The Slayers

The Slayers
Chapter 127 (Season 3)



Ada saatnya kita harus menang melawan diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Dan ini merupakan saat dimana Alan akan melawan dirinya sendiri. Namun, dirinya yang lain memakai perlengkapannya yang biasa dia gunakan saat melakukan pembersihan. Lengkap dengan vial-vialnya segala.


'Kalau dipikir-pikir, mukaku tampan juga, tapi senyumnya menyebalkan.' Pikir Alan tentang dirinya yang lain.


"Muka kita memang tampan, kau saja yang tidak sadar. Dan kau tidak sadar akan senyum menyebalkan milikmu sendiri?" Alan dikagetkan dengan balasan dari dirinya yang lain.


"Kau .... [Eyes of Sage]?"


"Iyalah, apalagi?"


"Tsk!"


Alan yang semua skillnya dikunci oleh menara tidak bisa menggunakan [Eyes of Sage] sedangkan dirinya yang lain tidak bisa. Menurutnya ini sangat tidak adil.


"Hei, kenapa kita tidak cepat-cepat bertarung saja. Jangan menghabiskan terlaku banyak waktu disini, Alex dan Norga mungkin sedang gila karena kau tidak bangun seperti mayat."


"Hmmm, kau benar juga." Memang, dirinya yang lain sangat tau tentang cara berpikirnya. Namanya juga doppelganger dari dirinya sendiri.


Kali ini, Alan menyiapkan kuda-kuda dan menggenggam erat halberdnya dengan kedua tangan. Disisi lain, Doppelganger dari Alan Lexius, menggunakan vial yang dia apit di kesepuluh jarinya, totalnya ada 8 vial yang berisi cairan elemental berbeda. Alan yang melihat itu masih belum terbiasa dan dahinya mengernyit.


Alan yang pertama kali melesat dan menghunuskan ujung lancip Halberdnya. Sedangkan salah satu vial berwarna kuning diaktifkan Doppelganger Alan. Cairan itu bersinar dan melayang dengan sendirinya. Cairan itu kemudian berubah bentuk menjadi tembok tanah yang melindungi Doppelganger Alan.


Halberd milik Alan merusak tembok tanah itu hingga berkeping-keping. Namun, sosok Doppelganger tidak ada.


Alan secara reflek melihat keatas langit dan disana, Doppelganger Alan menyiapkan serangan api berbentuk ular yang melesat kearahnya Alan.


Alan dengan sigap menghindari serangan itu dengan berguling kesebelah kanan. Belum selesai, Doppelganger Alan mendadak muncul disebelahnya dan tangan kanannya tidak terlihat.


'Oh ****!'


Sebagai orang yang sering memakai teknik itu, dia tahu betul betapa berbahayanya jurus itu. Sekali kena kepala, damagenya bukan main. Karena itu, dia segera menunduk saat Doppelganger Alan melancarkan serangannya.


Suaranya keras bukan main, Alan baru kali ini merasa ngeri dengan teknik itu. Rasanya seperti sedang menembakkan senapan. Tapi Alan tidak akan berdiam diri karena ngeri. Dia segera menyerang Doppelganger Alan dengan Halberdnya. Sayang sekali, Doppelganger Alan sekali lagi menghilang.


"Spirit walker k*mpret!"


"Haha, kau kesal dengan skill milikmu sendiri?"


Sejak bertarung dengan dirinya sendiri, dia jadi sadar betapa curangnya kemampuan miliknya. Dia memiliki kemampuan untuk bertarung dengan kebebasan yang absurd, skill regenerasi yang seperti cheat, senjata dengan banyak kombinasi serangan, kemudian ada [Spirit Walker] yang merupakan skill teleportasi yang tidak masuk akal, dan dia juga merupakan seorang Alchemist yang bisa menghasilkan banyak uang sambil bertarung.


Sekarang, dia harus melawan dirinya yang lain yang merupakan keberadaan abnormal. Sedangkan dirinya sendiri hanya punya Halberd, pedang, belati, dan pisau lempar. Rasanya hampir mustahil untuk melawan dirinya.


Namun, Alan tidak akan menyerah. Orang yang Alan lawan adalah dirinya sendiri. Dia yang paling tahu tentang dirinya, skill apa yang akan dia gunakan, gerakan apa yang akan dia buat selanjutnya, dan apa saat yang tepat untuk menyerangnya.


Alan menguatkan dirinya, sambil menghirup dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Dia membuka mata dan menatap Doppelganger nya dengan sangat intens. Alan mengambil empat pisau lempar dan menggenggam halberdnya dengan erat sambil mempersiapkan kuda-kuda terbaiknya. Doppelganger Alan pun kali ini juga berniat untuk menggunakan tinjunya, jadi dia menyiapkan kuda-kudanya sendiri.


Dan, pertarungannya dimulai ....


****


ilustrasi karakter


Catatan:Gambarnya saya ambil dari pinterest dan penggambarannya tidak persis mirip, tapi kira-kira hampir seperti itu.



Alan Lexius.



Johannes Satriaputra.