
Ini agak aneh. Bukan agak lagi, ini betul-betul aneh. Martial Arts Houman Style adalah seni beladiri yang tidak masuk akal dengan banyak serangan jarak jauh, sedang, dan dekat. Banyak tipuan dan trik dengan gerakan bebas yang terlihat menyeramkan. Dengan kebebasan yang absurd, serangan defensif juga tak kalah hebat. Intinya, Houman Martial Arts ini sangatlah fleksibel dan hampir sempurna.
Aku tak pernah membayangkan untuk bertemu dengan pengguna seni bela diri ini, di bumi ini. Setidaknya, diluar sana ada yang menggunakannya. Tapi, kenapa ... Kenapa boneka ini bisa meniruku?
Apakah teknologi memang berkembang sangat jauh? Sialan, bikin pusing saja.
Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Aku sama sekali tidak sadar dengan mereka yang sedang bertarung. Gelombang ledakan yang dahsyat ada dimana-mana.
Aku hanya berdiri disini, sedangkan Via dan Johan bertarung dengan apik walaupun cukup terdesak saat melawan manekin yang meniruku. Ini seperti aku kembali ke masa dimana aku belum menjadi Special. Hanya menjadi beban yang tidak bisa berbuat apa-apa. Mengesalkan sekali. Tapi, aku sudah menyiapkan mentalku. Aku sudah memutuskan aku tidak akan membocorkan kekuatanku di Akademi ini kecuali jika aku terdesak.
Lagi-lagi ku berpikir terlalu banyak. Aku tidak sadar jika manekin yang meniruku menghampiriku dan melompat sambil meluruskan tendangannya.
Beruntung, aku tiba-tiba bertukar tempat dengan Via. Via yang sedari tadi berada disisi Johan, melihatku akan diserang. Via langsung dengan cepat menggunakan skill pertukaran tempat. Dan sekarang, aku berada disebelah Johan yang sedang bertarung dengan dua manekin dengan gerakan pedangnya yang keren. Nih orang punya skill apa ya? Sayang banget aku gak bisa ngintip.
"Alan, menunduk!"
Johan mendorong kepalaku kebawah dan menangkis serangan-serangan yang datang dari manekin-manekin itu. Dia melindungiku dari banyak serangan. Rasanya seperti berdansa.
Sementara Via, dari yang kulihat, dia benar-benar terdesak. Kalau begitu, akan kebantu dia. Menyiapkan vial angin, aku mendorong manekin yang dilawan via.
"Johan!"
"Apa?"
"Tukar tempat dengan Via!"
Tanpa bertanya, dia dengan cepat bertukar tempat dengan Via. Mereka melakukan rotasi dengan cepat. Mereka sepertinya sering bertarung bersama. Mereka sangat kompak dan saling memahami satu sama lain. Baguslah, ini jadi lebih mudah.
"Johan, dengarkan aku jika ingin menang melawan manekin itu!"
Johan sempat bingung, tapi akhirnya mengangguk. Untung saja dia kooperatif.
"Menunduk!"
"Tendang!"
"Kunci dia! Kemudian banting!"
Johan berhasil mengikuti semua instruksi yang kuberikan, hasilnya? Tentu semuanya bekerja dengan baik. Sebagai pemilik dari Martial Arts Houman Style tingkat king, aku tau betul pola serangannya. Semua serangannya terbaca. Karena itu, manekin satu ini tak punya kesempatan.
Satu lagi kelemahan yang manekin ini punya. Dia tak mampu menggunakan sub skill Martial Arts Houman Style. Itu hanyalah manekin. Tidak mungkin dia bisa memanjangkan badan, mengeluarkan cakar, dan sebagainya.
Orang-orang mungkin mengira itu adalah gabungan dari beberapa serangan beladiri. Hehehehe, sok-sokan mau niru!
"Johan! Injak kakinya!"
"Kunci badannya! Kemudian penggal!"
Mungkin aku terkesan seperti penyuruh. Tapi, manekin itu berhasil dikalahkan. Selanjutnya, Johan membantu Via dan selesai sudah. Kami bertiga langsung berjalan menuju garis finish.
Pertanyaan keluar dari mulut Johan. Inilah pertanyaan yang kutunggu-tunggu.
"Pola serangannya sangat acak, tapi aku bisa menebaknya."
"Bagaimana?" Kali ini Via pun penasaran.
"Sebenarnya, pola serangannya memang sangat acak. Tapi itu sangat kelihatan kalau manekin itu mengincar titik vital. Manekin itu juga bergerak seperti menggunakan seni beladiri Capoeira. Namun, tak hanya itu. Itu seperti seni beladiri gabungan. Agak sulit untuk menebak serangannya. Tapi, intinya, manekin itu selalu mencari kesempatan untuk menyerang, walaupun dari posisi yang mustahil."
Mereka berdua terkesima dengan penjelasanku. Ini penjelasan terbaik yang bisa kuberikan pada mereka. Aku sendiri bingung dengan esensi dari beladiri ini. Tapi, setelah mendapatkan Martial Arts Houman Style tingkat king, aku jadi tau inti dari seni beladiri ini.
Tiba-tiba, setelah melewati garis finish. Suara pintu terbuka terdengar dan terlihat kalau Nusa berlari terbirit-birit kearah Pak Arton. Dia sudah bangun, huh? Cepat juga.
Apa mungkin dia dibantu oleh salah satu murid? Atau bahkan guru? Sudahlah, aku tak peduli. Nusa diroasting habis-habisan oleh Pak Arton. Aku hanya bisa menahan tawa.
Nusa tak akan bisa melaporkan tindakan ku. Cairan itu juga membuatnya hilang ingatan. Bukan hilang ingatan yang parah, sih.
Sekarang, aku tinggal menunggu semuanya selesai.
***
"Gila! Capek banget!"
Norga yang duduk dikursi tiba-tiba mengeluh. Memang tes itu sangat sulit bagi mereka.
"Kau akan terbiasa, Norga."
Anak didepan Norga menjawab, namanya Nando. Dalam beberapa waktu, mereka sudah berteman dengan anak-anak disini. Baguslah kalau begitu.
Secara tiba-tiba, bel istirahat berbunyi. Akhirnya, aku bisa mencoba kantinnya.
"Alex, Cindy, Norga, let's go!"
Tak membutuhkan waktu lama, kami berlari kearah kantin dan seperti kantin pada umumnya, kami mengantri untuk membeli makanan yang kami mau.
Aku membeli nasi goreng super pedas. Yang lainnya membeli spaghetti, bakso, dan burger. Harga makanan disini lumayan murah.
Kami segera menduduki bangku yang kosong dan makan dengan lahap. Meski lahap, tapi orang-orang memperhatikan kami. Bagaimana tidak? Kami adalah murid baru. Tentu saja kami akan menjadi pusat perhatian. Tapi aku sih bodo amat.
Yaaa, setidaknya sampai orang menyebalkan menghampiriku.
"Jadi, kau murid baru?"
Rambutnya berwarna biru panjang, berpakaian rapi tipikal anak teladan. Matanya menatap tajam, tapi ada maksud lain dimatanya. Jarinya yang lentik membelai pipiku. Orang yang elegan ini, sama sekali tidak punya sopan santun sejak dulu. Aku sangat kenal orang ini.
"Perkenalkan, aku Nera Karima. Kamu tampan juga, mau jadi pacarku?"
And yes, kumat lagi kebiasaannya.