The Slayers

The Slayers
Chapter 88 (season 3)



"Fiuh, capeknya," kata Johan yang sudah memasuki kamarnya. Dia langsung melepas armornya, melepas pedang dari pinggangnya dan meletakkannya di meja.


Johan langsung melompat ke kasur. Dia lega dan ingin tidur. Tapi suara Seraphim terdengar dikepalanya, membuatnya tidak jadi tidur.


[Hei, kau tak lupa kan? Setidaknya gambar selama 15 menit.]


"Aku sudah terlalu capek, Sera. Aku tak punya kekuatan untuk menggambar Rune."


Johan beralasan supaya dia bisa beristirahat, tapi tubuhnya tiba-tiba penuh energi. Seraphim memberinya secuil energi nya supaya Johan kembali semangat.


"Haah~, baiklah."


Johan tak punya pilihan lain. Dia beranjak dari tempat tidurnya. Pergi ke mejanya yang mana pedangnya ditaruh disana. Masih dalam kondisi tersarung.


Johan perlahan-lahan menarik pedangnya dari sarung. Dia melempar sarung itu kearah tempat tidur dan dia duduk sambil meletakkan Pedangnya yang berwarna putih bersih, gagangnya berwarna emas yang mewah. Ada 3 permata berwarna putih di tengahnya.


Johan mengucapkan mantra misterius secara berbisik. Perlahan, sebuah ukiran muncul di bilah pedang, tapi itu belum sempurna. Saat inilah Johan ingin menyempurnakan Ukiran yang disebut Rune. Rune sendiri adalah sekumpulan huruf yang dapat memberikan efek magis misterius tergantung dengan penyusunan katanya.


Johan mengalirkan mana ke jarinya. Dia mulai menggambar Rune. Menggambar Rune sangatlah tidak mudah. Johan yang baru mulai belum menyelesaikan Rune selama 3 bulan.


Untung saja, dalam beberapa jam Johan sudah hampir selesai. Dia memutuskan untuk berhenti karena sudah malam dan dia sudah capek. Menggambar Rune itu membutuhkan mana yang sangat besar. Apalagi class Johan bukan Rune Maker, penggunaan mana akan meningkat menjadi 2 kali lipat. Jika bukan karena Seraphim, maka dia tidak akan bisa menggambar Rune dalam beberapa jam.


Johan menyarungkan pedangnya kembali dan pergi tidur. Banyak kegiatan yang akan dia lakukan. Apalagi, tiga hari lagi pada hari sabtu, dia akan melakukan perburuan. Bukan perburuan biasa, tapi perburuan item.


**


Menonton Slayers melawan monster memanglah epik. Tapi melihat manusia biasa melawan monster lebih epik lagi. Inilah yang dirasakan oleh Alan.


Dia melihat dari jauh dengan eyes of sage sambil memakan Double spicy chicken burger yang dia ambil dari Inventory nya.


Alan memperhatikan pertarungan antara monster yang tangannya tinggal dua dengan Alex dan Norga. Sesekali, dia akan membantu mereka dengan menembak monster itu. Tentu saja tidak menembak mati, dia hanya menembak dan sengaja untuk meleset supaya mengalihkan perhatiannya.


Beralih ke Alex dan Norga. Mereka sungguh try hard untuk mengalahkan monster itu. Mereka juga bingung dari mana peluru-peluru itu datang. Yang pasti, mereka tahu kalau peluru itu tak dimaksudkan untuk mereka.


Mereka hanya bisa bertahan untuk sekarang. Monster itu sangatlah cepat dan mempunyai reflek yang bagus. Saat perhatian monster itu teralihkan, Alex dan Norga menyerang bersama, tapi monster itu bisa menghindar. Dan satu lagi, Norga yang menjadi masalah. Dia memang tak pandai menembak, bahkan dia hampir salah tembak ke Alex. Untung saja Alex bisa menghindar, jika tidak, maka akan terjadi friendly fire.


Alan berencana untuk mengganti senjata Norga setelah mereka menyelesaikan pertarungan. Tapi akan lama untuk itu.


Mulai kesal dengan pola yang sama terus menerus. Menyerang tapi tidak kena, diserang dan menghindar sambil mengalihkan perhatian monster itu, dan mereka coba menyerang lagi dan tidak kena.


