
"Aku penasaran, toiletnya ada dimana. Bisakah kau membantuku, Nusa?"
Aku sudah memperkirakan hal ini. Lebih tepatnya, aku membaca pikirannya. Setiap isi pikirannya yang merendahkan orang-orang sekarang berubah karena satu hal, yaitu aku. Ketidaksabaran dan sifat merendahkannya benar-benar tidak pernah berubah. Tapi, itu bagus untukku. Karena aku akan memanfaatkan itu.
"Aku bisa mengantarmu," ucap Nusa sambil tersenyum.
"Aku akan mengantarmu ... Ke neraka!"
Tepat setelah itu, dia segera melesat kearah ku. Bodoh sekali orang ini, dia tidak tau yang namanya resiko, ya?
Sekalipun orang tuamu adalah konglomerat atau orang penting, kau tak akan bisa menghindari hukuman. Dan sekarang, orang ini malah menyerangku secara terang-terangan.
Tanpa banyak bergerak, aku menghindari serangan Nusa dengan bergerak kesamping. Dengan efek dari jaket ini, serangan Nusa secara mudah dapat dihindari.
Wajah Nusa tampak sangat kaget. Bagaimana tidak? Dia sangat percaya diri dengan serangannya. Mengingat job ku adalah Alchemist, dia pasti mengira serangan itu akan kena telak. Maaf mengecewakan, tapi harapanmu tak akan bekerja.
Nusa yang tampak kecewa langsung mempercepat dirinya dan berniat untuk meninju ku lagi. Sayang bagi Nusa, aku berhasil menghindar lagi.
Sekarang hanya tersisa satu kesempatan. Aku akan menyisakan satu efek menghindar lagi. Karena itu, dengan kecepatan tangan yang tinggi layaknya pesulap ahli. Aku mengambil satu botol racun, membuka tutupnya, dan meniup aroma yang keluar dari botol.
Nusa yang berniat meninju sekali lagi terkejut. Dia tak punya kesempatan untuk menghindar dan akhirnya terkena aroma itu tepat diwajahnya.
"Uhuk, uhuk!"
Aku sendiri pernah mencium bau dari racun itu. Baunya ... nikmat dihidung. Saking nikmatnya, orang yang menghirupnya bisa mengidap skizofrenia, aku tidak berbohong;aku bahkan sempat berhalusinasi. Tapi untungnya aku mendapatkan halusinasi yang setidaknya membuatku bahagia.
"Euhh?"
Nusa mulai mengeluarkan suara aneh dari mulutnya. Itu sudah mulai bekerja. Dia mulai terhuyung-huyung dan sepertinya mulai kehilangan keseimbangan.
'Oke, saatnya pergi.'
Sebelum itu, aku memperhatikan sekeliling.
"Aha."
Sudah kuduga ada kamera pengawas yang memperhatikan kearah sini. Maafkan aku, siapapun itu. Karena aku akan membuat kau tidak sadarkan diri.
Aku sepertinya agak sedikit meremehkan mata ini. [Eyes of Sage] fungsinya lebih banyak daripada yang kuduga. Bahkan ini sangat-sangat berguna.
Dengan melototi kamera pengawas itu dan menyalurkan mana pada kedua mataku. Aku bisa melihat seorang bapak-bapak yang sedang mengawasi di ruang pengawas. Bapak-bapak itu kemudian kubuat pingsan dan kamera pengawas kubuat rusak. Maaf Pak Rega, ini karena aku terpaksa. Lagipula dia adalah orang kaya. Ini merupakan masalah kecil baginya, 'kan?
Sebaiknya aku segera kabur dari sini. Nusa pun sekarang sudah jatuh dalam posisi tengkurap.
"Sekarang, mari ke toilet."
Aku langsung berlari ke arah toilet, berlari dengan cepat, diam, dan tersembunyi. Beberapa langkah, aku sudah berada didepan toilet. Aku langsung masuk kedalam toilet laki-laki, tentunya.
Saat aku memasuki toilet laki-laki, tercium aroma pewangi ruangan yang sangat-sangat harum. Damn son, toilet yang bersih, wangi harum, luas, dan bersih putih. Benar-benar Akademi elit.
Satu hal lagi yang menarik perhatianku adalah seseorang yang memakai seragam siswa, tapi dia tidak terlihat seperti itu. Orang itu mempunyai otot yang sangat kekar, otot-otot itu membuat seragamnya seperti ingin robek. Mempunyai warna kulit coklat, dia berdiri didepan urinoir, kelihatannya sedang pipis.
