The Slayers

The Slayers
Chapter 160 (Season 4)



Pelajaran kelas produksi sudah selesai, sekarang, waktunya untuk istirahat. Lumayan menyenangkan, meski harus satu kelompok dengan orang-orang yang individualis, tidak terkendali, dan kekanak-kanakan. Hanya kehadiran Norga yang bisa berkompromi, ya itu karena dia penurut sih.


Aku dan Norga menuju ke kantin untuk makan dan berkumpul dengan Alex dan Cindy;kami sepakat untuk berkumpul setelah pelajaran selesai.


Saat tiba dikantin yang sangat luas, banyak orang berlalu-lalang. Seharusnya sulit untuk menemukan mereka diantara banyak kerumunan, tapi dengan [eyes of sage], ini menjadi sangat mudah.


'Oh, mereka ternyata sedang mengantri.'


Aku melihat mereka sedang terhimpit oleh orang-orang. Alex dan Cindy mengantri untuk mendapatkan makanan. Aku juga harus mengantri.


"Norga, kau ingin makan apa? Aku akan membelikannya untukmu, kau cari tempat duduk saja sebelum terisi penuh."


"Uhhh, kalau begitu, aku ingin ayam panggang dengan nasi, jangan lupa dengan sambalnya yang banyak, Kak!"


"Baiklah."


Aku dengan buru-buru pergi kearah penjual makanan dan membeli makanan yang aku inginkan serta yang diminta Norga. Sekalian, aku menghampiri Alex dan Cindy.


"Hei, Alex! Cindy!"


Mereka berdua yang sedang sibuk memesan makanan tiba-tiba menoleh kearahku dan melambai. Kami kemudian membeli makanan kami masing-masing dan duduk dimeja yang sudah ditempati oleh Norga. Kami kemudian mulai berbincang-bincang tentang kelas kami.


"Bagaimana dengan kelas pertarungan? Apa yang kalian lakukan?" Aku bertanya pada Alex yang mengikuti kelas pertarungan. Dia kemudian bercerita dengan antusias.


"Kelasnya sih sebenernya tidak terlalu spesial, hanya tarung sparing biasa. Namun yang menjadikannya spesial adalah pertarungan antara Kak Johan dengan orang bernama Reuben yang berasal dari kelas 10-A. Epik banget tadi!"


"Mereka sangat gesit dan handal dalam memakai senjata mereka;Kak Johan memakai pedang panjang dan Reuben dari 10-A memakai semacam butterfly knife."


"Butterfly knife?" tanya Norga dengan heran.


"Bagaimana caranya pedang bisa melawan butterfly knife?" Cindy juga bertanya dengan penasaran.


"Aku tidak tau pasti, tapi, yang pasti mereka beradu senjata dengan sangat sengit!"


Memakai butterfly knife dan mengadunya dengan pedang panjang? Job apa yang dimilikinya sehingga bisa melakukan hal seperti itu? Dia pasti bukan orang yang bisa dianggap remeh.


"Kau tau jobnya apa?" Aku bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi, siapa tau bisa dijadikan teman?


Sayangnya, Alex menggelengkan kepala dan berkata, "saat kutanya dengan teman sparing ku, dia tidak tau. Katanya, si Reuben ini jarang bergaul dan kudengar dia adalah orang yang tertutup, angkuh, dan punya senyum sarkastik. Setidaknya, itu yang kudengar dari teman sparing ku."


"Apakah dia murid yang terkenal?"


"Sepertinya iya, tapi aku tidak tau lagi."


"Siapa yang menang?"


"Kak Johan yang menang. Di waktu akhir-akhir sparing, kecepatan Kak Johan entah kenapa meningkat hingga membuat Reuben terkejut dan akhirnya kalah dari Kak Johan."


Aku tanpa sadar menaikan alisku. Tampaknya Johan tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.


