The Slayers

The Slayers
Chapter 107 (Season 3)



*BOOM*


Suara ledakan yang nyaring terdengar. Suara itu berasal dari gunung dekat akademi Slayers. Dan penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah Johan.


Johan melesat cepat dan menabrak gunung. Untungnya kerusakannya tidak parah. Tetap saja, perasaan milik Johan saat melesat dan tubuhnya terbakar layaknya meteor itu tidak nyaman.


"Ugh..."


Johan melihat sekeliling dan tidak ada satupun orang, sungguh sunyi dan sepi.


Tapi itu menguntungkan bagi Johan. Jika ada orang melihat dia jatuh seperti meteor sambil memegang pedang yang mewah, dia akan terkena masalah.


Johan juga akan segera terbang kearah Asramanya secara diam-diam, tapi Seraphim menghentikannya.


[Hei Johan, jangan terbang dulu. Kau ingin terbang dengan pedang besar dan berat itu?]


"Aku tidak tahu cara menyembunyikan pedang ini. Jadi aku akan hati-hati dan berusaha untuk tidak ketahuan."


[...tunggu sebentar.]


Johan penasaran mengapa Seraphim menghentikannya, tapi memang beresiko untuk membawa pedang yang besar, berat dan ditambah lagi pedang ini sangat mencolok dan warnanya mudah dikenali. Tetapi, dia tidak punya pilihan.


Rasa penasarannya langsung terjawab setelahnya. Seraphim memunculkan sebuah buku yang terlihat kuno dan usang.


"Apa ini?"


[Itu adalah dimensional codex untuk menyimpan barang. Ini seperti Inventory yang sudah lama hilang.]


"Oooh! Ini keren! Terima kasih Sera!"


[Ini tugasku sebagai patronmu, Johan.]


Johan kemudian membuka Dimensional codex. Tidak ada tulisan apapun, hanya lembaran kosong.


"Bagaimana cara menggunakannya?"


[Gampang, tinggal dekatkan saja salah satu bagian pedang Gram dan alirkan sedikit mana.]


Johan mencoba sesuai instruksi Seraphim. Dia mendekatkan bagian ujung pedang dan secara ajaib pedang Gram perlahan berubah menjadi butiran cahaya dan menempel pada lembaran-lembaran buku.


Perlahan, semua butiran cahaya menjadi sebuah tulisan.


"Woah...."


Johan membaca dimensional codex yang beberapa halaman sudah terisi oleh tulisan. Saat Johan membaca tulisannya, ternyata itu adalah cerita tentang asal usul pedang Gram. Johan berniat membacanya, tapi dia harus masuk ke asramanya terlebih dahulu.


Sekarang, dia bisa pergi ke asrama dengan cara normal. Berjalan dengan santai melihat tumbuhan di akademi yang indah.


"Kak Johan!"


Terdengar suara yang memanggil Johan. Suara perempuan, tapi orang-orang pasti tau dari suaranya kalau sifatnya itu tomboi.


Dan saat dilihat, seorang perempuan dengan rambut biru tua, acak-acakan, dipotong hingga mencapai bahu dan poninya menutupi mata kanan. Disebelahnya adalah perempuan mungil dengan rambut biru tua dan dikuncir dua. Mukanya imut dan pipinya terlihat lembut, tapi wajahnya sangat datar.


Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Grace dan Rise Randell atau yang biasanya dijuluki twinstar oleh orang-orang.


"Oh, Grace, Rise, sedang apa kalian disini?"


"Kami sedang jalan-jalan, kakak sendiri sedang apa?" Tanya Grace balik.


"Sama dengan kalian."


Grace melihat Johan yang pakaiannya agak lusuh dan memegang sebuah buku yang terlihat usang dan besar. Rasa penasaran dalam diri Grace langsung bergejolak.


"Buku apa itu kak? Boleh aku lihat?"


"Errr, ini adalah..." Johan memikirkan alasan yang pasti dan tidak mencurigakan. Akhirnya, dia ketemu dengan suatu alasan.


"...ini adalah novel yang kutulis untuk sekedar hobi."


