
"Hmmm? Dimana aku?"
Alan mengira dia sudah kalah. Pertarungan melawan kesatria rusak membuatnya mengalami kematian untuk pertama kalinya. Pada akhirnya, saat dia membuka mata, yang dia lihat hanyalah sebuah cahaya kecil seperti kunang-kunang. Disekitarnya sangat gelap dan kosong.
"Ini tempat sebelum menuju alam kematian?" Ucap Alan dengan bingung.
"Bukan."
Deg!
Jantung Alan terasa seperti bom. Mendadak ada yang berbicara dengannya. Padahal tempat itu terasa sepi sekali. Tentu Alan sangat kaget ketika mendengar ada yang berbicara dengannya.
"Siapa itu?"
"Coba kau lihat keatas."
"Keatas?"
Alan langsung mendongak keatas. Benar saja, dia melihat sepasang mata bercahaya yang sedang mengamatinya dengan seksama. Tidak jelas bagaimana perawakannya karena siluet tersebut diselimuti oleh bayang-bayang, yang pasti ukurannya raksasa dan Alan melihat dua tanduk yang melingkar seperti kambing.
"Kau... Siapa kau?"
"Kau tidak berhak untuk menanyakan namaku ataupun kami. Kau tidak punya hak bertanya." Ujar siluet berkepala kambing.
"Apa-apaan? Dan, kenapa kau bilang 'kami'? Ada yang lain?"
"Coba liat sekelilingmu, manusia berotak kecil."
'Berotak kecil' membuat Alan kesal. Mengesampingkan hal itu, Alan berputar sambil melihat keatas. Alan kemudian tidak percaya dengan yang dia lihat.
***
POV Alan
Aku tidak tahu siapa mereka dan entitas macam apa mereka. Yang pasti adalah, aku mendadak merasa kecil. Kehadiran mereka sangat kuat sehingga aku merasa seperti debu.
"Perkenalkan, kami adalah lima Sosok Agung dari pihak kegelapan."
Lima sosok agung? Aku ingat kalau Flya pernah menyebutkan tentang lima sosok agung. Jika mereka dari kegelapan, berarti mereka adalah lima iblis agung?
"Kami dari pihak kegelapan bisa disebut sebagai Lima Iblis Agung atau 5 Iblis Berdaulat." Sosok berkepala kambing berbicara dengan nada yang bijaksana, tapi aku tahu ada sedikit rasa kebanggaan saat dia mengatakan itu, bagaimanapun, aku disini hanya bisa mendengar apa kata mereka dan menjawab.
"Pertama-tama, selamat datang didalam ruang kekosongan, penantang. Anda adalah salah satu dari 5 orang yang berhasil untuk menyelesaikan menara dari lantai satu hingga enam puluh." Pertama-tama, si kepala kambing menyanjungku setelah memanggilku otak kecil. Aku tidak merasa tersanjung sih.
"Dari semua itu, hanya kau yang punya elemen kegelapan. Sangat pas sekali waktunya, bukankah begitu teman-temanku?"
Tidak ada yang merespon perkataan si kepala kambing. Dari yang aku lihat, mereka semua punya senyum diwajah mereka kecuali satu, siluet berkerudung yang bahkan matanya hampir tidak kelihatan.
"Alan Lexius, sebagai seorang penantang yang berhasil, kau akan menjadi wadah kami. Jadi berbahagialah, manusia sepertimu sudah kodratnya untuk menjadi budak kami."
Tunggu, wadah? Aku menjalani tantangan dari lantai satu hingga enam puluh, bahkan aku sampai mati diakhir, dan aku menjadi budak?
"...jangan konyol, setan."
"...apa?"
"Aku bilang, jangan berbicara hal konyol, dasar setan!"
Aku sudah menaiki menara dengan susah-susah dan pada akhirnya aku menjadi budak setan. Sebagai seorang manusia, bagaimana aku bisa menerima hal itu?
"Hei, manusia, ingatlah kau hanya manusia rendahan didepan kami. Takdirmu menjadi budak dan wadah kami sudah ditentukan sejak kau memijakkan kakimu dimenara! Itu adalah takdirmu sebagai manusia!"
"Kau, seekor setan yang hakikatnya adalah mahluk hina berani menentukan takdirku? Takdirku sudah ditentukan sejak lahir, bukan olehmu, tapi oleh Yang Maha Kuasa! Sebagai manusia yang berhasil, kalian harusnya memberiku penghargaan, sial*n!"
"Kau! Dasar manusia!" Salah satu iblis tidak terima dengan perkataanku. Dia adalah siluet bertanduk runcing yang menjulang keatas. Ciri-ciri paling menonjol lainnya adalah mata dan mulutnya, bahkan hidungnya terdapat semburan api.
"Untuk seukuran manusia, kau sangat berani tampan, sangat berani sampai-sampai aku ingin meremuk tengkorakmu dan kuberikan kepada anak-anakku~" Siluet yang terlihat seperti wanita berbicara. Wanita itu memiliki tanduk dan matanya bersinar warna ungu. Meski nada bicaranya lembut dan keibuan sampai menggelitik telinga. Kata-katanya sangat menyeramkan dan tidak sesuai dengan nadanya.
"Manusia rendahan.... Beraninya menentang kita.... Harus dimusnahkan...." Sekarang ada naga berkepala tiga yang berbicara secara berurutan, sangat berisik.
"Memang kenapa, hah!? Hei kalian wahai Jahanam, aku tidak akan menjadi budak kalian atau apapun itu!"
Aku selalu menentang keras perbudakan. Aku membaca novel, komik, dan menonton serial televisi yang berisi tentang perbudakan. Darahku mendidih saat melihat adegan semacam itu. Karena menurutku, kebebasan adalah yang utama. Kecuali orang yang menurutku kejahatannya tidak bisa diampuni, aku tidak akan mau memperbudak siapapun.
Para iblis mulai marah sampai mengeluarkan aura mereka yang pekat. Badanku sampai tertekan hingga jatuh berlutut. Kesadaranku mulai hilang, pandanganku menjadi buram dan aku hampir tidak dapat melihat apapun.
Aku tidak ingin melakukan ini, tapi aku menggigit lidahku hingga berdarah untuk menjaga kesadaranku tetap terjaga.
"Anak ini, tekadnya kuat."
"Bajing*n kecil ini harus diberi pelajaran!"
Saat itu, aku mengira hidupku akan tamat saat itu juga. Jiwaku mungkin akan dihancurkan disini hingga tubuhku didunia nyata menjadi badan tak berjiwa alias mati. Aku belum mengucapkan selamat tinggal pada Alex, Norga, Lyfa, Cindy, Ling Hua, anak-anak yang selalu bermain ditaman, dan orang yang lainnya. Aku belum menikah, bahkan belum pernah pacaran! Aku belum membalas perbuatan mereka dan melihat wajah Via untuk terakhir kalinya. Hidupku akan mati dengan tragis.
Setidaknya itu yang aku pikirkan sebelum siluet paling diam dan misterius menaruh jari telunjuknya didepan mulutnya, mungkin? Aku tidak tau siapa dia, tapi sepertinya dia yang paling berkuasa dan kuat diantara mereka berempat.
Para iblis terkejut dengan isyarat siluet berkerudung itu. Aura mereka menghilang dan aku tidak lagi merasa ditekan. Aku cukup berterimakasih padanya, setidaknya dia tidak meroastingku sebagai manusia.
".....manusia."
Sekali membuka mulut dan berbicara. Rasanya seperti terkena gelombang kejut. Gendang telingaku rasanya seperti mau pecah. Sebenarnya siapa entitas berkerudung ini?
"A-apa?"
"Apa yang paling kau takuti didunia ini?"
Hal yang paling kutakuti? Kenapa dia bertanya seperti itu? Terserahlah, aku saat ini hanya bisa menjawab pertanyaannya. Kalau ditanya apa yang paling kutakutkan adalah...
"Aku takut kehilangan sesuatu yang berharga. Contohnya seperti kebebasanku yang direnggut paksa atau apapun itu." Mungkin agak klise, tapi memang benar adanya. Itulah hal yang paling kutakutkan didunia.