"Bagaimana dengan kelas mistis, Cindy? Ada hal yang menarik?" Aku memutuskan untuk mengalihkan topik ke arah kelas mistis. Berhubung jobku ini masih punya koneksi dengan sesuatu seperti sihir.


"Kelas kali ini hanya mempelajari kategori spell secara mendalam. Aku mendapat banyak teman baru dalam sekejap, rasanya sangat menyenangkan!"


"Oh, itu bagus Cindy!" Puji Alex dengan semangat. Perempuan seperti Cindy memang seharusnya menjadi populer.


Nah, ini dia. Aku mulai menatap Norga yang juga menatapku. Kami berdua tidak yakin harus menceritakannya dari mana.


"...selain gurunya yang merupakan Top Slayer rangking 3 dan tugas yang diberikannya, semuanya-"


"Buruk!" Sebelum aku sempat melanjutkan, Norga memotong dengan satu kata protes yang tegas. Aku pun setuju dengan hal itu.


"Benar, apalagi aku dan Norga sekelompok dengan ... orang-orang yang unik dan menyebalkan, bisa dibilang begitu."


Cindy dan Alex menunjukan tatapan penuh simpati. Tapi aku percaya, satu kelompok dengan mereka adalah takdir yang membuat ide jenius di kepalaku meletus. Kami melanjutkan untuk memakan makanan kami. Tapi, baru makan beberapa suap, pandanganku tiba-tiba terpaku dengan seseorang yang duduknya jauh dari kami. Dia duduk sendiri, kesepian, dan tidak ada yang mau mendekatinya.


Aku mengenal orang itu, ya, kami cuma berbincang sebentar sih. Aku memutuskan untuk memanggil orang itu.


"Hei, Aris!"


Aris, anak dari kelas B yang satu angkatan denganku, melihat kearahku. Ekspresi tidak berubah, tapi dipikirannya, dia terkejut.


Aku kemudian melambaikan tangan sebagai isyarat untuk duduk dengan kami.


Namun, tampaknya, Norga, Alex, dan Cindy tidak terlalu setuju dengan ide tersebut. Tetapi, harusnya mereka semua bisa akrab dengan Aris jika tau sifat aslinya.


Aris kemudian berdiri sambil membawa nampan makanannya. Dia kemudian duduk di samping Norga.


Norga yang merasa gugup dan agak canggung berbisik, "Kak, kenapa kau menyuruh orang itu kesini!?"


Aku membalas dengan berbisik juga, "tenang, dia orang baik."


"Yo, Aris, bagaimana kabarmu?"


"Aku sehat..."


'Suaranya masih sangat dalam.' Sejak terakhir kita bertemu, suaranya masih sedalam ini.


Aku kemudian melihat Aris yang menatap Alex. Alex tiba-tiba merasa merinding. Apakah mereka saling kenal?


"Kau, Alex Dwisatya?"


"I-iya, halo..."


"Oh, kalian saling kenal?" Aku tidak menduga hal ini.


"Alex melakukan sesuatu yang sangat luar biasa..."


"Luar biasa?" Aku, Norga, dan Cindy berbicara secara serentak.


"Tidak tidak tidak, kau lebih luar biasa lagi, haha ...."


Alex sangat tertekan dengan kehadiran Aris, apakah Aris melakukan sesuatu yang membuat Alex takut, atau Alex hanya terintimidasi oleh tubuh Aris yang besar saja?


Saat sedang berpikir, tiba-tiba, ada pengumuman yang terdengar.


"Perhatian semuanya, jam pelajaran akan ditunda dikarenakan adanya pertandingan."


"Hah, pertandingan? Norga bingung sejenak. Tiba-tiba, muncul layar lebar yang ada di dinding kantin. Aku, Norga, Alex, dan Cindy bingung dengan perubahan yang tiba-tiba ini, melihat layar yang tiba-tiba menyala. Menampilkan aspek yang mengubah pandanganku pada Akademi ini dan mungkin yang akan paling kusuka dari Akademi ini.