
"Kita telah dikepung..."
Johan berkeinginan untuk mengusap wajahnya habis-habisan. Karena situasi tampak sangat gawat, dia mengurungkan keinginannya. Hawa membunuh ada dimana-mana. Yang lainnya masih tidak menyadari keberadaan hawa membunuh tersebut. Setidaknya begitulah pemikiran Johan.
Alex, Norga dan Cindy yang tadinya bermain-main ditengah taman, tiba-tiba berlari kearah Alan. Setiap muka mereka memancarkan kekhawatiran, ketakutan, dan panik. Meski memiliki wajah seperti itu, mereka mencoba untuk tetap tenang.
Norga yang sampai pertama sampai didepan Alan memanggil Alan dengan suara yang bergetar, "Kak..."
Alan mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia beranjak dari kursi dan meregangkan otot-ototnya. Alan kemudian memberikan isyarat untuk pergi.
"Sebaiknya kau segera pergi, Johan. Kau tak ingin diincar oleh orang-orang tak diketahui, 'kan?"
Johan mendadak beranjak dari kursi taman dan memanggil Grace dan Risse.
"Ada apa , Kak?"
"Disini berbahaya, kita harus secepatnya pergi dari sini!"
Grace menjadi linglung, sedangkan Risse diam saja, yang menandakan kalau dia setuju.
Johan segera menggendong keduanya. Meminjam sayap dari Seraphim, Johan mengepakkan sayapnya dengan kuat.
Sayap sudah dikepakkan dengan sekuat tenaga. Kepakkan tersebut menghasilkan gelombang udara yang mampu mendorong sekitarnya. Namun, Johan tak terbang sama sekali.
"Apa!?"
Perwujudan sayap Seraphim mendadak menghilang dari punggung Johan. Berubah menjadi butiran-butiran cahaya yang sirna diudara.
"Apa yang terjadi?"
Johan sangat kebingungan hingga tak mampu berkata-kata. Suara Seraphim mendadak muncul dikepalanya, "[Johan, sudah terlambat untuk pergi dari sini. Skill mu telah dinonaktifkan karena pengaruh medan disini.]"
"[Kali ini, ancamannya tidak main-main!]"
Johan memperhatikan sekeliling dan melihat semua orang yang sepertinya sudah mulai merasakan keanehan yang terjadi. Hal itu terjadi karena ponsel mereka yang tiba-tiba tidak bekerja.
Diantara semua itu, ada juga Alan yang masih berdiri didekat Johan. Alex, Norga dan Cindy berdiri dibelakangnya sambil memegang pundak Alan. Wajah mereka tampak tidak baik, begitu pula dengan Alan yang wajahnya menjadi serius.
Alan mengalami hal yang sama dengan Johan. [Spirit Walker] miliknya tidak berfungsi, seperti dihalangi oleh sesuatu. Alan menatap kelangit dengan penuh kecurigaan.
Ada salah satu tokoh terkenal yang pernah berkata, jika kau terlalu lama pada kegelapan, kegelapan itu akan balik menatap. Itu memang terjadi pada Alan sekarang, namun, bukan pada jurang kegelapan yang tidak berujung, namun, langit lah yang menatapnya kembali.
Untuk sesaat, Alan mengalami perasaan tertekan. Alan berusaha melawan, tapi tekanan yang diberikan sangat kuat. Bersamaan dengan itu, Alan merasakan tanah yang tiba-tiba bergetar.
Langit mendadak diselimuti oleh kabut hitam. Tak hanya itu, pengelihatannya juga ikut menjadi gelap walau dia tak menutup mata. Samar-samar, dia juga mendengar suara teriakan panik yang memanggil namanya.
Untung saja, [Eyes of Sage] bisa melihat dengan jelas walau gelap. Orang yang berteriak itu langsung terlihat dengan jelas.
"Jangan teriak-teriak Norga, Alex. Aku disini," panggil Alan.
"Ahh?"
Norga, Alex, dan Cindy yang memegang tangan Alex langsung mengikuti suara yang Alan.
Mereka berhasil berkumpul bersama. Mereka memegangi bagian baju Alan dengan ketakutan. Alan melihat sekeliling, ternyata tidak hanya mereka. Ibu dengan anaknya, pekerja kantoran, mahasiswa, pengangguran, dan beberapa Slayer juga ada disekitar, namun mereka linglung.
Orang-orang tersebut merasakan berbagai emosi;linglung, marah, takut, cemas, tertekan, dan banyak lagi. Mendadak, muncul setitik cahaya dilangit yang meledak menjadi lampu penerang. Mata orang-orang dibutakan sementara. Asal cahaya tersebut berasal dari Johan, yang menggunakan elemen cahaya.
Dengan penerangan tersebut, mereka mampu melihat sekeliling. Dinding batu yang kokoh dan berdebu, jalan tidak rata yang penuh bebatuan dan pasir, serta sebuah lingkaran dengan sebuah simbol aneh yang menjadi tempat pijakan mereka sekarang.
Orang-orang menjadi ketakutan setelah melihat apa yang terjadi, apalagi setelah mengetahui bahwa saat ini mereka sedang berada dalam sebuah tempat yang menjadi mimpi buruk orang-orang.
Mereka tak salah melihat, tempat mereka saat ini adalah labirin.