The Slayers

The Slayers
Chapter 30 (Season 2)



'…Impossible!'


pemberitahuan yang tiba-tiba ini sangatlah mengejutkan jantungku. Tak kusangka hadiah yang akan sebanyak ini.


"Err,kamu kenapa Alan?,kamu seperti habis menang lotre."


'Anda kakak sepupuku tahu apa yang aku dapatkan,ini lebih dari sekedar lotre!'


"Ehm aku gak papa,cuman…,rindu ama action fi-


Tunggu,bagaimana dengan harem ku!?"


"Harem?,sejak kapan orang jomblo kayak kamu punya harem?"


"Haah~,maksudku komputer,konsol,hp,dan action figure ku!"


"Oalah,ngomong toh,mana ada cowok culun kek kamu punya harem. Hanya ada penolakan untuk…,kita."


"Kita?,maksudmu…"


"…iya."


Ah,meski aku tak melihat wajahnya,tapi aku tahu kalau saat ini dia meneteskan air mata. Nih anak baru nyadar sekarang?


"Sudah lama dan kau baru sadar sekarang?,ayolah,siapa yang mau sama orang gila belajar seperti mu? Aku jadi kasihan sama anakmu kelak. Tidak punya waktu bermain denganmu."


"Hei,mungkin diriku yang dulu tidak punya waktu,tapi karena aku kerja bagai kuda,aku sudah kaya."


"Cih,walau kau sudah kaya,kau masih tidak mengunjungi Indonesia dan hanya video call."


Karena berkata begitu,keheningan muncul hingga beberapa saat. Aku jadi agak menyesal berkata begitu.


"…Maaf."


"Aku juga minta maaf karena bicara begitu. Lagipula Paman dan Bibi tidak marah padamu,melainkan bangga karena kau bisa sukses,meski mereka khawatir akan masa depanmu."


"Apa masa depanku akan seburuk itu?"


"Iya."


Kalian tahu apa yang lucu dari orang ini? Saat Orang ini masih duduk di bangku SMA. Ada sebuah rumor,yaitu siswi rangking 1 dan primadona sekolah menyukai Rendy. Memang Rendy adalah orang yang tampan,apalagi saat memakai kacamata.


Ada dua kubu yang bersaing. Kubu siswi rangking 1,seorang cewek yang memakai kacamata,seorang kutu buku tapi kecantikan nya masih menawan. Kemudian kubu yang kedua adalah primadona sekolah,cewek cantik yang aktif dan berteman baik dengan semua anak.


2 kubu itu selalu bersaing untuk memperebutkan Rendy. Sampai saat itu tiba,semua berubah saat kejadian itu.


""Rendy,kamu mau gak jadi pacarku!?""


""Jangan ikut-ikutan!""


Yes,mereka berdua menyatakan cinta mereka. Dan ini merupakan satu hal yang paling bodoh yang pernah kudengar seumur hidup.


"Bisakah kalian menghentikan pertengkaran tidak penting kalian? Aku tidak menyukai kalian berdua,jadi jangan ganggu aku belajar!"


Setelah mengatakan itu,cewek kutu buku dan primadona sekolah menangis sambil berlari entah kemana.


Sejak saat itu,Rendy dimusuhi satu sekolah. Bahkan guru juga tidak suka dengan sikap Rendy. Anehnya,Rendy bingung kenapa satu sekolah membullynya padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun.


"Kau menolak 2 gadis paling populer disekolahmu. Apakah kau menyesal sekarang?"


"Tentu saja aku,…menyesal. Saat itu aku terlalu bodoh."


"Akhirnya kau sadar,jika kau belum sadar,aku benar-benar akan menonjok mukamu sekarang."


Aku sadar ada sesuatu yang salah. Dia belum menjawab tentang haremku.


"Hei,bagaimana dengan haremku? Kau belum memberiku jawaban."


"Kalau itu sih,tenang aja. Pas aku pulang,aku menjaga rumah kok. Aku meminta bawahanku untuk mengurus semua masalah perusahaan."


"Ah baguslah kalau begitu.'


Kami bicara-bicara sampai akhirnya,kita sampai dirumah.


Aku keluar dari mobil,dan melihat rumahku. Tidak,ini rumah paman dan bibi. Rasanya sangat nostalgia.


"Nah,karena kau sudah pulang kerumah,artinya aku bisa balik ke London,anak buah ku kesusahan."


"Hahaha,terserah. Terima kasih karena telah menjaga rumah."


"Tentu. Oh iya," Rendy mengeluarkan dompet dari saku celana dan mengeluarkan kartu.


"Nih,uang buatmu."


"Untuk apa?,aku masih punya tabungan."


"Tidak apa-apa,terima aja,ini sebagai tanda permintaan maaf."


"Kalau begitu terima kasih." Karena ini tanda permintaan maaf,aku mengambilnya dengan cepat.


"Nah Alan,jaga dirimu baik-baik ya." Kata Rendy sambil menepuk pundakku.


Tapi rasanya ada yang aneh.


"Eh,sejak kapan kau setinggi ini Alan?"


Ah itu dia,aku lebih tinggi dari Rendy,padahal dulu tinggi kami hampir sama.


"Aku tidak tahu."


"Ah bodo amat lah. Yang penting kamu sehat."


Meski terkadang sikapnya menyebalkan,tapi dia masih baik padaku.


"Pakai uangnya dengan baik ya!"


"Tentu!"


Rendy naik ke mobilnya dan meninggalkan ku didepan rumah.


Soal memakai uang dengan baik.


Tentu saja…,aku berbohong.