Sebagai seorang laki-laki, aku berjalan di urinoir yang berada jauh darinya. Aku membuka resleting celana dan akhirnya kencing dengan nyaman.
Aku juga sadar akan sesuatu, bahwa orang itu melihatku. Ekspresinya tidak menunjukkan keramahan. Tapi....
[Dari kelas mana dia? Aku tidak pernah melihat orang ini? Murid baru, ya? Dia ramah tidak ya? Coba kujadikan teman ah! Tapi ... bagaimana caranya?]
Memang pepatah tentang jangan menilai buku dari sampulnya sangat akurat. Lihat orang ini, dengan tubuh layaknya binaragawan, muka layaknya gorila yang mendominasi sekitarnya, dan lihat tatapan itu, mata itu adalah mata seperti penguasa, yang menatap rendah orang-orang sekitar dan membuat jiwa raga orang bergetar sekali tatap, serta badan yang kekar seperti benteng;bahkan tingginya sekitar 210 centimeter, lebih tinggi dari Alex. Siapa orang yang berani mendekatinya tanpa pertimbangan? Tentu saja orang itu adalah aku. Orang ini sepertinya menarik untuk dijadikan teman.
"Hei, kau..."
"Ya?"
Dude, mendengar suaranya yang amat berat seperti kenanganku saat bersama dengan dia, orang-orang akan ketar-ketir mendengar suaranya. Tapi aku tidak bergetar.
"Kau ... dari kelas mana?"
"Kelas 10-B"
Dia satu angkatan dengan ku? Benar-benar mengejutkan.
"Kau tidak terlihat seperti kelas 10? Terserahlah."
"Perkenalkan, aku murid baru disini, namaku Alan Lexius, kelas 10-D. Bagaimana denganmu?"
Saat aku memperkenalkan diri, orang ini tampaknya terkejut.
[Dia, mengajakku berkenalan? Apakah aku sedang bermimpi? Kalau iya, tolong jangan bangunkan aku!]
Orang ini jadinya malah bengong. Benar-benar...
"Halo?" Aku melambaikan tanganku didepan wajahnya yang sedang bengong. Dia seketika sadar dan berbicara dengan gagap.
"N-namaku, Aris Barias. S-salam kenal..."
Dia berkenalan dengan suara yang lirih. Orang ini malu-malu ya? Bahkan tubuhnya bergetar saat dia berkenalan.
"Salam kenal kalau begitu." Kataku sambil mengulurkan tangan. Aku tidak akan berhadapan dengan kejadian seperti tadi kan?
Aris secara pelan membalas jabat tanganku. Tangannya bergetar, sepertinya dia masih merasa ini adalah mimpi.
Greb!
Krak!
Aih, kenapa ada suara patah tulang ya? Saat aku melihat tanganku. Ternyata memang, tanganku dipatahkan sekali cengkram. Orang ini, terlalu gugup sampai gak bisa menahan kekuatannya ya?
Setelah beberapa detik berjabat tangan dan tanganku patah tulang habis-habisan. Aris akhirnya tersadar dan melepaskan jabat tangannya.
"Ma-maafkan aku! Aku tidak sadar kalau ta-"
"Sudah-sudah, aku baik-baik saja kok. Jangan khawatir, ini akan kembali seperti semula dalam beberapa detik."
Matanya baik-baik saja! Tanganku sudah tidak berwujud lagi, nih! Abstrak sekali bentuknya.
Sepertinya aku harus kembali sekarang, aku ingin mengobservasi pelatihan. Untuk berada dipuncak, aku harus memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh saingan. Dengan begitu, aku bisa memanfaatkan kelemahan mereka dan meng-counter keahlian mereka.
"Aku pergi dulu ya, aku ada kelas pertarungan!"
Dengan begitu, aku pergi dengan cepat. Sambil berlari, aku sambil memperbaiki tanganku yang bentuknya tidak jelas ini.
Krek! Krek! Krek!
Renyah, sangat renyah. Sangat memuaskan mendengar suara itu. Tapi, aku melupakan satu hal.
Aku langsung berhenti berlari dan bertanya-tanya.
'Dimana tempat pelatihannya?'
...kurasa akan membutuhkan waktu untuk terbiasa di Akademi yang sangat luas ini.