
"APA MAKSUDMU!?"
"Woah woah, tenang dulu, Nona."
Ling Hua langsung meledak dan bingung dengan keputusan semena-mena Alan. Siapa juga yang tidak marah jika ada keputusan yang dinyatakan secara tiba-tiba gitu, 'kan?
"Jadi, begini, dekatkan kupingmu."
Alan menjelaskannya semua pada Ling Hua dengan berbisik-bisik. Ling Hua mengerti semuanya, tapi dia tetap agak keberatan.
"Hmmm, bagaimana ya? Aku kurang bisa mengurus anak." Ling Hua ingin mengurus mereka, tapi takutnya dia tidak bisa menjadi ibu(angkat) yang baik.
"Tenang saja, menurutmu kamu cocok jadi ibu."
Ling Hua bingung entah harus senang atau sedih. Dia ingin hidup santai, setidaknya tugas sebagai Guild master sudah cukup merepotkan baginya. Sekarang ada tiga anak kembar yang menggemaskan untuk dia asuh. Dia sama sekali tidak punya pengalaman dengan anak-anak.
Ditambah, Ling Hua iba dengan anak-anak ini dan ingin melindunginya. Jadi, Ling Hua akhirnya memutuskan untuk mengurus mereka bertiga.
"Aha, terima kasih atas kerjasamanya, Nona." Kata Alan sambil menjulurkan tangannya dengan maksud ingin berjabat tangan. Ling Hua menerima jabat tangan tersebut.
"Nah, jadi anak-anak, orang ini resmi jadi Ibu kalian!" ucap Alan dengan semangat.
"Tapi ...."
"Kenapa, Ella?"
"Ayah kami siapa?"
"Kalau itu ...."
Alan langsung menoleh pada Ling Hua dan berbisik padanya lagi.
"Kau punya pacar?"
"Gak lah!"
"Mau jadi pacarku?"
"Boleh- eh? Apa!?" Ling Hua jadi terkejut dan mukanya jadi memerah, semerah tomat.
"Eh, beneran diterima nih?" Alan tentu senangnya bukan main.
"T-tidak! Lupakan yang tadi!"
"Hahaha, baiklah, aku juga cuma bercanda." Alan kemudian menjauhkan wajahnya dari kuping Ling Hua. "Tapi kalau beneran boleh sih."
"Maaf, tidak dulu."
"Baiklah."
Alan kemudian berjongkok pada tiga kembar dengan senyum dan berkata, "maaf anak-anak, tapi kalian tidak dapat ayah baru."
"Kenapa begitu?" tanya Nissa dengan kecewa. Ella juga menunduk dengan sedih. Alan melihat Riria yang mukanya datar, tapi Alan merasa entah mengapa Riria juga kecewa.
"Kalian tidak dapat ayah baru karena ... Ibu baru kalian tidak punya suami."
"Kenapa tidak langsung cari saja?" tanya Nissa dengan sangat polos.
"Dengar, Nissa, mencari pasangan itu tidak gampang. Jika pasangan ibu tidak cocok atau punya hal buruk, kalian bisa kena hal buruk." Ujar Alan.
"Lalu, kenapa Kak Alan tidak jadi ayah kami? Kak Alan terlihat dekat dengan Kakak itu."
"Hmmmm ...."
Alan merenung sejenak dan akhirnya berkata, "baiklah, kalian boleh memanggilku Ayah. Setidaknya sampai ibu kalian bertemu dengan jodohnya, aku akan menjadi Ayah kalian, oke?"
"Oke!" ucap mereka serentak.
Nissa, Ella, dan Riria mengangguk dan menghadap Ling Hua secara serentak dan mendekatinya.
"Tolong rawat kami ya, Ibu!" Nissa menjadi perwakilan antara tiga kembar dan selesai berbicara, mereka menunduk.
"Awwww! Pasti! Aku dengan senang hati akan menjaga kalian, anak-anakku!" Ling Hua kemudian memeluk ketiganya. Ketiganya tidak menolak dan memeluk balik.
Alan tersenyum hangat melihat pemandangan itu. Rasanya damai dan menyenangkan untuk dilihat.
Tiba-tiba, ada yang menggebrak pintu dengan keras. Membuat Alan dan yang lainnya menoleh kearah pintu.
Ternyata yang menggebrak pintu adalah Norga, diikuti oleh Alex dan Cindy dibelakangnya.
"Kak Alan! Kami sudah selesai memilih perlengkapan!" ucap Norga dengan ceria.
Alan melihat tubuh mereka dari atas sampai bawah. Norga memakai armor dada dipadukan dengan pakaian serba hitam yang terbuat dari kain berkualitas tinggi. Dipunggungnya ada palu besar yang terlihat kuno. Alan memeriksa dengan [Eyes of Sage] dan ternyata itu untuk kebutuhan Blacksmith.
Alex memakai armor full lengkap berwarna perak dengan hiasan bulu putih. Dia terlihat seperti kesatria.
Cindy kemudian hanya memakai jubah penyihir berwarna ungu dipadukan dengan warna putih. Menurut Alan itu cocok untuknya.
"Kalian semua terlihat keren dengan itu."
"Terima kasih!" ucap mereka serentak.
"Berapa totalnya, Ling Hua?"
"Hmmm, 3 miliar!"
"Baiklah."
Alan membuka ponselnya dan segera meng-transfer uangnya dengan segera.
"Sudah, Aku akan balik dulu. Jaga mereka baik-baik."
Alan sebelum pergi melakukan kebiasaannya, yaitu menepuk kepala Ling Hua. Kali ini, kepala tiga kembar juga ditepuk sambil berkata "jadi anak baik ya, sayangi dia seperti kalian menyayangi ibu kandung kalian."
Anak-anak itu mengangguk kencang. Setelah itu, mereka pun pergi.
***
"Anak-anak itu tidak ikut kita?" tanya Norga yang heran.
"Tidak, aku merasa menitipkannya pada Ling Hua akan menjadi pilihan yang tepat."
Norga tidak bisa melakukan apapun dan merasa sedih. Jika Alan mengadopsi mereka bertiga, Norga bisa menjadi kakak mereka. Dia selalu ingin adik, terutama adik perempuan. Dia ingin menjadi kakak yang bisa diandalkan.
Alan melihat pikiran Norga dan hanya tersenyum. Mau bagaimana pun, ini pilihan yang paling tepat menurutnya.
Alan tidak ingin berurusan dengan anak kecil kecuali jika terpaksa.
"Hei, mari kita leveling besok. Aku bentar lagi mau mendapat job kedua ku nih."
"Hah? Yang benar?" Norga sangat terkejut mendengarnya.
"Woah selamat, Kak!"
Mereka bertepuk tangan dengan semangat. Alan menjadi malu, tapi juga bangga.
"Ya, karena itu, mari kita leveling seharian!"
"Oke!" mereka dengan serentak bersemangat untuk hari esok. Sedangkan Alan, dia hanya berharap dia tidak bertemu dengan masalah yang merepotkan seperti kemarin.
Tapi sepertinya Alan harus bersiap-siap karena takdir sudah berkata lain ....