The Slayers

The Slayers
Chapter 170 (Season 4)



Dingin, itulah yang dirasakan oleh orang-orang disini.


Mereka tak mampu menahan suhu udara sekitar, hingga menggigil hebat. Yang bisa menghangatkan mereka adalah berpelukan satu sama lain, dan cahaya yang menjadi satu-satunya penerangan disana.


"Dimana ini!? Keluarkan kami!!!"


"Ibu!!!"


"Matilah kita...."


Tempat ini dipenuhi oleh teriakan kesengsaraan. Ada juga yang berusaha menenangkan para kerumunan. Mereka adalah Slayer resmi.


Meski begitu, keberadaan Slayer resmi tak mampu memadamkan kepanikan orang-orang. Apalagi, mereka tak memakai perlengkapan mereka. Keselamatan mereka tidak terlalu terjamin.


"Dimana kita?" Norga memperhatikan sekitar, melihat dinding batu berdebu dengan penerangan seadanya.


"Kita ada di labirin." Alan tanpa ragu memberitahu tempat mereka saat ini. Alan bukan asal tebak, melainkan dia melihat dengan mata khusus miliknya yang mampu melihat dengan jarak yang jauh. Tak lupa dengan night vision juga. Mata itu tak lain tak bukan adalah [Eyes of Sage].


Johan, yang juga punya mata spesial, juga menyadari kalau mereka saat ini sedang berada dalam labirin yang tidak diketahui tujuan akhirnya.


"Hei!"


Seseorang dengan badan kekar dan ekspresi yang ramah mendekati Johan. Dibelakangnya ada dua orang mengikuti. Mereka terlihat lebih muda dari si orang berotot, tapi lebih tua dari Johan.


"Kau seorang Slayer? Cukup muda juga ya." Orang kekar itu memancarkan perasaan seperti kakak sulung yang bisa diandalkan. Setidaknya itu kesan pertama dari Johan.


"Ah, aku ... masih seorang siswa." Johan menjawab dengan singkat. Dia masih belum tau motif dari orang kekar itu.


"Perkenalkan, aku Derus. Dua orang dibelakangku adalah Terry dan Lena."


"Ah, senang berkenalan dengan kalian." Johan memberikan senyum canggung. Dia memang tak begitu pandai berkenalan dengan orang lain.


Slayer yang terjebak tak hanya Derus dan rekannya saja. Ada Slayer lain juga yang kelihatannya tidak terlalu bersahabat. Jumlahnya, termasuk dengan Derus dan rekannya, total ada tujuh orang.


Derus memperhatikan sekeliling, dan tatapannya terpaku pada anak kecil yang tingginya mencapai pinggangnya. Rambutnya berwarna biru tua dengan gaya kuncir dua. Dia juga melihat perempuan yang mirip dengannya. Dengan rambut pendek mencapai leher saja, dan gaya berpakaian yang jauh dari kata feminim, ditambah dengan tatapan yang penuh waspada, membuat perasaan dalam diri Darus bergejolak. Darus dalam sekejap meneguk ludah.


Johan mendadak memelototi Darus. Dengan matanya, dia bisa melihat setitik niat jahat yang ada dalam diri Darus. Alan, yang sedang mengobservasi sekitar, juga melihat adanya niat buruk. Niat memburuk itu membesar dan membesar. Bahkan, Alan melihat pikiran orang tersebut yang tidak senonoh. Membuat dahinya mengernyit.


Alan berjalan mendekati Johan dan menepuk pundaknya. Tanpa menunggu reaksi Johan, Alan berbisik, "awasi dia, serta jaga Grace dan Risse dengan ketat."


Johan sedikit tersentak. Meski begitu, ia mengangguk pelan. Johan tak bertanya mengapa Alan berkata seperti itu, karena Johan tau pasti, Alan tak akan menjawab.


Alan kemudian melanjutkan, "aku akan pergi menjelajah secara terpisah. Kau pergilah bersama para warga. Cahaya milikmu berguna bagi mereka."


"Bagaimana denganmu? Kau tak pergi bersama kami?" tanya Johan yang terkejut. Bagaimanapun, Alan juga butuh penerangan kan? Begitulah pemikiran Johan.


Alan terkekeh, "aku punya caraku sendiri."


Alan menjauh dari Johan, dari kerumunan. Alex, Norga, dan Cindy juga mengikuti dari belakang. Namun, mereka berhenti sejenak. Lebih tepatnya, karena Alan yang tiba-tiba berhenti melangkah.


Alan tiba-tiba berteriak kepada Johan sambil melempar sesuatu. Johan yang kaget, untungnya, berhasil menangkap barang itu tepat waktu.


Johan melihat benda ditangannya, yang merupakan sebuah kumpulan potion yang berjumlah dua belas vial. Enam potion berwarna merah tua dan enam potion berwarna biru kristal. Johan ingin mengucapkan terimakasih, tetapi Alan sudah pergi menjauh.


***


Ditempat yang tidak diketahui lokasinya. Gelap, dingin, sangat misterius. Satu-satunya yang memberikan cahaya dan warna adalah sebuah bola kristal berwarna ungu seukuran telapak tangan. Sosok yang memegang bola kristal tersebut tak tampak rupa nya. Yang pasti, orang itu memakai kerudung.


Suara orang itu serak dan jahat, dengan sedikit tawa yang cekikikan, orang tersebut memantau seorang pemuda yang ditemani oleh tiga orang lainnya. Tak pernah menyangka ada orang yang seberani dirinya.


"Jadi inilah, anak yang dibicarakan oleh si Necromancer? Menarik, sangat menarik!"