The Slayers

The Slayers
Chapter 181 (Season 4)



"Itu ... Aku?" Alan tampak terkejut dengan penampakan dari dirinya yang lain.


"Maju, Orang Gila!"


Dengan ucapan Ling Hua yang lantang, Doppelganger Alan langsung melesat. Dengan postur seperti hewan buas, membuatnya bergerak secara tidak manusiawi. Alan familiar dengan gerakan tersebut. Lumayan kangen juga dia, karena sudah lama dia tidak memakai gerakan itu.


"A-apaan itu?" Master Labirin terkejut dengan gerakan yang aneh dari Doppelganger Alan. Pergerakan yang sangat acak dan tidak dapat ditebak, sulit untuk menentukan apa langkah selanjutnya.


"Grrr..."


Doppelganger Alan merapatkan lima jari dari kedua tangannya secara bersamaan, bersiap untuk menusuk Master Labirin.


Master Labirin sudah siap untuk itu. Tapi, bukannya menyerang kearah sang Master Labirin, Doppelganger Alan menyerang kearah tanah. Tangannya menembus tanah dengan sangat dalam.


"GRAAHHHHH!"


Dengan amarah yang membara, Doppelganger Alan mengangkat tanah dan menyebabkan tanah naik seperti gelombang ombak di laut.


Sayang, tanah-tanah itu segera terkumpul dan terbentuk menjadi sebuah bola raksasa.


"Tidak berguna!" Sang Master Labirin segera mengejek Doppelganger Alan. Namun, Master Labirin merasakan sesuatu firasat yang tidak mengenakkan.


"Kau terlalu lengah," Ling Hua tersenyum lebar.


Doppelganger Alan memantapkan kuda-kuda sambil memelintir lengannya menjadi bor kencang.


Tanpa banyak teriak, Doppelganger Alan langsung melesatkan serangannya. Tangannya memanjang dengan sendirinya.


Master labirin terkejut, meski beruntung baginya, dia masih sempat menghindar.


Serangannya terkena dinding, membuatnya hancur berkeping-keping. Saat itu juga, Master Labirin menggunakan kesempatan itu untuk mengelilingi tangan Doppelganger Alan dengan bebatuan yang berat. Dilanjutkan dengan serangan dari atas, dimana bebatuan turun seperti meteor.


Doppelganger Alan tau kalau dia akan terpenjara seperti dirinya yang asli, karena itu, dia melakukan hal yang tidak dapat ditebak.


Tanpa merasakan sakit, Doppelganger Alan langsung memutuskan tangannya. Meski darah bercucuran, dia tidak peduli. Hanya ada senyum yang nampak dimukanya, senyum gila yang tidak dapat dilupakan dengan mudahnya. Lagipula, tangannya itu langsung beregenerasi.


'Tiruan ku, rasanya seperti melihat diri sendiri.' Alan takjub dengan tiruannya sendiri. Cara bertarung, kemampuan, semuanya persis. Sekarang Alan tau kemampuan Ling Hua yang tidak pernah ditunjukkan padanya.


Begitu juga dengan Johan yang saat ini sedang terpukau oleh Doppelganger Alan. Juga, jarang-jarang melihat pertarungan antar high rank, apalagi high rank yang tidak pernah dia lihat.


"Sial, bagaimana bisa-"


Master Labirin tidak terima akan hal ini. Karena satu faktor yang datang entah dari mana, semuanya kacau balau. Namun, bukan berarti dia kesal tidak menerima semua kejadian ini.


"Well~, sudah saatnya untuk mengakhiri semua ini."


Ling Hua melambaikan tangannya. Setelah itu juga, dibelakangnya, muncul lusinan tangan yang mencoba untuk keluar. Lagi-lagi, itu adalah Doppelganger Alan.


"....sial."


Master Labirin menghela nafas dalam-dalam. Kemudian dia mundur selangkah. Seiringan dengan langkahnya, tanah mulai bergetar dan dinding labirin mulai retak. Tubuh Master Labirin perlahan-lahan juga menghilang.


"Aduh, tanganku..." Alan bisa merasakan tangannya. Dia mengayunkan tangannya, bahkan mengayunkannya seperti baling-baling.


"Rupanya kau disini. Pantas saja pesanku tidak dibalas-balas."


"Maaf, ya..." Mereka berdua berbincang selagi membenarkan tangan Alan. Ling Hua memijit tangannya dengan keras, meski kelihatannya lembut.


Dari belakang, Alex, Norga, Cindy, Grace, dan Risse berlari kearah mereka. Grace dan Risse langsung memeluk Johan, sedangkan Alex, Norga, dan Cindy menghampiri Alan.


"Sudah selesai kah!?" Norga bertanya.


Alan mengangguk. Bersamaan dengan itu, tangannya sudah kembali normal.


"Kalian semua baik-baik saja?"


Kemunculan Ling Hua membuat ketiganya kaget.


"Eh, sejak kapan Kak Ling Hua ada disini?"


"Halo Cindy, aku dari tadi ada disini."


Ling Hua memperhatikan orang-orang yang sedang linglung. Mereka bingung dengan dunia labirin yang mendadak menghilang, tapi mereka secara bersamaan juga lega.


""Ayah!""


Tiga mahluk mungil berlari kearah mereka, lebih tepatnya, Alan. Ketiganya berlari dan memeluk Alan sambil loncat.


"Eh, ada anak-anak ku yang manis!" Alan berlutut dan balik memeluk mereka. Itu membuat Johan, Grace, dan Risse yang tidak tau apa-apa malah salah sangka.


"T-t-tunggu, Ayah? Anak?? Kau...." Johan bicara hampir tak karuan dan hampir menunjuk Ling Hua. Tapi, Alan segera berdiri dan menepis prasangka aneh Johan.


"Aku cuma ayah angkat, bukan yang lain. Juga, aku masih single."


"T-tunggu, maksudnya?"


"Ceritanya agak panjang, kapan-kapan saja." Meski begitu, Alan tidak yakin akan menceritakan hal itu.


"Oh ya, LIng Hua, masih mau jalan?"


Ling Hua mengangguk, "boleh saja."


"Kalau begitu, aku pergi dulu ya, semua! Aku akan pulang nanti."


"Tungg-" Alan langsung berbalik dan berjalan meninggalkan mereka, bersama dengan Ling Hua dan tiga kembar. Johan masih berniat untuk meminta penjelasan, tapi, bahunya mendadak dipegang oleh Alex.


"Mari pulang dulu, Kak Johan. Biarkan Kak Alan bermesraan dengan kakak ipar."


"Kakak ipar?" Dengan ini, Johan sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi.