The Slayers

The Slayers
Chapter 140 (Season 3)



Pagi, sekitar jam 08:13 WIB. Guild master dari Guild Chaos, Ling Hua sedang menikmati empuknya sofa diruangan pribadinya. Tiba-tiba, ada yang membuka pintunya dengan keras.


"Nona, ada tamu yang datang." Ucap Xiao mei yang merupakan asisten pribadi Ling Hua.


Ling Hua pun kaget dan bangun dari tidurnya yang nyaman.


"Siapa ... yang berkunjung?" tanya Ling Hua dengan malas karena masih mengantuk.


"Si orang gila."


"Orang gila?" tanya Ling Hua, dia masih mengumpulkan nyawa, jadi tidak sepenuhnya sadar.


"Hei, Ling Hua! Aku berkunjung nih! Kau tidak mau menyapaku?" Alan, dari balik Xiao Mei, menyapa dengan ceria.


'Oh, orang gila yang itu.' Ucap Ling Hua dalam hati. Mendengar suara dari Alan, rasa ngantuk Ling Hua langsung hilang. Rasa ngantuk itu berubah menjadi rasa kesal.


"Baiklah, masuk!" titah Ling Hua.


Alan, beserta rombongannya masuk keruangan pribadi Ling Hua. Karena kali ini lebih banyak pengunjung, Ling Hua menjadi kaget.


"Kenapa rame sekali?"


"Kenapa? Suasananya jadi lebih hidupkan?"


"Aku tidak mau mendengar kata itu dari orang yang rumahnya seperti penjara."


"Heh, at least, aku tidak cuma tidur dan main game."


Kata-kata itu, Alan secara langsung memicu api membara yang ada dalam diri Ling Hua. Alan mendengar suara kaca retak. Hawanya pun terasa tidak enak, terutama ekspresi Ling Hua yang tiba-tiba jadi dingin.


"Hei, hei, aku cuma bercanda. Ada anak-anak disini, kau bisa menakutinya!" Alan mencoba menenangkan Ling Hua dari kemarahannya


Ling Hua tidak melihat adanya anak kecil, sebelum akhirnya memperhatikan sesuatu dibalik kaki Alex.


Ada anak kecil yang hampir menangis, mengintip dari balik kaki Alex. Anak kecil itu punya rambut hitam dan mata hitam yang biasa dengan kulit putih susu. Anak itu terlihat sangat menggemaskan hingga membuat Ling Hua tenang.


"Anak siapa itu?"


"Inilah tujuanku datang kesini."


"Tapi sebelum itu, aku ingin membeli beberapa peralatan untuk mereka bertiga."


Alan menunjuk kebelakangnya menggunakan jempol. Alex, Norga, dan satu lagi Cindy, seketika menunduk dan menyapa Ling Hua.


"Selamat pagi, Nona!" serentak mereka bertiga.


"Ah, perkenalkan, saya Cindy Miria. Saya baru-baru ini membentuk tim dengan Alex dan Norga."


Ling Hua mengangguk, menandakan kalau dia mengerti.


"Xiao mei, kau pandu mereka bertiga ke ruang senjata!" perintah Ling Hua.


"Baik, Nona! Kalian, silahkan ikuti aku."


Setelah itu, hanya tersisa Alan, kembar tiga, dan Ling Hua. Kembar tiga ingin mengikuti yang lain, tapi Alan menyuruhnya untuk tetap disini.


"Ada tiga? Ditambah lagi, kembar?"


"Yap."


"Kenapa semuanya imut sekali!?" Ling Hua tergila-gila dengan keimutan mereka masing-masing. Nissa dan Ella langsung bersembunyi dibalik kaki Alan, sedangkan Riria hanya menatap Ling Hua dengan datar.


"Hei nak, mau main sama kakak?" tanya Ling Hua pada Riria yang tidak takut padanya. Riria hanya melangkah maju pada Ling Hua dan mengangguk. Ling Hua yang tak tahan langsung mencubit pipinya dengan gemas.


Pipi Riria dimain-mainkan oleh Ling Hua dan membuat Riria tidak nyaman.


"Sakit." Kata Riria, masih dengan wajah datar.


Ling Hua langsung tersadar dan berhenti memainkan pipi Riria.


"Maafkan aku, ya? Soalnya kau terlalu imut!"


Mendadak, Nissa berlari dan memeluk Riria dari belakang sambil berkata, "j-jangan mendekati Riria, kau penjahat!"


"P-penjahat!?" Ling Hua langsung sakit hati mendengar hal itu. Dikatai penjahat oleh anak seimut itu membuatnya sakit hati dan sesak.


"Nissa, jangan berkata seperti itu!" kata Alan.


"T-tapi, dia seperti penjahat!"


"Memang sih, tapi kau tau tidak?"


Nissa mendadak bingung sambil memiringkan kepalanya. Alan kemudian berjongkok dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan dengan sangat lantang.


"Kalian bertiga, mulai sekarang, orang ini akan menjadi Ibu baru kalian!" ucap Alan sambil menunjuk Ling Hua.


Pernyataan itu sangat mengejutkan, sampai-sampai keheningan datang bagai dikuburan.