The Slayers

The Slayers
Chapter 116 (Season 3)



Pedang-pedang perak yang dikelilingi oleh kekuatan magis berwarna hijau melayang dilangit. Pedang-pedang itu melayang disekitar tuannya, yaitu Alan. Semua pedang itu terarah pada satu wanita yang mukanya cukup terkejut. Semua pedang dengan ujung tajam itu siap untuk menusuk tubuh wanita didepannya.


Bukannya bersiap-siap, Wanita itu malah cekikikan. "Menarik, sangat menarik!"


Penyihir itu menjadi bersemangat dan tersenyum aneh. Dari rambut hitam yang panjangnya tidak normal, tumbuh batang kayu yang panjang dan perlahan batang kayu tersebut melayang disamping sang Penyihir.


'Apa itu? Tongkat sihir?' Pikir Alan, menebak-nebak.


Ternyata, memang itu adalah tongkat sihir. Sang Penyihir mengarahkan ujung tongkatnya kelangit, muncul lingkaran sihir yang rumit secara tiba-tiba, disertai dengan bisikan mantra yang aneh dan misterius.


Tubuh Alan tiba-tiba menegang, dia merasakan bahaya dari mantra tersebut. Karena itu, Alan segera melesatkan semua pedang perak diudara, semua berfokus pada sang penyihir.


Sang penyihir tidak merasakan ancaman apapun. Dia menyelesaikan mantranya dan dari situ, mendadak, Alan merasakan sesuatu dalam tubuhnya. Rasanya aneh, kosong, dan seperti ada yang hilang dalam tubuh.


Pedang-pedang yang hendak menusuk sang penyihir, satu persatu mulai jatuh ketanah. Akhirnya Alan menyadari apa yang terjadi dengannya.


Tidak ada yang salah dengan tubuhnya, yang salah adalah kondisi mana disekitarnya. Pedang-pedang yang tadi terjatuh, mulai melayang kembali, tapi Alan tidak mengendalikannya.


"...dasar penyihir licik." Ucap Alan dengan nada yang dalam.


Alex dan Norga tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi, tubuh mereka tiba-tiba menjadi aneh. Lyfa pun menggeram dengan buas.


"Aku tak berharap kau punya mantra seperti itu."


"Hehehe, sekarang, area ini sudah menjadi Domainku. Apa yang akan kau lakukan, Alchemist aneh?"


Alan tersenyum, mantra tadi adalah pembentukan Domain yang berefek mengunci mana lawan ataupun kawan. Itu memiliki nama [Domain of Witchcraft:Ruler of mana].


Alan tidak bisa menggunakan [Mana Inferno]. Ditambah juga dia tak bisa menggunakan vial, karena mengendalikan vial perlu menggunakan mana. Alan pun tak bisa menggunakan [Spear of Hydra] dan barang-barang lain. Jadi, serangan fisik lah jawabannya.


"Hmmm?" Alan menyiapkan kuda-kuda yang agak membuat sang penyihir terkejut.


Alan mengepal tangannya dengan kuat dan lengannya menyusut. Semuanya langsung terkejut, mengira kalau tangan Alan menghilang.


Alan menarik nafas dengan pelan dan ketika dia menghembuskan nafasnya, dengan nafsu membunuh yang terarah pada sang penyihir, tangannya melesat dengan kencang.


Serangan itu melesat dengan sangat cepat, bahkan sang penyihir tidak sadar kalau kepalan tinju Alan sudah didepan wajahnya. Beruntung, berbagai tangan kurus dengan kulit busuk menghadang tinju Alan.


Penyihir itu terkejut, dia merasa tinju itu akan menghancurkan wajahnya. Saat sang penyihir masih dalam keadaan kaget, dia tidak sadar kalau Alan sudah ada dibelakang tubuhnya untuk melancarkan pukulan.


Mungkin sang penyihir terkejut, tapi tidak dengan para mahluk busuk itu. Saat tinju Alan hendak mengenainya, tangan-tangan busuk muncul dari portal yang tercipta diudara dan dengan cakar tajam mereka, lengan Alan ditusuk secara bersamaan.


"Cih, menyebalkan!" Alan secara paksa menarik tangannya, membuat tangannya terputus. Dia secara cepat pergi dan berpijak didinding yang terbentuk dari jaring laba-laba, layaknya sebuah monster. Tangan yang putus itu beregenerasi, kembali seperti semula. Itu membuat sang penyihir sangat terkejut, yang lainnya juga tak kalah.


Alan kemudian bergerak dengan sangat cepat, menyerang sang penyihir dari segala sisi dengan gerakan akrobatik, breakdance, dan dengan menggunakan jurus-jurus milik Houman.


Sang penyihir kesulitan mengimbangi kecepatan milik Alan, tapi dia bisa bertahan berkat bantuan dari mayat-mayat busuk yang ada.


"Huh!?" Alan secara tiba-tiba terkejut karena sebuah lidah panjang hampir mengenai kulitnya. Ternyata itu milik Collosus yang baru muncul.


Melihat Collosus yang muncul membuat Alan bersemangat, sebab, Sumber material yang langka ada disini.


