The Slayers

The Slayers
Chapter 158 (Season 4)



Setelah menyelesaikan kelas pertarungan, ada kelas lain yang harus kudatangi. Bersama dengan Norga disebelahku, kami berjalan kearah kelas yang kami tuju, kelas produksi.


"Kira-kira, berapa murid yang ada dikelas ini, Kak?"


"Entah, mungkin sekitar 20 sampai 30 orang."


Saat aku dan Norga sampai disana, ternyata jumlahnya adalah 37. Termasuk kami, berarti jumlahnya adalah 39 siswa. Di kelas ini juga ada Risse.


Kami duduk ditempat yang kosong. Terdapat enam meja berbentuk heptagonal. Tiga meja berisi tujuh siswa dan tiga meja berisi enam orang.


Aku dengar, kelas ini sangatlah spesial. Hal yang spesial itu karena pengajarnya adalah seorang Slayer rangking atas. Slayer rangking 3 Indonesia dengan job produksi.


Tentunya anak-anak sangat antusias. Aku sebenarnya juga sangat antusias. Orang ini juga idolaku sebelum aku menjadi Special.


Akhirnya, ada suara pintu yang terbuka. Semuanya langsung menoleh, tak terkecuali aku. Dari pintu, pria dengan pakaian serba putih yang elegan;memakai sebuah jubah berwarna putih bercorak biru angkasa;rambut putih cemerlang yang entah bagaimana bersinar terang;wajah tampan alami dengan senyum apik dan mata biru laut;serta tongkat bertatahkan kristal yang menambah kesan mewah.


'Sial, sangat keren!'


Para siswa-siswi , tak terkecuali aku, sangat terpesona dengan penampilan dari guru ini. Namanya adalah Batara Kusuma, seorang Slayer tingkat atas.


"Selamat pagi, anak-anak semua. Bertemu denganku lagi dikelas produksi. Jangan bosan dengan kelas ini ya!"


'Jika seorang selebriti sepertimu yang mengajar sih, aku yakin tidak akan ada yang bosan.'


"Baiklah, mari ki- Ohh, benar juga, ada murid baru ya?"


'Yep, dimulai lagi. Perkenalan diri lagi.'


Aku dan Norga langsung berdiri dan memperkenalkan diri kami masing-masing.


"Namaku Norga Garrison, jobku adalah Blacksmith."


"Aku Alan Lexius, seorang Poison Alchemist."


Dengan begitu, kami duduk kembali.


"Woah, ada seorang Poison Alchemist rupanya! Semoga kalian betah dikelas ini."


""Ya, Pak!""


"Karena sudah pengenalan, mari kita mulai pelajarannya!"


"Aku akan memberi kalian tugas pada waktu pelajaran ini. Dalam satu meja ini, kalian akan bekerja sama untuk menghasilkan sebuah karya. Karya nya terserah dalam bentuk apa, yang penting spektakuler!"


'Buset, masuk-masuk udah dapat tugas saja.'


"Aku memberi kalian batas waktu satu minggu, jadi buat sebaik mungkin ya! Pembuatan bisa dimulai dari sekarang!"


Tugasnya lumayan menyenangkan. Anak-anak yang lain memulainya dengan menentukan objek apa yang akan mereka buat. Sedangkan kelompok ku, sepertinya hubungan satu sama lain sangat kacau. Tidak ada yang berbicara dan hanya melihat satu sama lain dengan berbagai ekspresi.


Karena ini sangat canggung, aku akan memulai topik pembicaraan.


"Jadi, hal apa yang akan kita buat?"


Tidak ada jawaban dari yang lainnya, kecuali Norga yang tiba-tiba berbicara.


"Bagaimana dengan senjata, Kak?"


"Oke, bagaimana dengan yang lain."


Masih tidak ada yang menjawab. Sepertinya aku dan Norga sangat tidak beruntung karena satu meja dengan orang-orang ini.


"...bagaimana dengan busana?"


Seorang siswi kemudian akhirnya membuka mulut. Saat aku melihat informasi nya, dia bernama Reyna Istira, perempuan yang penampilannya sangat fashionable. Jobnya juga adalah Expert Designer.


"Ide bagus, ada lagi?"


"Perhiasan, aku ingin membuat perhiasan!"


Satu lagi juga menjawab, seorang laki-laki dengan rambut yang diwarnai kuning, memakai kacamata hitam dengan bingkai emas, dan banyak perhiasan. Jika kulihat, namanya Jordan Abison. Jobnya adalah, Greedy Gemologist. Pantas saja dia ingin membuat perhiasan.


Satu orang lagi juga menjawab, tapi, dari nada bicaranya menandakan kalau dia bukan orang yang ramah.


"...buat saja yang seadanya. Aku tidak peduli dengan hasilnya."


Hmm, ada satu orang yang tidak kooperatif. Mari kita lihat apa job ... Apa!?