The Slayers

The Slayers
Chapter 134 (Season 3)



Pada hari yang sama dengan Alan dan kawan-kawannya. Di malam yang sunyi dan sejuk. Pemuda dari Akademi Slayer Indonesia membuka gagang pintu kamarnya secara pelan dan senyap. Pemuda itu mempunyai rambut hitam yang disisir rapi, mata emas, kulit putih, dan tinggi 173 cm. Pemuda itu tidak lain adalah Johanes Satriaputra.


***


POV Johan.


Pada malam yang sunyi, aku keluar dari asrama laki-laki dengan senyap. Sudah jam sembilan malam dan aku tidak ingin membangunkan mereka yang sedang beristirahat.


"Kak Johan? Apa yang sedang kau lakukan disini?"


Lupakan, masih ada orang yang berkeliaran dimalam hari ternyata. Salah satunya adalah Grace Randell. Aku baru saja berjalan beberapa langkah dan Grace menyapaku dari belakang. Aku tidak jadi pergi ke kota dengan diam-diam.


Grace memakai kaos putih biasa, dengan jaket training berwarna biru dan celana training yang kontras. Grace menatapku dengan mata melas, apakah dia kurang tidur?


"Ada apa Grace, kau belum tidur?" Aku tidak bisa menghindar, jadi mungkin aku akan mengajak Grace sekalian, kalau dia mau.


"Aku tidak bisa tidur, jadi aku mencari udara segar."


"Ohhh, kalau Risse? Dia sudah tidur?"


"Iya, Risse kelelahan setelah belajar."


"Ah baiklah kalau begitu."


"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kak Johan."


Oh iya, daritadi aku bertanya balik sehingga aku belum menjawab pertanyaan Grace.


"Aku berencana untuk pergi ke kota, mau ikut?"


"Kota? Kota mana?"


"Surabaya dong!"


"Serius? Jaraknya jauh dari sini, bagaimana kau ke kota Surabaya?"


"Aku punya trik khusus!"


Grace langsung menaikkan alisnya dengan ekspresi bertanya-tanya sekaligus tidak percaya.


"Trik macam apa?"


***


"....aku baru ingat kalau kau punya sayap."


Grace penasaran dengan trikku dan akhirnya memutuskan untuk ikut. Aku menyuruhnya untuk naik ke punggungku. Dia awalnya menganggapku gila, tapi akhirnya dia ikut.


"Haha, beginilah caraku untuk pergi ke Surabaya. Kalau kau dan adikmu mau pergi ke Surabaya, bilang saja padaku, tidak usah sungkan!"


"... baiklah, terima kasih."


Aku tersenyum mendengar rasa terima kasihnya. Grace merupakan seorang kakak yang keras kepala tapi bertanggung jawab. Dia tidak mau merepotkan orang lain dan mandiri. Tapi Grace sedikit melunak hari ini, aku senang akan hal itu.


Setelah tiga puluh menit, kami akhirnya sampai di kota Surabaya. Kami langsung turun disalah satu rumah warga dengan hati-hati.


Grace turun dari punggungku dengan hati-hati. Grace langsung memandang kota dari atas, dari sini pemandangannya sangat indah.


"Ayo kita jalan-jalan, Grace!"


Grace membalas dengan anggukan saja. Kita turun dengan hati-hati tanpa menimbulkan banyak suara dan berjalan dengan santai. Tujuan ku adalah pergi untuk melihat pasar malam. Kemarin kalau tidak salah hari ini kan?


"Kau ke kota Surabaya untuk sekedar berjalan doang, kak?" Grace memecahkan kesunyian beberapa menit.


"Tidak dong, aku mau pergi ke pasar malam dekat sini."


Kata pasar malam membuat Grace membuka matanya lebar-lebar.


"Ada pasar malam? Kenapa Kak Johan tidak bilang? Ayo kak, aku tidak sabar untuk kesana!"


Grace langsung bersemangat untuk pergi, dan langsung berlari. Benar-benar, dia memang selalu semangat masalah makanan. Aku ikut berlari bersama dengan Grace dengan senyum. Aku juga menjadi makin semangat walau sudah malam.


Setelah beberapa menit, kami sampai disana. Masih ramai meski sudah malam. Kami langsung membeli banyak makanan yang kami suka dan mencoba beberapa makanan yang belum pernah kami makan. Grace juga membelikan beberapa makanan manis untuk Risse.


"Ah, kenyang sekali .... " Kata ku. Banyak sekali makanan yang kubeli. Agak susah untuk berjalan karena kenyang.


Anehnya, Grace masih makan dengan lahap. Selain bungkusan makanan untuk Risse, dia memegang banyak makanan di tangannya. Dia makan lebih banyak daripadaku, tapi dia masih bisa makan dengan rakus membuatku bertanya-tanya berapa kapasitas perutnya.


Akhirnya, setelah beberapa menit, Grace puas dengan semua makanan yang dia makan dan kelelahan.


"Mari pulang, sudah malam nih."


Kami pergi ketempat yang agak sepi. Aku tidak mau sayapku dilihat banyak orang. Tapi, aku merasakan hawa membunuh yang tiba-tiba ada dipasar malam. Grace sepertinya juga merasakan hal itu dan menjadi waspada.


'Hmmm? Jumlahnya banyak, apa mereka akan membuat kekacauan?'


Akan gawat jika mereka mengacaukan pasar malam. Aku akan menghentikan mereka sebelum mereka bisa melakukan aksinya.