"Kenapa kau tulis dibuku yang usang dan kotor seperti itu?"


"Errr, ini adalah buku... yang dikasih oleh ibu pengurusku dulu. Karena ibu pengurusku tahu aku suka menulis sebuah cerita fantasi, dia memberikanku ini."


"Oooh..."


Grace mengangguk dan tak bertanya lagi. Tetapi, kata-kata yang mengejutkan keluar dari Rise.


"Kakak, boleh aku baca novelnya?"


Johan langsung tercengang dengan permintaan Rise. Dia tidak menduga kalau Rise yang sangat-sangat pendiam akan mau membaca buku yang dia pegang.


Johan sendiri hanya melihat sedikit isinya. Tapi mungkin ini seperti sejarah dari pedang Gram.


'Ini sama seperti novel fantasi yang lain kan?'


"Baca sebentar saja, ya."


Dia menyerahkan buku yang dipegangnya pada Rise. Dan secara mengejutkan, Rise membaca dengan sangat cepat.


Dia membalik halaman dengan sangat cepat, dan matanya entah kenapa bergerak dengan gesit.


Johan melihat ekspresi wajah Rise yang semakin dia membalik halaman, semaki sedih dan murung dia. Dan dia berhenti membaca saat tulisan itu berakhir dan halaman selanjutnya adalah halaman kosong.


Kemudian, Rise menutup buku itu dengan cepat dan menyerahkan balik pada Johan. Ekspresinya benar-benar suram dan ada sedikit air mata pada sudut matanya. Itu membuat Grace panik dan membuat Johan bingung.


"Apa? Kenapa kau sedih Rise!?" Grace dengan panik bertanya pada Rise, tetapi Rise masih diam.


Jika ada sesuatu yang membuat adiknya terluka atau menangis, Grace akan menjadi ganas dan tidak sopan. Dia langsung menyambar buku itu dan membacanya.


Johan sendiri tak mengerti dengan apa yang terjadi. Itu hanya cerita fantasi kan? Pikir Johan.


Tapi itu merupakan pikiran naif. Fantasi sendiri terdiri dari banyak macam dan ada genre fantasi yang tidak cocok untuk anak-anak.


Dan dalam dimensional codex, pedang Gram yang berubah menjadi cerita fantasi merupakan genre yang sama sekali tidak pas untuk anak-anak. Genre tersebut adalah Grimdark.


Grace yang membaca halaman pertama merasa kalau ceritanya hanya tentang pedang biasa dan proses pembuatannya. Tetapi, semaki dia membalikkan halaman dan membacanya. Mukanya semakin suram dan dia segera menutup bukunya, kemudian dia menyerahkan bukunya kembali pada Johan.


"Aku... aku tak percaya kaka menulis cerita seperti ini." Ucap Grace dengan sedikit emosi.


"Eh, ada yang salah dengan ceritaku?"


"Ya, meski tulisanmu ini sangat detail, tapi... aku tak mau membahasnya."


"Tulisan kakak sudah bagus. Tapi seharusnya kakak tak menunjukkannya pada kami. Ini terlalu membuat depresi." Tanggap Rise.


"Eh... baiklah, aku akan membuatnya lebih baik lagi."


"Kalau begitu, aku akan masuk dulu." Kata Grace yang kemudian menghadap belakang, diikuti oleh Rise.


Johan juga kembali ke asrama dan memasuki kamarnya. Dia membersihkan diri dan kemudian mencoba membaca cerita tentang pedang Gram.


Dan ternyata, memang salah untuk membiarkan mereka berdua membaca ini. Isinya tentang perang, pembunuhan, pembantaian, dan penaklukan.


Ditambah lagi, adegan pembunuhannya dideskripsikan dengan sangat detail dan cerita diakhiri dengan kematian pahlawan Sigurd yang tragis.


Saat itu, Johan benar-benar menyesal.


***


"Hyaaah!"


"Lambat."


"Hyaaaaah!"


"Kau juga lambat."


Kali ini, Alex dan Norga sedang berlatih menggunakan senjata yang mereka pilih. Mereka membiasakan diri dengan senjata mereka yang terbilang berat.


