The Slayers

The Slayers
Chapter 79 (Season 3)



"H-hei Norga, apa kau... terpilih?"


"Tidak, bagaimana denganmu, kak?"


"Aku... tidak terpilih."


Alex berbicara dengan suara yang lemas, tubuhnya bergetar dan seperti akan rubuh, seakan-akan hidupnya sudah tidak ada harapan. Sedangkan Norga, dia juga sama, tapi tidak separah Alex yang sudah seperti kehilangan hal berharga.


Norga hanya mendapat tantangan yang membuatnya harus menyatakan cinta didepan semua orang, Norga masih bisa menahan malu. Sedangkan Alex, tantangannya sangat memalukan. Siapa juga yang ingin menjadi babu orang? Mungkin hanya masokis saja yang mau.


"Sudahlah kak, setidaknya kakak harus mengetahui apakah kak Narta terpilih atau tidak."


"...benar juga kau, tapi bagaimana?"


Norga tidak menjawab, dia tidak tahu bagaimana cara untuk mengetahui Narta terpilih atau tidak.


Tapi, sebuah ide terlintas dipikiran Alex. Yaitu pergi kekantor Slayers. Biasanya orang yang terpilih akan langsung mendaftarkan diri disana. Mereka akan mendapat kartu Slayers, dana kehidupan, dan pelatihan dasar.


Tapi itu semua akan bertahan lama jika kau punya bakat hebat dan job langkah. Kau pasti akan diberi hak istimewa.


"Hei, ayo kita kekantor Slayers. Siapa tahu kita dapat melihat Narta disana."


"Benar juga kak!"


Mereka segera berlari kekantor Slayers. Letaknya tidak terlalu jauh dari alun-alun. Mereka juga pelari yang baik, jadi mereka segera sampai kesana.


Alex dan Norga kehabisan nafas mereka, mereka ingin sekali duduk, tapi didekat mereka tidak ada tempat duduk.


Alex yang masih capek kemudian membuka matanya lebar-lebar. Narta dan 3 teman sekelasnya berada didepan pintu kantor Slayers. Mereka bertiga berbincang dengan wajah ceria, kemudian mereka berempat menarik gagang pintu dan masuk.


"Oh tidak, matilah aku."


Alex sudah tak punya harapan, dia serasa ingin mati. Dia segera menarik baju Norga dan menyeretnya pergi dari sana.


"Eh, ada apa kak?"


Alex tak menjawab, dia hanya menarik baju Norga dan terus berlari.


Mereka terus lari sampai akhirnya Norga kesal dan melepas cengkeraman Alex dibajunya.


"Kau kenapa sih, kak!? Setidaknya jelaskan dulu kenapa kita tiba-tiba lari! Kau malah seenaknya menarik bajuku dan menyeretku tanpa memberitahu apa-apa."


Alex terdiam lama, membuat Norga kesal dan berniat meninggalkan Alex. Tapi Alex langsung membuka mulutnya.


"...Narta, dia terpilih," kata Alex dengan suara yang lemah dan kecil, terdengar seperti bisikan atau gumaman.


Tapi Norga bisa mendengarnya, dan langsung ikut bersedih. Akhirnya, keheningan menyelimuti mereka. Meski ada suara mobil dan orang yang teriak senang maupun histeris, mereka tidak terpengaruh.


"...sudahlah, mungkin sebaiknya aku menerima takdirku."


"..."


Karena tidak ingin lama-lama, mereka berjalan bersama dengan langkah lambat.


Norga tidak tahu bagaimana cara menghibur sahabatnya ini, sepertinya mustahil untuk menghiburnya sekarang.


Mereka melewati supermarket dan Norga berpikir untuk membelikan Alex keripik kentang rasa ayam kesukaannya.


"Tunggu sebentar kak, aku mau beli sesuatu."


Alex berhenti dan berbalik, dia mengikuti Norga dan masuk ke supermarket.


Di supermarket, Norga langsung mengambil keripik kentang rasa ayam dan membelinya.


"Ini kak!"


Sesaat, Alex bingung dan bertanya.


"Untuk apa ini?"


"Makanlah ini, siapa tahu ini akan menghiburmu, meski hanya secuil."


Alex menatap keripik kentang tersebut dan mengambilnya. Ekspresi di wajahnya tidak berubah, masih sedih.


Alex tiba-tiba berjalan kearah pendingin dan membukanya untuk mengambil minuman.


"Hey Norga, ayo beli banyak snack."


Alex akhirnya tersenyum meski hanya sedikit. Norga pun juga ikut tersenyum dan langsung melihat snack yang terpajang.


