
"Hoek! ....sialan."
Lantai 49 benar-benar sulit untuk dihadapi, para naga semakin agresif saat menyerang. Mereka sama sekali tidak memberiku celah untuk menyerang. Tapi, tinggal satu lantai lagi, untuk mencapai level yang lebih tinggi. Aku akan semakin dekat dengan tujuanku, dengan janjiku.
"Baiklah, ayo mulai!"
Aku segera berdiri, dengan semangat membara yang ada dalam diriku, aku pergi kelantai berikutnya.
[Lantai 50]
Seperti biasa, aku membuka mataku. Tetapi, pemandangannya agak berbeda dengan yang biasanya. Untuk lantai 41-49 tempatnya ada di udara dengan angin yang liar dan ganas. Kali ini berbeda, aku seperti disebuah gua yang gelap, dingin, dan mencekam. Hanya ada satu jalan untuk pergi entah kemana.
Gua ini sangat luas, dan aku seperti berdiri disebuah altar. Aku berjongkok untuk melihat ukiran yang ada, meski aku tidak mengerti sih. Aku tidak punya ide untuk ini, jadi, aku akan mencoba berjalan kearah kegelapan.
Sebenarnya, aku agak kurang yakin dengan jalan satu ini, karena bahkan dengan [Eyes of sage], aku hanya bisa melihat sedikit penampakan, itupun tidak jelas. Tapi, apa salahnya mencoba?
"Eh? Apa ini?"
Hanya berjalan beberapa langkah, dan bahkan sebelum masuk kejalan yang gelap, aku menemukan tulisan abstrak dilantai. Tetapi, meski abstrak, perlahan tulisan tersebut berubah menjadi bahasa Indonesia. Aku secara tidak sengaja, membaca tulisan dilantai itu.
"Hidup sang raja, hancurlah dunia..."
"Orang gila mana yang membuat kalimat seperti ini? Apakah mereka melakukan penyembahan terhadap dewa jahat atau sesuatu seperti dewa Eldritch?"
Jika memang seperti itu, maka akan melenceng dari lantai-lantai sebelumnya. Tetapi, bisa saja ada naga Eldritch. Kalau ada, gawatlah nyawaku kali ini. Jika dari forum internet yang isinya kebanyakan fan-fiction, dan tentu saja dengan membaca buku aslinya karya H.P. Lovecraft, aku tahu betul kalau keselamatanku sangat terancam jika bertemu dengan mereka.
Setelah beberapa menit, tidak ada yang terjadi saat aku mengucapkan kalimat ini. Jadi, lebih baik aku pergi menjelajah.
Tetapi, baru satu kali melangkah, aku merasakan sebuah getaran. Tidak terlalu kerasa, tapi tetap saja, aku harus tetap waspada.
Getaran tersebut berasal dari belakang, dan saat aku menoleh, ada sedikit cahaya pada ukiran altar.
'Firasatku tidak enak, tapi sebagai seorang protagonis, aku tentu harus menghadapi segala rinta-'
Sebelum selesai berpikir optimis, seekor naga muncul perlahan dari altar. Sangat besar, tubuhnya tidak terlihat; seperti bayangan itu sendiri. Sayapnya pun lebarnya tidak main-main.
'Ah sial, lupakan tentang title protagonis, naga ini sungguh gila!'
Badanku secara tidak sadar mundur, tetapi, naga ini tiba-tiba melesat maju, menabrak tubuhku dengan keras.
Aku bertahan sebisa mungkin sampai akhirnya, setelah melewati berbagi dinding yang dihancurkan oleh tubuh raksasa naga ini, kami keluar dan berada ditempat yang seharusnya.
'Sial, anginnya sangat kuat!'
Di udara yang disertai dengan angin super kencang, sangat susah untuk bergerak disini. Aku hanya bisa mengandalkan [Spirit Walker] dan [Flute of Control] untuk bergerak.
Aku segera menoleh kearah sang naga, dan, astaga, naga ini lebih besar dari yang tadi.
[Shadow Dragon telah bangkit]
'Ah yes, nama mereka selalu keren untuk didengar.' Aku berharap, dimasa depan, aku bisa mendapat julukan yang badass.
Oke, lupakan tentang julukan yang badass atau apapun itu, sekarang aku hanya perlu berpikir untuk mengalahkan naga didepanku.
Naga itu tidak menungguku untuk berpikir, dia langsung menyemburkan nafas(?) berwarna hitam pekat, seperti bayangan.
Aku segera menggunakan [Spirit Walker] untuk menghindar dan berteleportasi diatas kepala sang naga. Tanpa membuang banyak waktu, aku langsung mengepal tanganku dengan sangat kuat dan langsung meninju kepala sang naga. Hasilnya? Tanganku jadi hancur, sedangkan kepala baj*ngan ini baik-baik saja.