'Seraphim!'


[Ya, aku tau.] Seraphim, malaikat yang mendampingiku selama ini muncul.


[Ada sekitar 23 orang, Johan. Ada yang berada diatas atap gedung. Tapi ada dua yang berada di area pasar. Berhati-hatilah, musuhmu kali ada yang berlevel tinggi, lebih tinggi darimu!] Ucap Seraphim memperingatkan ku.


'Tentu, Seraphim.'


"Grace!"


"Aku tau!"


Aku dan Grace segera melompat dan melambung tinggi yang kemudian aku mendarat disalah satu atap bangunan. Aku dan Grace berada dibangunan yang berbeda.


Aku merasakan hawa membunuh yang kehadirannya tersembunyi.


Tiba-tiba, aku merasakan hawa kehadiran dibelakangku. Saat aku menoleh kebelakang dengan cepat, ada orang berpakaian serba hitam dengan pisau ditangannya. Dia berniat menusukku dari belakang.


Dengan cepat, aku berbalik dan memukul wajahnya dengan cepat. Tak sampai disitu, ada lagi orang yang berniat menusukku dari belakang. Dengan cepat, aku memukul dengan keras mukanya, lagi.


Aku jadi heran, kenapa mereka lemah sekali? Apakah mereka hanya orang-orang amatiran yang ingin membuat kekacauan? Aku melihat pada pakaian mereka ada terdapat lambang yang familier.


Aku menunduk untuk melihat dengan baik. Ternyata, memang benar, aku tau lambang ini. Lambang ini merupakan lambang yang ditakuti oleh para Slayers. Mereka berasal dari organisasi kriminal Slayer, Necron.


Mereka berniat berbuat kekacauan lagi, kah? Aku tentu tidak akan membiarkan mereka mengacaukan pasar malam yang indah ini! Banyak orang tak bersalah disini, aku akan segera menghentikan mereka.


Aku segera kembali dalam posisi tegak. Melihat sekeliling, aku mendeteksi ....


"Cuma dua?"


Saat aku melihat sekeliling dengan [Angel Eyes] untuk mendeteksi musuh, hanya ada dua orang diatas dan dua dipasar malam sudah menghilang.


"Ini aneh, siapa yang membereskan para Necron?"


Aku segera melesat kearah dua orang terakhir. Siapa tau aku bisa bertemu dengan orang yang memberantas para Necron. Kalau Grace, tidak mungkin dia bisa menghabisi banyak musuh sendirian. Dia adalah seorang penembak jitu, jadi dia kurang dalam hand-to-hand combat. Aku dan Grace sendiri tidak membawa senjata kami. Jadi hand-to-hand combat adalah hal yang bisa kami lakukan sekarang.


Aku hampir dekat dengan lokasi terjadinya pertarungan. Saat aku mendarat, aku langsung menghampiri kedua orang yang tengah bertarung. Salah satu pria yang memakai seragam serba hitam Necron, satu lagi hanya memakai jaket berhoodie yang membuatku tidak bisa melihat seluruh wajahnya. Pria yang memakai seragam Necron menyerang dengan liar, tapi orang berhoodie menghindar dengan cepat. Orang itu rasanya jadi seperti bertarung dengan udara.


"Berhenti!"


Kedua orang yang sedang berkelahi jadi berhenti dan menatapku.


"Sialan."


Orang berhoodie bergumam, tapi aku masih bisa mendengarnya. Dari mulutnya, dia pasti orang yang kasar.


Orang berhoodie kemudian berada didepan pria berseragam Necron dan meng-uppercut pria itu hingga kepalanya putus dan melayang ke langit sebelum akhirnya jatuh dan menggelinding di lantai atap.


'Dia, sangat kuat dan cepat!' Orang berhoodie itu sangat cepat dan tanpa ampun. Mungkinkah dia lebih kuat dariku? Aku sedang tanpa pedangku sekarang. Aku akan dirugikan dalam pertarungan ini.


Tapi aku harus mencari tau tentangnya, siapa tau dia ada hubungannya dengan kejadian ini.


"Hey, kau-"


Sesaat setelah aku memanggil orang berhoodie itu, orang itu langsung menghilang dalam sekejap mata. Sangat cepat! Lebih cepat dari yang tadi, bahkan aku belum berkedip! Yang terakhir aku lihat hanyalah matanya yang berwarna merah darah.


Aku tidak tau siapa orang itu, tapi kuharap dia tidak berbuat sesuatu yang buruk.


Kurasa aku akan langsung pulang dengan Grace ....


***


"Huft, siapa sih orang itu? Mengganggu saja."


Seorang pemuda menurunkan Hoodienya dan menunjukan wajah tampan, putih pucat, dan mata merahnya yang semerah darah. Pemuda itu tidak lain adalah Alan Lexius.


Alan baru berteleportasi ketempat yang dekat dengan hutan kota. Dia barusan sedang berada dipasar malam dan merasakan hawa membunuh. Tentu dia gerak cepat untuk mengecek. Ketika melihat lambang Necron pada seragam mereka, Alan langsung tanpa ragu membantai semua.


"Hei, Alex, Norga, Cindy, keluarlah! Aku sudah muncul nih, ayo pulang!"


Tidak ada respon dari ketiga orang yang dipanggil.


"Hmmm, kemana mereka? Apa jangan-jangan, mereka meninggalkanku?"