Tidak banyak orang dalam supermarket, hanya ada sepasang ibu dan putrinya, Alex, Norga, seorang pemuda bersama pacarnya, dan seorang dengan jaket berhoodie dan tinggi tubuh yang pendek. Dan tak lama, orang dengan jaket berhoodie juga muncul, tapi yang kali ini tubuhnya tinggi


"Ibu! Ibu! Aku mau yang ini!"


"Tidak boleh, nanti gigimu rusak loh!'


Seorang anak meminta ibunya untuk membelikannya permen coklat. Tapi tentu saja ibu tersebut menolaknya dengan alasan kalau giginya akan rusak, ompong dan berlubang. Mendengar ucapan ibunya, bukannya takut, tapi anak tersebut malah merengek dan menangis sejadi-jadinya.


Disebelah ibu dan anak itu, orang berhoodie dengan tubuh pendek merasa terganggu. Dia sangat kurus, pendek, dan matanya pun merah seperti orang yang tak pernah tidur dan selalu menghabiskan waktunya untuk bermain game.


Dia akhirnya pergi kearah lain, dan mengambil salah satu gunting yang dijual, kemudian kembali ketempat ibu dan anak tadi. Dia juga mengambil banyak roti.


Dia secara tiba-tiba melempar salah satu roti pada anak kecil yang menangis.


Tak hanya roti, tapi segala produk yang ada didekatnya dilempar tanpa ampun kearah anak kecil itu.


Anak kecil itu menangis dengan keras. Ibunya terkejut dan melindungi putrinya.


Orang itu terus melempar berbagai barang. Para pekerja tersebut mencoba menghentikannya, tapi mereka segara terluka.


Alex dan Norga melihat keributan itu dan mencoba untuk menenangkan orang itu.


"Hei hei hei, kenapa kau melakukan ini?" Alex mencoba bertanya pada orang gila itu.


Orang gila itu berhenti melempar sebentar, dia kemudian berkata,


"Tangisan anak itu membuat kepalaku sakit, jadi aku ingin membuatnya diam untuk selamanya," jawabnya tanpa emosi dan tanpa rasa bersalah.


"Apa!?" Alex terkejut dengan alasan konyol itu.


"Dasar orang gila!" Tambah Alex.


"Memangnya kenapa? kalian tak akan bisa menghentikan aku! Aku seorang adalah Special, sialan!"


Alex dan Norga terkejut, mereka berpikir kalau mereka bisa menghentikannya berdua, tapi nyali mereka ciut ketika tahu kalau dia Special.


Tentu saja masih ada harapan, seorang pemuda yang datang bersama pacarnya maju dengan percaya diri.


"Kau seorang Special, huh? Mari kita lihat kau berbohong atau tidak."


Pemuda tersebut mengepalkan tangannya dan meninju perut si orang gila. Tapi tinjunya tertahan, ternyata memang benar kalau si orang gila itu Special.


"Wow, kau beneran Special rupanya, kau hebat juga bisa me-"


Karena si pemuda pemberani terlalu banyak bicara, si orang gila merasa kesal dan melayangkan tinjunya. Si pemuda terlalu sombong sehingga dia punya banyak celah sehingga tinjunya berhasil dilayangkan ke pipinya. Orang gila itu tak berhenti, dia terus meninju si pemuda, hingga wajahnya bonyok.


Untuk serangan akhir, orang gila itu menendang perut si pemuda dan membuatnya terlempar ke arah pacarnya dan tergeletak dilantai.


Pacarnya yang tadi menyemangati si pemuda langsung ketakutan. Si orang gila kemudian berjalan kearah sang ibu dan anak sambil mengeluarkan sebuah gunting yang tadi ia ambil.


Semua orang disitu takut dengan si orang gila, orang-orang tidak bisa bergerak karena terlalu takut, sang ibu pun memohon ampun, tapi orang gila itu tidak mendengarkan.


Yah, semuanya disitu memang takut pada orang gila itu, kecuali satu orang.


"Hahahahahahahahaha!"


Satu orang dengan hoodie tertawa terbahak-bahak. Dia merasa bahwa si pemuda dan orang gila sangatlah konyol.


Semua orang disitu bingung, termasuk si orang gila. Si orang gila itu langsung bertanya pada orang tersebut.


"Mengapa kau tertawa? Apa yang lucu?"


"Mengapa aku tertawa? Itu karena kau dan pemuda itu. Pertarungan amatir kalian benar-benar hiburan yang lucu!"


Orang itu lanjut tertawa terbahak-bahak sebelum kemudian berbicara lebih banyak.


