The Slayers

The Slayers
Chapter 64 (Season 2)



Kami saat ini sedang istirahat sejenak, suasana disini sangat berisik karena orang-orang berbicara dengan volume suara yang tak terkendali.


Aku sesekali bisa mendengar mereka membicarakan ku, tapi aku pura-pura tidak tahu dan tidak dengar.


Grace dan Rise sedang dikerumuni. Sedangkan aku?, bahkan tidak ada yang mengajak ku bicara. Karena itu, lebih baik tidur.


"Hei!"


Saat aku mau memejamkan mata, perempuan disebelah berbisik padaku.


"Ya?"


Dia tersenyum dan kemudian dia berkenalan denganku.


"Namamu Johannes kan?, namaku Via, yah kau pasti sudah tau sih." Katanya sambil mengulurkan tangannya.


"Ah ya, panggil Johan saja, salam kenal!" Balasku sambil menjabat tangannya.


'Lembut.'


"Kau dari sekolah mana?"


'Sekolah?'


Aku terkejut dengan pertanyaan yang tiba² ini. Sebelum masuk kesini, aku hanya lulusan SD.


Setelah itu, aku hanya belajar dari buku-buku di panti asuhan.


"Eh, aku berasal dari Sekolah-"


*Brrrraaaak!!


Seseorang menggebrak pintu dengan keras, itu adalah pak Arton.


"Selamat pagi anak-anak, siapkan diri kalian karena kalian akan menjalani latihan berat yang sangat berat!"


Para siswa dan siswi mulai berdiri dari tempat duduknya.


"Kalian ikuti bapak kelapangan, jangan dorong-dorongan, jangan saling serempet, jangan iseng, jangan modus, dan jangan ribut!"


Kami dengan tenang mengikuti pak Arton kelapangan. Kami saling berdempetan satu sama lain tapi tetap tenang, tidak berisik, tidak saling serempet, tidak modus, dan tidak saling mendorong.


Gedung akademi sangat lah besar, jadi kita harus berjalan beberapa menit. Untung saja kelas kami ada dilantai 2, jadi kami hanya perlu menuruni tangga satu kali.


Tapi jalan kami menuju lapangan belum selesai, kami harus berjalan lagi keluar, melewati taman sekolah dan sampai.


Di lapangan akademi, ada 36 batu besar yang berjejer. Apa yang ingin pak Arton lakukan dengan 36-


'Eh tunggu, jangan bilang-'


"Kalian batu-batu ini, kalian pilih salah satu dari batu-batu ini, siapa cepat dia dapat."


Tebakanku kami disuruh menghancurkan batu-batu ini, ini mungkin akan mudah.


Kami langsung memilih batu yang kami mau. Semua batu ini tampak sama, jadi aku bingung ingin memilih yang mana. pada akhirnya aku memilih secara asal.


"Nah, karena semua sudah memilih batu, kalian akan menggendong batu tersebut dipunggung kalian."


"Kalian akan berkeliling ke seluruh akademi dengan batu itu."


Ah, ini berbeda dari dugaanku. Membawa batu sebesar ini dan berlari kesekitar akademi, apa tidak terlalu mudah ya?


Kami adalah Special, mengangkat batu seperti ini adalah hal yang mudah.


"Heh, kau meremehkan kami pak?"


Nero, yang merasa diremehkan, mengangkat batu itu.


"Akan kutunjukkan kekuatanku pada ka-"


...batu itu tidak terangkat.


"Eh kenapa tidak terangkat!?"


"hiyah!!"


Kali ini suara itu berasal dari Gono. Dia berhasil mengangkat batu itu, tapi dia agak kesusahan.


"Apa-apaan dengan batu ini!?" Gono protes dengan berat batu nya.


"Yang kalian angkat adalah batu berisi mana. Jadi itu 4x lebih berat dari biasanya."


Kami semua terkejut dengan perkataan pak Arton.


Aku mencoba mengangkat batu tersebut.


'ugh, berat!'


Sangat berat, tapi jadi lumayan saat aku mengalirkan mana ke seluruh bagian tubuh ku.


"Hah, pecund*ng kalian semua, masa itu saja tidak bisa."


Yang berbicara adalah Zoel, kali ini dia yang mencoba mengangkat batunya.


"Eh?"


Batunya juga tidak terangkat sama sekali.


"Apa yang kau lakukan Zoel, kau memalukan tau!" Nusa yang ada disampingnya meneriakinya.


"Ini berat banget bangs*t!!" Kata Zoel yang masih belum bisa mengangkat batunya.


"Ah ya, ada 3 batu yang memiliki mana lebih, kadi batu itu 6x lebih berat." Kata pak Arton sambil tertawa.


"Apa!?" Semua berteriak seketika.


'Oh, ini akan melelahkan.'