"Kebebasan, ya? Kita memiliki ketakutan yang sama."
Apa? Apa maksudnya?
"Kita sama-sama benci dengan kebebasan yang direnggut. Kekuatan dari kebebasan sungguh dahsyat dan mengagumkan. Semua mahluk didunia ini mendambakan yang namanya kebebasan, kau tahu itu kan?"
"Ya ya ya, jangan bertele-tele, langsung to the point saja." Entitas satu ini sepertinya ingin menghasutku untuk sesuatu.
"Kau manusia yang tidak sabaran. Intinya, bebaskanlah kami dari sini dan kami akan membantumu."
Membebaskan mereka? Mereka adalah iblis berbahaya yang terlihat sangat mengancam. Apa tidak apa-apa untuk membebaskan mereka? Mereka bisa saja menciptakan kiamat, atau mungkin dia berniat menjebakku.
"Jangan khawatir tentang apa yang akan kami lakukan. Kami hidup didalam dirimu. Kami bisa mengontrolmu, kau juga bisa mengontrol kami. Ini adalah hubungan kerja sama."
Kelihatannya menguntungkan, tapi tetap saja, mengadakan perjanjian dengan para iblis biasanya berujung pada malapetaka. Aku masih tidak percaya dengan mereka.
"Apa yang akan aku dapatkan jika aku membebaskan kalian? Apakah kalian akan mengendalikan tubuhku dan membuat kerusuhan?"
"Tidak, kami tidak akan melakukan itu. Kau akan menerima kekuatan dari kami yang tidak bisa kau bayangkan. Kami tidak akan selalu muncul, dan kami bisa membantumu jika kesulitan. Aku bisa menjamin itu semua."
Sekali lagi, tawarannya sangat meyakinkan. Aku tidak tau dia berbohong atau tidak, tapi terserahlah. Aku akan bertaruh untuk saat ini.
"Baiklah, aku akan menerima tawaranmu. Dengan satu syarat, jangan kacaukan hidupku!"
Hanya itu yang kuinginkan. Kuharap mereka bisa menepatinya, walau aku tidak berharap karena mereka ini iblis.
"Pilihan yang bagus."
Setelah itu, para iblis mengangguk secara serentak dan mulai mengucapkan sebuah kata-kata epik.
"Kami, iblis yang terlupakan. Leluhur daripada iblis yang berdaulat. Kami mengadakan kontrak dengan manusia, Alan Lexius, sebagai wadah bagi Lima Iblis Agung."
Kata-kata itu membuatku merinding, serius. Siluet berkerudung itu kemudian mengatakan sesuatu padaku.
"Apakah kau menerima kontrak dengan kami?"
[Y/N]
Meski enggan, tapi aku menekan Y. Aku harus menghadapi konsekuensi yang akan datang. Setelah menekan Y, satu persatu mulai mengucapkan nama dan julukannya.
"Namaku adalah Baphomet, sang iblis pengetahuan. Dengan ini aku akan menjalin kontrak denganmu." Sudah kuduga, siluet kambing itu adalah Baphomet.
"Namaku adalah Ifrit, sang perwujudan dari api neraka. Dengan ini aku akan menjalin kontrak denganmu." Nada bicaranya berbeda sekali, tapi dia sangat keren.
"Namaku adalah Lilith, ratu Succubus dan wanita iblis yang paling mulia. Dengan ini aku menjalin kontrak denganmu." Lilith? pantas saja ada Succubus dan Incubus, ternyata dia biang keroknya.
"Namaku Azi Dahaka.... Iblis naga pembawa bencana.... Dengan ini aku mengikat kontrak denganmu." Yang satu ini tidak terduga. Aku agak jarang mendengar namanya.
"Terakhir, aku adalah Jaldabaoth, sang perwujudan dari kekacauan. Dengan ini aku mengikat kontrak denganmu." Eh, dia? Yang dikatakan sebagai Tuhan palsu?
"Selamat bertemu lagi, sang jawara baru."
Jaldabaoth mengucapkan selamat tinggal dan Lima Iblis Agung berubah menjadi roh yang merasukiku.