"Tidak hanya itu, alasanmu sangatlah lucu. Aku yakin kau hanya pengecut sebelum kau menjadi Special, dan kau hari ini beruntung karena menjadi Special dan karena itu kau langsung bertindak seenaknya."


"Kau merasa kau itu punya kekuatan yang hebat dan merasa kalau hidupmu berubah 180 derajat tadi. Kau merasa kalau kau menjadi seorang Special, tidak akan ada orang yang berani menentang dirimu."


"Kenyataannya, dirimu hanya seorang badut. Kau adalah badut yang sok, cocok untuk menjadi hiburan orang-orang."


Orang itu berhenti bicara. Membuat keheningan kembali datang, tapi tentu saja keheningan itu tak bertahan lama, si orang gila mulai marah, nafasnya tak beraturan dan jantungnya berdegup kencang.


"Kau... kau sialan! Kau hanyalah tokoh figuran! Jangan main-main denganku!"


Kata-kata si orang gila mengejutkan orang berhoodie. Orang berhoodie kemudian berkata.


"Kau benar-benar sudah tak bisa tertolong."


Orang berhoodie memegang bungkusan es krim ditangannya, dia kemudian membukanya dan memakannya dengan cepat serta membuang stik es krimnya sebelum kemudian menginjaknya hingga hancur.


Tanpa ragu-ragu, si orang gila maju dengan gunting ditangannya, dia memegang pisaunya erat-erat dan mencoba untuk menerkam orang tersebut.


Tapi secara mengejutkan, orang tersebut menyentil gunting itu dan langsung patah.


Si orang gila terkejut tidak main, termasuk juga orang yang ada disana.


Mulut Alex dan Norga terbuka lebar tanpa takut kalau akan ada lalat yang masuk ke mulut mereka.


Norga menyadari sesuatu, dia merasa kalau dia pernah bertemu dengan orang itu. Dan jika diingat-ingat lagi, tinggi dan jaket orang itu mirip dengan orang yang pernah membantunya. Alex juga menyadari hal tersebut.


"Apa-apaan itu, kau sangatlah lemah!"


Orang itu menarik jaket si orang gila dan menyundul kepalanya ke wajah orang itu. Wajah jelek si orang gila menjadi lebih jelek lagi, hidungnya penyok dan gigi-giginya rontok. Si orang gila seketika pingsan.


Meski pingsan, orang berhoodie tak berhenti. Dia melemparkannya keluar supermarket, membuat jendela super market pecah dan dan orang gila itu terlempar hingga menabrak toko didepan supermarket.


Semua orang di supermarket merasa kagum dan kaget. Termasuk Alex dan Norga.


Sedangkan orang berhoodie berjalan ke kasir. Mbak kasir yang ikut terkagum langsung kaget.


Orang itu mengeluarkan uang dengan jumlah banyak, yaitu 20 juta rupiah.


"Ini untuk es krim, produk yang lain, dan perbaikan jendela."


"Ta-tapi ini terlalu banyak."


"Tidak apa-apa, terima saja."


Dan orang itu pergi dengan keren.


Alex dan Norga saling tatap, dan mereka berdua menyusul orang itu.


"Hei!" teriak Alex.


Orang itu langsung berhenti, dia menoleh kebelakang.


Alex dan Norga langsung mengenali wajah itu, wajah yang menolong Norga dan memperingatkan Alex.


"Ah ternyata benar, itu kau!"


"Oh, kalian yang ada di warung soto Pak Budi? Kita bertemu lagi ya."


Orang itu menyapa Alex dan Norga dengan sangat ramah.


"Kau sangat keren, kak!"


"Biasa saja, aku ikut campur karena orang itu menyebalkan," katanya sambil menunjuk orang gila yang ia lempar.


"Tapi tetap saja, tindakanmu seperti novel yang kubaca!" Kata Norga.


"Oh benarkah?"


"Benar, kalian benar-benar mirip! Keren dan pemberani."


"Hahaha, aku jadi malu."


Orang itu menggaruk rambutnya yang tertutup hoodie, kemudian dia menatap keduanya dan berkata.


"...kalian kurang beruntung ya."


"...apa maksudmu?"


"Kalian tidak terpilih menjadi Special."


Seketika Alex dan Norga yang tadi ceria menjadi murung dan tertunduk. Orang itu jadi merasa bersalah.


"Kalian tidak usah bersedih, errr..., mau makan burger."


Mereka yang murung langsung bersemangat lagi, dan mereka pergi ke Mekdi yang jaraknya jauh dari supermarket.


