencari cara untuk membunuh monster. Mungkin inilah yang membuat kak Alan menjadi Special di cerita kemarin."


"Betul juga kak, kita harus persiapan dulu, mumpung belum ada monster yang belum muncul."


Norga salah, mereka bukannya tidak bertemu monster, tapi ada monster yang mengamati mereka. Monster itu bersembunyi di pohon yang punya banyak cabang. Kemudian dia menghilang.


"Ayo, kita sembu-"


*Duarrr!


Tidak sempat sembunyi dan berdiskusi. Didepan mereka muncul monster yang mendarat tepat didepan mereka, tanah yang dipijaki pun langsung retak.


Monster itu mempunyai tubuh yang kurus setinggi 243 sentimeter, mempunyai 6 tangan, rambut yang seperti tentakel, tak punya mata dan hidung, hanya punya mulut dan telinga lancip.


Norga dan Alex tidak siap untuk bertarung, mereka bermaksud untuk lari. Tapi mengingat monster itu kurus dan kelihatan cepat, mereka menganggap lari tidak akan berguna. Jadi mereka bersiap untuk bertarung.


Tapi mereka sepertinya terlalu meremehkan kecepatan monster itu. Dengan satu kedipan mata saja, Alex melihat kalau monster itu sudah didepannya, mengangkat tangannya yang memiliki cakar tajam. Dengan satu cakaran saja, nyawa Alex akan tamat.


Tapi mendadak, ada suara tembakan disertai dengan salah satu tangan milik monster itu jatuh.


Suara tembakan terdengar lagi, salah satu tangan jatuh lagi. Itu terus terjadi sampai tersisa dua tangan. Tangan monster itu tidak beregenerasi kembali.


Alex dan Norga sangat terkejut dan bertanya-tanya darimana datangnya tembakan itu. Tapi mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung menyerang.


Sayangnya, monster itu menyadari serangan mereka dan menghilang dari tempat.


Monster itu berada diudara dan melesat kebawah sambil menyerang dengan cakarnya.


Mereka berdua reflek berguling kearah yang berbeda. Monster itu akhirnya cuma menusuk tanah hingga tangannya masuk kedalam tanah.


*Sementara itu ditempat lain.


"Sudah aku kurangi jadi dua tangan nih, semoga mereka bisa mengalahkannya. Menghadapi monster dengan AGI sebesar 1001 itu berbahaya, apalagi untuk manusia mereka bisa membunuhnya."


Dari jauh, Alan memperhatikan dari pohon tinggi. Dia memegang Imperial Hawk miliknya yang dia gunakan untuk menembak 4 tangan milik monster itu.


*Grrraaaa!


Dua ekor monster bersayap terbang kearah Alan. Alan tanpa melihat langsung menembak salah satu monster dan satu lagi di tusuk dengan bayonet dibagian kepala hingga mati.


"... mengganggu.*