
Sebelum terjadi penyerangan di pasar malam. Bersamaan dengan Johan yang datang ke pasar malam. Alan, Alex, Norga, dan Cindy juga pergi ke pasar malam untuk menyicipi beberapa makanan. Yahhh, tidak bisa dibilang beberapa sih.
Faktanya, mereka membeli banyak makanan. Semua stan makanan mereka jelajahi satu persatu dan mereka makan semuanya. Beruntung, ada satu orang kaya diantara mereka, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Alan sendiri.
***
POV Alan.
"Kalian belum kenyang?" Aku bertanya pada mereka yang dari tadi makan banyak.
Semuanya menjawab "Belum!" membuatku berpikir, 'apakah nafsu makan mereka bertambah?'
Yasudah, lagipula kita ada pasar malam yang besar dan meriah. Meski sudah malam, tapi kita harus memanfaatkan waktu kita disini. Mereka juga tidak sekolah, jadi mereka bisa tidur kapanpun.
"....teman-teman, kalian ada merasakan sesuatu yang aneh gak?" Raut muka Cindy mendadak menjadi agak muram. Alex dan Norga menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Kau merasakannya ya, Cindy?" Insting dari Cindy tajam juga ya? Mungkin karena ada Arnima yang berdiam dalam dirinya.
"Iya, tapi aku tidak tau darimana asalnya .... "
"Kalian," aku berbicara dengan tegas pada mereka. "Pegang pundakku dengan erat, kita akan berpindah!"
Dengan sigap, mereka semua memegang pundakku. Mengaktifkan [Spirit Walker], aku membawa mereka ke tempat yang agak sepi dekat hutan kota yang tidak jauh dari pasar malam.
"Kalian tunggu disini, oke? Jangan kemana-mana dan tetap bersama!"
Mereka semua mengangguk dengan ekspresi yang beragam, Alex mukanya kebingungan, Norga dengan muka polosnya, dan Cindy dengan ekspresi khawatirnya. Aku pergi ke tempat dimana musuh berada dengan [Spirit Walker].
Mereka sepertinya tipe assassin karena mereka berada di atap gedung tinggi. Atau mungkin bisa saja sniper? Atau malah bomber? Mengingat mereka sepertinya ingin membuat kekacauan besar di pasar malam.
Aku sampai di salah satu atap dengan 3 orang yang sedang bertarung. Dua lawan satu, ditambah lagi yang satu itu adalah perempuan melawan dua pria?
Aku langsung muncul didepan kedua pria yang sedang memukul mundur perempuan kecil itu. Tanpa membuang waktu, aku langsung memukul keduanya.
Anehnya, kepala keduanya langsung pecah? Semudah itu? Apakah mereka hanya amatir yang ingin mengacau?
Jika benar, maka aku agak kecewa. Kukira mereka berasal dari-
"Eh?"
Aku memperhatikan lambang pada seragam serba hitam yang dikenakan mereka. Lambang itu adalah milik organisasi Necron. Apa yang mereka lakukan? Kenapa anggotanya lemah?
"Hei, kau-"
Aku baru ingat ada perempuan dibelakangku. Aku tidak berniat untuk berbicara dengannya. Jadi aku langsung pergi ke atap lain dan membantai semuanya.
Setelah beberapa menit, aku merasa ada yang aneh. Semuanya lemah, tidak ada yang menantang. Bahkan yang didepanku sekarang tidak bisa melayangkan satupun serangan pada tubuhku, padahal aku hanya menghindar pelan. Tapi, sepertinya lebih mudah untuk mengintrogasinya.
"Berhenti!"
"Sialan." Orang itu agak mengganggu. Aku langsung saja meng-uppercut orang yang tersisa dan pergi dengan [Spirit Walker], aku tidak ingin ketahuan.
***
Disisi lain saat Alan pergi untuk membantai para Necron. Alex, Norga, dan Cindy yang sedang menunggu disekitar hutan kota mendengar suara dari semak-semak.
Suara itu membuat mereka bertiga bergidik seketika.
"Suara apa itu?" Ucap Cindy dengan suara yang agak bergetar.
Alex, dengan gentle, berkata, "aku akan mengeceknya."
Keberaniannya muncul secara tiba-tiba. Mumpung dibelakang ada sang pujaan hati, dia pun bertindak keren.
Alex perlahan-lahan mendekati semak-semak dan membukanya. Alex langsung disambut dengan pisau yang hampir mengenai matanya. Untungnya, Alex bisa menghindari pisau itu segera.
"Musuh?" Norga langsung menjadi waspada dan mengeluarkan palu nya dari Inventori. Alex pun juga langsung mengeluarkan ganjur dari Inventori nya.
"Ehh?" Semuanya tidak bisa menahan kejutan yang ada.
Perlahan, ada tiga anak kecil, semuanya perempuan. Mereka agak unik sebab mereka mirip. Meski rambut mereka memiliki warna yang berbeda;yang memegang pisau memiliki rambut coklat tua diikat ponytail, yang berdiri dibelakangnya ada rambut hitam sepanjang bahu, yang satu lagi ada rambut putih panjang yang diurai.
Tubuh mereka memiliki bekas luka dan lebam. Pakai mereka juga tidak dalam kondisi yang baik. Satu hal lagi, mereka seperti sedang kabur dari sesuatu.
"H-halo? Kalian kenapa malam-malam berkeliaran dengan membawa pisau? Itu berbahaya." Cindy secara lembut berbicara dan mendekati ketiga anak kecil itu. Namun, anak perempuan yang memegang pisau itu langsung berteriak.
"Jangan mendekat!"
Cindy tidak berhenti dan hendak menggapai anak kecil itu. Anak kecil itu langung mengayunkan pisaunya dan membuat tangan Cindy terluka.
"Cindy!" Alex langsung bergerak cepat untuk menyingkirkan pisau itu walau sudah terlambat karena jari Cindy sudah berdarah.
"Ayo!" Anak kecil dengan rambut coklat berniat pergi dengan anak kecil yang lain. Norga berniat mencegat mereka, namun, tiba-tiba ada sekelompok orang berseragam hitam yang mengelilingi mereka.
Ada satu diantara mereka yang berbeda. Mengenakan seragam hitam juga, tapi memakai topeng berwarna merah. Dengan postur yang tegap dan kuat, seperti pemimpin, orang itu menyuruh mereka untuk menangkap Alex dan kawan-kawan serta ketiga anak kecil itu.
***
"Kemana mereka pergi? Apakah mereka meninggalkanku?"
Tidak apa-apa sih, mereka meninggalkanku. Tapi, mereka tau jalan pulang?
Ini membuatku merasa ada yang tidak beres. Ketika aku melihat dengan teliti, aku mendeteksi jejak kaki pada tanah. Terima kasih untuk [Eyes of Sage].
Aku berjalan mengikuti jejak itu dan dalam 15 menit, aku semakin masuk kedalam hutan dan aku menemukan sebuah gudang yang tidak terpakai lagi.
Jejak kaki itu berakhir disini. Mencurigakan, karena itu aku akan masuk.