'Sialan! kalau begitu, pedang!'
Aku menggunakan [Greatsword of Undead emperor], kemudian [Spear of Hydra] juga ikut menyerangnya. Dan sama aja, tidak ada efeknya.
'Naga bajing*n ini mempunyai sisik yang benar-benar kuat! Aku harus menemukan cara untuk mengalahkannya!'
Jika menggunakan logika, lawan bayangan adalah cahaya. Sialnya, aku yang pengguna elemen kegelapan sangat bertolak belakang dengan elemen cahaya. Dan untungnya, aku punya bomb cahaya, dan [Spear of Hydra] pun bisa menggunakan elemen cahaya. Untuk [Elemental punch], [Elemental kick], [Elemental Aura], dan [Elemental Palm], aku tidak bisa menggunakannya. Tanganku pasti akan remuk untuk ketiga kalinya.
"Saatnya mencoba!"
Aku mengeluarkan sebuah bola yang terbuat dari besi dengan tombol putih didepannya, ukuran bola itu seukuran telapak tangan. Aku menekan tombol putih itu dan melemparnya keudara dengan pelan dan ringan. Takut bahwa bola itu akan terbawa angin kencang, aku 180 derajat dengan cepat dan menendang bola itu dengan sekuat tenaga.
Naga itu, entah dia sombong atau apa, tapi dia tidak menghindar atau melakukan apapun untuk menghentikan seranganmu. Tapi, itu bagus, aku ingin lihat bagaimana efeknya.
*BOOM!!!
Ledakan yang besar terjadi, dan asap besar menutupi badan sang naga bayangan. 'Apakah aku berhasil? Tapi tidak ada pemberitahuan jika aku mengalahkan si naga bayangan.'
Bukannya sebuah kabar baik, malah ada kabar buruk. Aku tiba-tiba merasakan sebuah kehangatan yang luar biasa, dan aku mencoba melihat dengan mataku;dibalik asap ada sesuatu yang tidak beres.
'Ah, f*ck.'
Yang kulihat adalah, tidak ada lagi sang naga yang gelap pekat, dengan sisik hitamnya yang kuat, dengan sayapnya yang mengancam, dengan mata merahnya yang menyala dan berkorbar. Sang naga bayangan sudah tidak ada, yang ada adalah seekor naga agung, dengan sayap emas nan berkilau, sisiknya putih dan terlihat seperti permata mewah, matanya berwarna biru terang seperti langit. Langit pun ikut berbahagia dengan kemunculannya;yang semula mendung menjadi terang benderang.
['Shadow Dragon' telah berubah menjadi 'Sunlight Dragon'.]
"Oh, astaga, banyak sekali cobaannya."
Tapi, ini adalah kesempatanku. Aku yang merupakan pengguna elemen kegelapan bisa beradu dengan naga cahaya.
"[Elemental Aura.]"
Dengan elemen ku yang merupakan elemen kegelapan, tubuhku diselimuti oleh kegelapan yang pekat. Kini, tubuhku telah diperkuat oleh elemen itu sendiri.
Aku segera maju dengan kecepatan tinggi, dan berniat untuk meninju sang naga. Tetapi, naga itu hanya membuka mulutnya, dan perlahan, sebuah cahaya keluar dari mulutnya dan sinar cahaya keluar dari mulutnya. Mengenai diriku, dan membakar ragaku.
"ARRRRGGHHHH!!!"
Sangat panas, tubuhku tak mampu menahannya. Bahkan aura kegelapanku tidak berguna terhadap sinar ini. Aku tidak tau lagi cara untuk menghadapi naga ini.
Tapi, bukan berarti aku akan menyerah. Aku akan terus mengalahkan para pemenang. Demi mendapatkan kekuatan tiada tanding.
Dengan tekadku, aku memperkuat aura ku dan menggunakan [Spirit Walker] Untuk berteleportasi ketempat lain.
Dalam sekejap, aku sudah berada ditempat lain, dimana sang naga tidak ada dalam jarak pandangku.
Sekarang, aku sudah menjauh. Tapi, aku belum bisa bersantai. Aku perlu berpikir keras untuk mengalahkan sang naga.
'Ayo! Bekerjalah otakku!'
Sungguh sulit untuk berpikir sekarang, apalagi aku sedang terseret oleh angin super kencang.
"Hmm?" Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu yang tidak enak. Dengan pengelihatanku, aku mengecek sana-sini. Ternyata benar firasatku, sang naga dengan kecepatan tinggi melesat kesini.
'...bangs*t, dia tidak membiarkanku istirahat...."