Akhirnya, Alan dengan kesal mengambil palu dari Inventory nya dan melemparnya.


Dengan cepat, palu itu jatuh menimpa jari kaki monster, membuat monster itu mengaum kesakitan.


Alex dan Norga juga ikut ngilu. Tapi saat monster itu mencoba menyingkirkan palu yang menimpa jari kakinya. Norga segera mengisi peluru dan menembaki kaki kirinya yang tertimpa palu berkali-kali hingga putus. Yang kanan juga ditembaki, tapi hanya tergores sedikit.


Kehilangan satu kakinya sungguh berakibat fatal bagi monster itu. Membuat dia tidak bisa bergerak cepat seperti sedia kala. Tapi itu keberuntungan bagi Alex dan Norga. Alex dengan cepat menyerang monster itu dari belakang. Membuat punggungnya terluka dan membuatnya tambah marah.


Wajah monster itu langsung penyok dan seketika pingsan. Tidak berhenti, Norga dengan kejam menghantam wajah monster itu lagi dengan palu berkali-kali hingga hancur.


[Monster yang dibunuh:2/5]


Sesudah menghancurkan wajah monster itu, layar hologram muncul tepat didepan wajahnya. Melihat itu, Norga menjadi senang.


"Norga, kau berhasil!"


"Tidak, kita berhasil!"


"Ah, kau benar."


"Sekarang, sisa tiga monster lagi."


"Aku juga."


Dari jauh, Alan juga merasa senang dan iri. Senang karena mereka bisa mengalahkannya monster itu bersama dan iri karena mereka berjuang bersama dan dibantu olehnya. Dia teringat masa-masa dimana dia masih manusia biasa yang masuk ke portal. Dia harus try hard untuk mengalahkan monster yang ada. Apalagi saat itu kondisi kakinya tidak baik-baik saja. Ditambah mereka punya perlengkapan seperti pedang atau pistol, bertambah palu. Dulu dia hanya bisa dapat dari cula badak yang kebetulan dibunuh oleh Houman pertama yang dia temui. Dia mengasah sendiri dan membentuk perlengkapan sendiri.


'Tapi tidak apa-apa, aku yang membawa mereka kesini dan aku harus bertanggung jawab atas mereka. Jika mereka terluka, maka kemunginan aku akan dihabisi orang tua mereka.' pikir Alan.


"..ngomong-ngomong, peluru yang datang itu dari mana dan siapa?" Tanya Norga penasaran.


"Mungkin itu kak Alan," tanggap Alex dengan yakin.


"Kok bisa?"


"Tentu saja, kak Alan pasti tau kalau kita tidak akan sanggup bertahan berdua saja saat dia mendorong kita ke portal. Jadi harusnya kak Alan yang membantu kita. Kita juga harus berusaha dengan sekuat tenaga supaya tidak mengecewakan kak Alan."


"Pastinya!"


Beberapa menit setelah itu, Alex dan Norga bertemu dengan 5 monster terbang. Hal itu membuat Alex dan Norga panik.


Mau tidak mau, Alex dan Norga harus bertarung. Alex maju pertama dan saat ingin menyerang dengan sekuat tenaga. Secara misterius, sebuah tombak cahaya menusuk kepala monster terdepan. Kemudian diikuti oleh hujan cahaya berbentuk tombak. Semua monster mati seketika.


Alex dan Norga melihat kebelakang, mengira kalau itu adalah Alan. Tapi berbeda dengan apa yang diharapkan, itu adalah seorang wanita beserta beberapa Slayers si belakangnya. Wanita itu memakai armor dan tombak putih, berambut hitam, dan di chestplate ada lambang Guild.


Wanita itu menatap dengan heran dan bertanya pada Alex dan Norga "Siapa kalian? Kalian dari Guild Chaos?"


Dari kejauhan, Alan sangatlah terkejut. Kenapa ada orang lain selain dia, Alex dan Norga disini?


Dan saat dia melihat lambang Guild di chestplate milik wanita itu, dia benar-benar terkejut dan merasa bahwa ini hanyalah mimpi, tapi ini adalah kenyataan.


Lambang itu adalah lambang Guild Mahabharata, Guild nomor satu di India dan salah satu Guild yang berpengaruh didunia.


'Pertanyaannya, mengapa orang-orang dari Guild nomor 1 India ada disini? Ling Hua menjebak ku?'