
Bubuk mana, salah satu bahan yang bernilai tinggi dan banyak dicari. Biasanya, ada pada tanduk seekor monster dan tidak semua tanduk monster bisa dijadikan bubuk mana. Bubuk mana bisa dibuat sebagai peluru, bahan peledak, dan berbagai hal berguna lainnya.
Alan, yang mempunyai Grimoire:tale of Alchemist, tentu tau beberapa monster yang tanduknya bisa dijadikan bubuk mana. Apalagi yang paling murni.
Sudah menyiapkan jawaban dipikirannya, Alan langsung menjawab.
"Mari membahas yang paling umum, Gray Buffalo, dari portal ular. Pertahanannya bagus, tapi tidak terlalu berbahaya. Kemudian dari portal Hyena, ada Wood Hoarder, kurcaci barbar dengan tanduk. Meski kecil, tapi bubuk mana yang dihasilkan lumayan bagus. Tapi, dibandingkan dengan yang dari portal macan, Manticore, Wood Hoarder tidak ada apa-apanya."
"Untuk portal singa dan naga, aku tidak tau. Hanya para Slayer rangking atas yang tau akan hal itu. Tapi, yang pasti..."
Alan agak enggan untuk mengatakan yang satu ini. Monster ini mengingatkannya pada kenangan buruk. Tapi, mau tidak mau, dia harus mengatakannya.
"...monster yang pernah muncul pada 2023 yang lalu. Monster raksasa yang menewaskan banyak orang di negara ini, Goliath. Monster itu yang tanduknya bisa dijadikan bubuk mana paling murni. Salah satu contohnya, seorang Slayer dari jepang, Takagi Kazuki, yang memiliki job Dragoon pernah menggunakan peluru yang terbuat dari bubuk mana milik Goliath. Kau harusnya tau itu kan, Pak Zeto?"
Pak Zeto tidak merespon. Hanya ada keheningan dikelas ini. Yang pasti, hampir seluruh kelas menganga dan tak bisa berkata-kata.
"...bagus-bagus, aku tidak menyangka murid baru akan sepintar ini, Mantap! Kau dapat 50 poin!"
Mendapat 50 poin, membuat Alan merasa agak puas. Poin adalah salah satu hal yang penting dalam Akademi. Murid dengan poin teratas dari setiap angkatan biasanya akan menerima hadiah setiap bulannya, ada juga yang tahunan. Hadiah yang diberikan juga tidak main. Bagaimana cara mendapatkan poin? Tentunya kita harus melakukan sesuatu yang membuat guru terkesan saat pelajaran. Tapi, tidak semua guru secara gampang memberikan poin. Itu membuat murid harus memikirkan cara yang keren dan sulit.
Alan sudah mendapatkan poin pada hari kedua dia bersekolah, membuat para murid takjub. Memang, penjelasan Alan sangat menakjubkan, jadi Alan memang pantas mendapatkan poin itu.
"Baiklah, sekarang buka halaman ...."
***
Pelajaran Biologi sudah selesai. Itu bukan masalah bagi Alan. Pelajaran yang akan datang pun bukan masalah. Yang akan datang adalah, kelas bertarung.
Pengajarnya adalah seorang wanita, tapi bukan sembarang wanita. Bisa disebut begitu karena...
"Sangat lemah!"
Kelas bertarung dengan senjata kali ini, siswa diharuskan untuk melawan sebuah boneka yang cepat dan punya pertahanan bagus. Boneka itu tidak akan menyerang dan akan terus bertahan. Siswa hanya boleh menyerang dengan senjata. Senjata apapun itu, pedang, tombak, panah, pistol, bahkan senjata yang tidak punya bentuk fisik. Siswa yang bisa menyerang bagian yang ditentukan akan mendapat poin. Poin tertinggi ada pada kepala, yaitu 10 poin. Jika mengenai bagian tengah mendapat 5 poin, dan bagian bawah akan mendapat 3 poin.
Contoh orang yang menggunakan senjata tanpa bentuk fisik adalah Alan sendiri.
Tidak seperti biasanya, gerakannya tak liar, tidak seperti hewan buas. Itu karena dia masih menyembunyikan kemampuannya. Gerakan yang dia pakai sederhana, tak terlalu cepat atau lambat, dan tidak terlalu menakjubkan juga. Setidaknya sampai poinnya terus bertambah.
Di papan yang menunjukkan poin para siswa, terlihat kalau poin Alan terus naik. Itu semua karena gaya bertarungnya yang sangat random.
Pertama dia menggunakan gaya seperti hewan buas untuk menyerang bagian tertentu, saat itu juga Alan dengan cepat berganti menjadi gaya anggar yang menusuk bagian-bagian yang tidak dilindungi. Hal ini dilakukan secara random. Kadang dia mengenai kaki, kadang perut, kadang diwajah.
Hal ini membuat poin-poinnya meningkat secara terus menerus. Tapi, dia tidak bisa mengalahkan 5 orang lainnya. Johan, Via, Naya, Nusa, dan satu murid bernama Cintia.
Alan tidak marah akan hal itu, karena menurutnya ranking 6 sudah memuaskan.
Disaat waktu istirahat, sebelum masuk kepelajaran selanjutnya, Alan dihampiri oleh pengajar. Pengajar itu bernama Lusiana. Perawakannya berotot, tinggi, dan gagah. Baru pertama kali Alan melihat wanita sepertinya secara langsung.
"Hei, namamu Alan kan?"
"Benar, Bu."
"Bagaimana kau melakukannya?"
"Yang tadi? Itu seperti bermain gunting batu kertas."
"Aku tidak mengharapkan jawaban seperti itu. Maksudku, kau adalah murid baru dengan job Poison Alchemist. Alchemist tidak seharusnya bisa melakukan hal seperti itu."
Kata-kata dari Bu Lusiana sudah sering Alan dengar. Stereotip Alchemist yang seperti itu membuatnya sebal. Tapi, dia tidak bisa mengubah kenyataan seperti itu. Karena itu...
"...mungkin hal seperti itu tidak berpengaruh padaku, Bu."
Bu Lusiana tidak menjawab, hanya menatap Alan dengan tajam. Alan membalas tatapan tajam itu. Pada akhirnya, Bu Lusiana menghela nafas.
"...70 poin."
Kini, Alan Lexius, mendapatkan 120 poin pada hari keduanya di Akademi.