Mereka akhirnya membeli masing-masing satu burger dan satu soda.


Mereka duduk di dekat jendela dan segera berbincang.


"Ngomong-ngomong, kita belum pernah berkenalan ya? Namaku Alan Lexius."


"Aku Alex Dwisatya."


"Aku Norga Garrison."


"Senang bertemu dengan kalian berdua," ucap Alan yang kemudian melahap burgernya.


"Bagaimana perasaan kalian ketika tidak terpilih?"


"Sedih dan rasanya ingin mati saja."


"Aku juga sedih, tapi tidak sampai ingin mati."


"Hahaha, kau sebegitunya ingin jadi Special ya."


"Yaaaa, masalahnya aku-"


Alex kemudian menceritakan tentang taruhannya, begitu pula dengan Norga. Setelah itu, Alan tertawa terbahak-bahak.


"Hahahahahahaha!"


Alex dan Norga menjadi malu dan makan dengan lambat.


"Jadi, kalian menerimanya dan sekarang kalian kalah tantangan."


"Aku tidak tahu aku kalah taruhan atau tidak, tapi yang pasti kak Alex kalah taruhan."


"Hmmmm, kalian sangat tidak beruntung."


"Kalau kakak sendiri, bagaimana rasanya menjadi Special?"


"Rasanya, luar biasa! Aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Bergelantungan di antara gedung-gedung, menciptakan potion berkualitas tinggi dan menjadi kaya, dan berbuat onar semauku."


Mendengar pernyataan Alan, mereka berdua terkejut dan mulut mereka terbuka lebar, bahkan Norga yang ingin makan burgernya malah menjatuhkan burgernya, untung saja burgernya jatuh diatas meja.


"Tapi, tidak terlalu menyenangkan juga, karena kau akan bertemu banyak orang yang benar-benar membuatmu kesal dan ingin meninju wajahnya."


Alex dan Norga terkejut lagi, tapi tidak sampai menjatuhkan burgernya.


Alan menatap mereka dengan tatapan tajam dan serius.


"Kalian mengingatkanku pada diriku sebelum menjadi Special."


Alan mempercepat makannya dan minumnya. Kemudian dia berbicara dengan nada yang sangat serius.


"Apa yang akan kalian berdua lakukan jika kalian bisa pergi Special secara langsung, tapi kalian harus mempertaruhkan nyawa kalian? Kalian akan langsung pergi ketempat itu dan mempertaruhkan nyawa atau kalian akan pasrah pada keberuntungan?"


Alex dan Norga lagi-lagi terkejut. Ada tempat seperti itu didunia ini?


Mereka tak perlu berpikir panjang untuk menjawabnya, tekad mereka sudah sangat besar untuk menjadi Slayers yang hebat.


Alex dan Norga saling pandang dan menjawab bersamaan dengan tegas dan lantang.


""Kami akan mempertaruhkan nyawa kami!""


Alan menatap mereka dengan tatapan kagum, tekad mereka yang besar benar-benar mengingatkannya pada dirinya sebelum menjadi Special. Dia tersenyum lebar dan berkata,


"Dengar, kalian sekarang pulanglah kerumah kalian masing-masing, kemudian besok, kita bertemu di taman duri indah. Kalian tahu tempatnya kan?"


Alex dan Norga bersama-sama menjawab "Ya."


"Nah, besok kita bertemu disana jam 12 siang. Jangan terlambat ya!"


"Eh tunggu, bagaimana dengan sekolah?" Tanya Alex meski dia tahu apa jawabannya.


"Tentu saja bolos, 1 hari saja tak papa kan?"


"Tentu, tapi jika pihak sekolah menelepon orangtuaku dan pamannya, kaki harus bagaimana?"


Alan terdiam, dia kemudian berpikir sejenak dan berkata.


"Bagaimana jika kalian tinggal dirumahku?"


Alex dan Norga dibuat terkejut lagi, ini sudah ke empat kalinya.


"Menginap dirumah kakak? Kalau orang tuaku mencariku bagaimana?"


"Dan kalau pamanku juga mencariku bagaimana? Dia orang yang galak loh."


"Tenang saja, akan kuurus itu. Kalian tinggal menjawab setuju atau tidak."


Alex dan Norga yang tadinya bersemangat dan penuh tekad, sekarang dibuat bingung dan pusing. Mereka juga bertanya-tanya, apakah kakak ini bisa dipercaya atau tidak. Tapi melihat kalau Alan serius, mereka akhirnya menerima tawaran Alan.


Alex dan Norga tidak tahu, kalau hidup mereka benar-benar akan dipertaruhkan besok.