Alan mulai melesat kencang dengan nafsu membunuh yang kuat. Meninju tubuh sang Collosus tanpa ampun, tapi itu tidak mudah karena meski kelihatan kurus kering, tapi kulit Collosus sebenarnya sangat keras.


Disisi lain, saat Alan menggila, Alex dan Norga sangat kebingungan, disertai dengan rasa takut yang tumbuh saat melihat Alan dengan brutal menghajar Collosus.


Melihat sisi Alan yang baru, mereka semakin merasa, Alan banyak menyembunyikan rahasia dari mereka. Dan merekapun bertanya-tanya dalam hati mereka, apa sebenarnya alasan Alan mau mengajar mereka berdua.


Mantra itu melesat menuju arah Alex dengan cepat;Alex tidak dapat bereaksi sama sekali karena itu terlalu cepat.


Karena itu juga, Alex tidak sadar kalau tubuhnya didorong oleh sesuatu. Dan saat dia sadar, dia melihat Lyfa yang terluka karena api panas.


"L-Lyfaaaaaaa!!!" Teriak Alex dengan panik. Dia berlari sekencang mungkin kearah Lyfa dan memeluknya, sambil mengecek tubuhnya. Beruntung, Lyfa masih hidup meski sekarat.


"Baj*ngan!" Amarah Alex meledak, mengambil ganjur dari Inventory miliknya, dia melesat kencang. Dia menghunuskan ganjurnya, bertujuan untuk menghancurkan kepala sang penyihir. Sang penyihir tak takut sama sekali. Sang penyihir mengangkat tongkat sihirnya dan merapal mantra perlindungan.


Seketika, sebuah perisai tak kasat mata terbentuk disekitar sang penyihir, serangan Alex dihentikan karena itu.


Alex yang serangannya digagalkan pun kesal dan ingin menyerang lebih lanjut. Tetapi, dia melihat tangan kiri sang penyihir yang diselimuti oleh sihir berwarna ungu.


'Oh, si*l!'


Bulu kuduk Alex berdiri, dia merasa kalau kematian akan segera menjemputnya. Dia tidak ingin mati diusia yang sangat muda, belum punya pacar, anak, belum menjadi Slayer yang hebat dan dikenal banyak orang. Bagian terburuknya, yang membunuhnya adalah mahluk yang mendiami tubuh pujaan hatinya sendiri. Dia hanya bisa berharap, kalau kematiannya akan cepat tanpa rasa sakit.


Sementara itu, sang penyihir berpikir kalau dia akan menanamkan sebuah kutukan dalam tubuh Alex, dengan begitu, Alex akan menjadi sandra. Memikirkan itu, sang penyihir tersenyum lebar.


Tetapi, sebelum bisa menanamkan kutukan dibadan Alex, sebuah peluru melesat kencang, mengenai pundak sang penyihir. Sang penyihir kesakitan dan mantranya gagal.


Alex dan Norga tentu terkejut, saat mereka menoleh kebelakang, Collosus itu sudah tak bernyawa, dicabik-cabik dengan brutal. Diatas kepalanya, Alan berdiri dengan aura dominasi yang kuat, dengan revolver ditangannya yang bercahaya.


Tak lama, Alan menghilang dari tempatnya dan muncul didepan sang penyihir, mencekiknya, dan menghantamnya kedinding.


Sang penyihir meronta-ronta, tapi cengkramannya terlalu kuat.


"Batalkan mantranya!"


"Ti-tidak-"


Sang penyihir masih tetap dengan kebanggaannya, dia tidak menduga dengan apa yang akan Alan lakukan.


Alan langsung marah, dan meninju perut sang penyihir. Sang penyihir memuntahkan darah dari mulutnya, dia tidak pernah menduga Alan akan meninjunya.


"Aku tidak akan ragu untuk membuatmu tersiksa. Jadi, sebelum aku meninjumu dengan lebih keras, batalkan mantranya!"


Nadanya sangat mengancam, membuat sang penyihir ketakutan dan langsung membatalkan mantranya. Dari matanya, dia tahu kalau Alan serius untuk membunuhnya.


Saat Alan merasakan kembali mananya, dia langsung mengeluarkan [Mana Inferno] dan mengarahkannya pada sang penyihir. Sang penyihir terkejut, tetapi tubuhnya baik-baik saja, Malahan mananya perlahan menghilang dari tubuhnya.


Alan begitu selesai dengan sang penyihir, Alan berlari kearah Alex, Norga, dan Lyfa. Dia segera mengambil ramuan berwarna merah pekat dan dialiri sedikit mana, kemudian dituangkan ketubuh Lyfa.


Tubuh Lyfa yang terbakar mulai membaik dan seperti sedia kala.


"Huft, sudah selesai...."


"Selanjutnya..."


Alan berbalik dan perlahan berjalan kearah sang penyihir, kemudian dia berlutut dan menodongkan pistol kearah kepala sang penyihir.


"Ceritakan tentang dirimu, asal-usulmu, dan tujuanmu, jika menolak, aku akan menarik pelatuknya dan boom.... Palamu pecah!"


Sang penyihir langsung keringat dingin, dia bertanya-tanya kenapa ada orang seperti dia. Mau tidak mau, sang penyihir menceritakan semuanya...