The Slayers

The Slayers
Chapter 62 (Season 2)



Ledakan yang dihasilkan tidak begitu besar, tapi tetap saja, panci, meja, sendok, dan perabotan lainnya juga terkena dampaknya. Aku pun juga terkena, untung saja aku sempat mengaktifkan [Body Hardening].


Sangat sayang bahwa perabotanku hancur, harganya lumayan mahal dan mereka sangat nyaman untuk dipakai. Aku juga berharap semoga tetanggaku tidak menghiraukan ku. Tapi agak mustahil mereka menghiraukanku. Mereka itu tetangga yang tidak ramah dan juga saat pemakaman paman dan bibi, mereka tidak datang. Padahal paman dan bibiku orang yang baik dan sering membantu tetangga.


Untuk saat ini, aku tidak bisa melanjutkan kegiatan ku. Jika membuat middle health potion saja sudah merepotkan, bagaimana dengan High health potion.


Yang akan kulakukan adalah membeli pot untuk alkemi. Dan sepertinya aku butuh ruangan khusus untuk alkemi. Dan yang paling cocok untuk itu adalah di gudang. Untung saja Paman dan Bibi selalu membiarkan gudang kosong entah bagaimana caranya.


Sekarang yang harus kulakukan adalah menunggu, dan tentu saja akan kuhabiskan waktukku dengan menantang menara.


Cincin yang ada dijariku menyala dan aku pun jatuh tertidur pulas.


***Alan menghajar monster-monster dalam menara hingga pagi, tentu saja dia juga kena hajar. Tapi sudut pandang akan berpindah ke Johan.


"Hoaaammm..." Rise menguap, dia masih mengantuk. Dia tertidur dipundak Grace yang mana dia juga mengantuk, tapi dia berusaha untuk terjaga.


Kami sedang dalam perjalanan dalam Akademi. Aku masih tidak percaya bahwa anak berumur 14 dan 11 tahun masuk ke kelas yang sama denganku yang berumur 17 tahun.


Meski mereka masuk dengan bantuan orang dalam, tapi kemampuan mereka tidak bisa dipandang remeh.


Kami akan memulai kelas pertama kami. Aku sangat bersemangat dan gugup.


Aku menatap keluar jendela, langit mendung dan hawa dingin, aku suka suasana seperti ini.


"Ah, damainya." Kataku tanpa sadar setelah melihat keluar jendela.


"Hmmm?" Grace yang mendengar itu bingung.


"Ah, eh kau sudah bangun?" Tanyaku pura-pura tidak tahu, padahal aku tahu.


"Aku tidak tertidur daritadi."


"Oh iyakah?"


"Aku mungkin mengantuk, tapi aku juga bersemangat."


Kami berbicara beberapa menit sampai akhirnya penampakan Akademi yang megah sudah terlihat.


"Ah bentar lagi kita sampai."


"Hei Rise, bangun!, kita bentar lagi sampai." Grace membangunkan Rise yang tidur dipundaknya. Meski Rise masih mengantuk, tapi dia bangun dengan cepat.


Kami akhirnya tiba di Akademi. Aku tak bisa berhenti kagum dengan bangunan Akademi, aku masih merinding saat datang kesini.


"Ayo kak!" Grace yang tadi mengantuk sekarang sangat antusias, begitu juga dengan Rise.


"Baik." Aku ikut berjalan dengan mereka.


Dari luar, mungkin akan terlihat sangat sepi. Tapi saat pintu terbuka, banyak murid yang berkumpul di aula.


Mereka semua melihat papan hologram yang ada, papan hologram itu berisi kelas beserta murid-murid.


Aku memperhatikan dari jauh karena dia tidak bisa menerobos kerumunan. Lagipula, pengelihatan yang aku miliki sangat tajam.


Aku mencari-cari hingga menemukan namaku di bagian Kelas 10-D.


Setiap kelas berisi 40 orang, tapi kelasku hanya 36 orang. Kenapa tidak penuh?


Aku juga menemukan nama Rise dan Grace. Aku senang bisa sekelas dengan mereka.


"Wah, kita sekelas kak!"


Grace senang karena dia bisa sekelas denganku dan adiknya.


Rise juga senang, tapi dia tidak terlalu menunjukkannya.


"Mari kita berusaha dan lakukan yang terbaik!"


""Ya!!""


Setelah bersorak bersama, kami pergi keruang kelas kami.


Kami tiba dipintu yang megah dan berwarna putih.


Kalau dipikir-pikir kami-


**piip!!


Grace menempelkan kartu pelajar miliknya dan muncul suara dari scanner tersebut.


"Eh?"


"Itu untuk absen." Jelas Grace.


"Oh begitu."


"Kau tak membaca buku panduan?"


"Aku membacanya, tapi aku lupa, hahahaha."


Aku tertawa padahal itu bukan hal yang lucu.


"Sudahlah, cepatlah absen!"


Aku mengeluarkan kartu pelajar dan menempelkannya pada scanner. Rise juga mengeluarkan kartunya dan menempelkannya.


Kami bertiga masuk secara bersamaan.


Aku masuk dengan penuh keyakinan yang tidak bisa goyah.


Tapi itu hanyalah candaan, saat aku masuk, semua orang yang sibuk dengan masing-masing teman mereka yang mungkin berasal dari sekolah yang sama atau mungkin kenalan yang sudah lama tidak ketemuan.


Mereka langsung melihat kami, rasa pede ku langsung menurun hingga tingkat terendah, aku membeku ditempat.


"Hei, bergeraklah!" Untung saja ada Grace yang menyadarkanku.


Aku langsung berjalan cepat dengan menunduk, sedangkan Grace dan Rise mengikuti dari belakang dengan santai.


Aku duduk dibangku belakang. Sedangkan Grace dan Rise duduk bersebelahan di baris kedua.


Kami menjadi pusat perhatian, pertama karena Grace dan Rise yang sebenarnya belum cukup umur untuk masuk ke Akademi.


Yang kedua adalah aku yang entah kenapa bisa menempati peringkat satu.


Tak lama, seseorang membuka pintu, itu adalah Guru laki-laki yang akan mengajar disini. Mukanya terlihat lesu dan tidak punya semangat hidup.


"Selamat pagi, para siswa madesu!"


"Pagi!!"


Semua anak menjawab meski sapaan dari guru tersebut cukup aneh.


"Kalian adalah anak-anak yang diterima di Akademi ini karena kemampuan kalian, meski begitu, jangan sombong karena itu hanya tes untuk melihat kalian pantas atau tidak."


"Tantangan yang sebenarnya ada saat kalian memulai masa sekolah disini. Disini kalian akan bersaing satu sama lain untuk menjadi nomor satu."


"Yang nomor satu tidak selalu jadi nomor satu, kalian mampu menurunkan sang nomor satu dari tahtanya dengan kemampuan kalian.'


Mendengar itu, aku merasa merinding. Aku juga merasa ada yang memperhatikan ku.


"Karena itu, berjuanglah dan berusaha lah yang keras untuk menaikkan level kalian dan jadilah yang terbaik!!"


"Bapak sangat yakin bahwa diantara kalian, dimasa depan akan menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan bumi dari para monster."


"Buatlah para guru dan orang tua kalian bangga, kalian mengerti!?"


"Mengerti!"


"Apa kalian belum sarapan, kenapa lesu sekali!?, sekali lagi!!!"


"Mengerti!!!!"


Mulai dari situ, hidupku akan penuh rintangan dan aku akan bertemu dengan kawan baru ataupun musuh baru.