Mereka sudah mulai terbiasa dan tau dasar-dasarnya. Tetapi mereka masih merasa berat, terutama Norga.


Norga mempunyai kecepatan serangan yang lambat. Ini membuat Alan sedikit khawatir saat diportal nanti.


"Hey, Norga, sepertinya senjata yang kau pilih ini terlalu berat untuk mu." Kata Alan.


"Ya, benar, tapi aku menyukainya."


"Tak peduli seberapa kau menyukainya, jika kau kesulitan memakainya, itu tak akan berguna."


Mendengar kenyataan pahit yang dilontarkan oleh Alan, Norga hanya bisa tersenyum pahit.


"Kemarikan senjata kalian." Ucap Alan


Alex dan Norga langsung memberikan senjata mereka pada Alan. Tentu saja Alan dengan gampang mengangkat senjata mereka.


Alan menaruh senjata milik Norga yang merupakan palu kembar ketanah dan mundur beberapa langkah.


Dengan ganjur yang Alex pilih ditangannya. Dia menyerang keudara kosong.


Gerakannya sangat lincah dan membuat angin disekitar berhembus kencang. Menebas vertikal, horizontal, menusuk dan gerakan lainnya dipraktekkan dengan apik. Membuat rahang Alex terjatuh dan membuat Norga berteriak "Holy ****!" sambil bertepuk tangan.


Senjata besar seperti itu terlihat sangat ringan saat dipegang Alan, padahal itu sebenarnya berat.


Kemudian Alan menaruh ganjur milik Alex dan memegang senjata Norga yang merupakan palu kembar.


Alan melihat kedua palu itu dan kemudian mencoba memakainya dengan sangat apik. Mulut Alex melebar lagi dan rahang Norga juga ikut jatuh.


Gerakan yang dipraktekkan benar-benar indah dan akrobatik seperti tidak ada beban yang menghalanginya untuk bergerak bebas.


Alan setelah mencoba memakai kedua senjata itu mengangguk puas dan memberikannya pada mereka lagi.


"Kalian memilih senjata yang bukan pada level kalian." Ucap Alan. "Kedua senjata ini sangat bagus dan nyaman untuk dipakai, karena kalian masih level satu, pergerakan kalian terbatas." Tambahnya.


Ucapan Alan membuat Alex dan Norga cemberut dan menyesal. Tapi Alan segera membuat mereka ceria lagi.


"Tenang saja, kalian pasti bisa. Portal tingkat ular masih bisa kalian taklukkan untuk itu."


Sebelum mereka kembali kerumah dan lanjut berlatih, mereka datang ke kantor Slayers dan membeli sebuah portal tingkat ular. Pembersihan dilakukan oleh dua orang dan ditambah lagi Alex dan Norga hanya level satu membuat mereka berdua menjadi candaan banyak orang. Mereka berdua sudah menduga hal itu akan terjadi, tapi itu tetap menyakitkan. Tapi mereka tetap yakin bahwa dibawah ajaran Alan, mereka pasti bisa.


"Omong-omong, bagaimana kak Alan bisa sangat ahli menggunakan senjata kami berdua?" Tanya Alex.


"Ah, itu..." Alan menggaruk kepala belakangnya sebentar dan kemudian berkata, "Aku tidak tahu."


Dan jawaban yang tidak mereka harapkan itu membuat mereka sangat terkejut.


""Tidak tahu!?""


"Ya, aku sama sekali tidak tahu bagaimana caranya, tapi aku saat belajar berbagai senjata seperti karambit, kusari gama, nunchaku , tonfa, kukri, cambuk atau bahkan senjata api, dengan misterius aku bisa menguasai mereka dalam tiga hari. Tapi aku tidak benar-benar ahli, aku hanya mengikuti naluriku dan belajar secara otodidak. Aku juga tidak terlalu mendalami penggunaan senjata."


Alex dan Norga langsung mempunyai ekspresi masam pada wajah mereka. Orang seperti Alan itu tidak sadar akan betapa berbakatnya dia.