The Slayers

The Slayers
Chapter 80 (Season 2)



Di rumah yang sepi, gelap dan tanpa cahaya sedikitpun. Tapi cahaya akhirnya bisa masuk karena sang pemilik rumah sudah membuka pintu.


"Nah, selamat datang dirumahku."


""Woah!""


Alex dan Norga seketika terkagum-kagum melihat isi rumahnya. Tapi mereka langsung diam, itu membuat Alan bingung dengan mereka.


"Kenapa? Apa rumahku kurang keren?"


Norga segera menjawab "Tidak, hanya saja rumah kakak kurang terlihat dengan jelas, disini terlalu gelap!"


Alan terkejut dan baru menyadari setelah sekian lama. Dia tidak masalah jika dia tidak menyalakan lampu, karena matanya sendiri punya fungsi lain seperti night vision. Karena itu dia sangat jarang menyalakan lampu dan dia menutup kaca serta tirai. Karena itu, tak ada cahaya yang masuk.


Alan menyalakan lampu, seketika seisi rumah terlihat dengan jelas. Alex dan Norga lanjut terkagum dengan rumah Alan.


Rumahnya benar-benar bagus. Perabotannya benar-benar dirawat dengan baik dan tanpa debu sedikitpun. Dapurnya bersih, rapi, dan bersinar.


Ruang tamu hanya ada sofa, meja, dan tv. Dibagian dapur, ada meja makan dan berbagai alat masak dan tempat cuci piring. Ada 2 toilet, 1 tempat tidur di lantai 2, dan satu lagi...


"Itu ruang apa kak?" Tanya Norga penasaran, dia menunjuk pintu besi dibagian paling belakang yang ditempel tanda 'Warning' dan 'Danger'.


"Itu... hanya ruangan pribadi. Jangan masuk kesana, disitu banyak bahan peledak dan beracun yang berbahaya."


Alex dan Norga langsung merasa ngeri, mendengar kalau ada bahan peledak dan racun, rasa penasaran mereka langsung digantikan dengan rasa takut.


"Sudahlah, kalian hanya boleh masuk kesana jika dapat izinku. Sekarang, mari ke kamar ku."


Alan, Alex, dan Norga menaiki tangga menuju lantai dua. Di lantai dua, hanya ada lorong pendek dan sempit, serta satu kamar dibagian kiri.


Alan membuka pintu kamar, diikuti oleh Alex dan Norga. Mata mereka langsung melebar dan mereka langsung terkagum-kagum.


"Luar biasa!"


"Keren!"


Mereka terus memuji kamar Alan yang sangat luas dan penuh poster game, action figure, kaset game, novel, komputer, dan berbagai konsol. Tak hanya itu, ada sofa yang nyaman, meja yang lumayan panjang, dan tempat tidur yang besar.


"Woah, inilah kamar impianku!" Kata Alex.


"Ini kamar impianku juga!" Ikut Norga.


"Yah, kalian akan tinggal disini beberapa hari, anggaplah seperti rumah sendiri."


Alex dan Norga senang mendengarnya, tapi Alex segera bertanya.


"Bagaimana dengan pakaian kami?"


"Aku punya banyak pakaian, kalian bisa pinjam."


""Yes!""


**Saat jam Sembilan malam.


"Hiyahhh!"


"Percuma kau teriak, kau tak akan bisa mengalahkanku."


[K.O!]


"Ahhhh! Kalah lagi!


"Sudah kubilang, kalian tidak bisa menang."


Setelah mandi, Alex dan Norga ingin mencoba bermain game punya Alan. Mereka bermain game fighting, dan keduanya kalah telak.


"Bagaimana kakak bisa sehebat ini?"


"...ini hasil dari masa-masa nolepku."


"Woah, pantas saja kamarnya kakak seperti ini," ucap Norga.


Alex dan Norga lanjut melawan Alan. Tiba-tiba, dalam pikiran Alex terlintas satu pertanyaan.


"Kakak tinggal sendiri saja?"


"Yep."


"Dimana orang tua kakak?"


"...mereka sudah meninggal."


Ruangan menjadi sunyi, Norga yang sekarang melawan Alan tidak menggerakan karakternya, tetapi Alan masih lanjut menyerangnya hingga kalah.


"Kenapa kau tidak bergerak."


"....maaf, kak." Mereka berdua jadi tidak enak, terutama Alex yang bertanya.


"Tidak apa, aku baik-baik saja," kata Alan sambil tersenyum.


"Kalau paman dan bibi kakak?" Giliran Norga yang bertanya.


"...paman dan bibi juga sudah meninggal."


"Ah, ma-"


"Tidak apa, jangan merasa tidak enak."


"...kakak tidak kesepian?" Norga lanjut bertanya


"Tentu aku kesepian, aku masih punya sepupu, tapi dia kerja di London. Aku tak ingin merepotkannya, dia masih punya pekerjaan dan harus cari pacar, kemudian menikah dan memiliki anak."


"Dan juga aku masih punya teman bermain."


"Teman bermain?" Tanya Alex penasaran.


"Yep, kalau aku bosan bermain sendiri, aku akan datang ketempatnya, berbincang-bincang, membelikannya makanan, bermain game, atau membicarakan bisnis."


""Oooh.""


"Teman kakak cowok atau cewek?"


"Cewek."


Mereka berdua terkejut, Alex yang sekarang melawan Alan juga berhenti menggerakkan karakternya dan kalah. Alan pun langsung heran dengan kedua orang ini.


"Kalian kenapa lagi?"


"Tentu bukan, dia hanya teman, untuk sekarang."


Alex dan Norga kecewa. Tapi ada kata 'Untuk sekarang."


"'untuk sekarang? Kakak akan menembaknya suatu hari nanti?"


"Mungkin, siapa tahu? Dia itu tipeku, siapa tahu aku akan bersama dengannya dimasa depan. Saat ini aku belum ingin pacaran."


"Woah, semoga diterima kak!"


"Iya, pasti dia ingin bersama dengan cowok keren seperti kakak!"


"Heh, dia berumur 25 tahun, lebih tua dariku. Siapa tahu tipenya bukan cowok yang lebih muda darinya."


"Oooh."


Mereka lanjut bermain game hingga jam 11 malam. Mereka tidak mendapat kemenangan sama sekali.


"Sudah jam 11 ya?"


"Woah, tak berasa sudah jam 11 malam."


"Baiklah, mari tidur. Kalian berdua tidur di kasur, aku akan tidur di sofa."


""Apa!""


"Kenapa?, kalian mau sempit-sempitan di sofa?"


"Tidak, tapi seharusnya pemilik rumah tidur ditempat paling nyaman!" Ucap Alex. Norga juga setuju, dia mengangguk dengan kuat.


"Dua-duanya nyaman kok. Lagipula, aku lebih sering tidur di sofa dibanding tidur di kasur."


"Tidak apa-apa nih?"


"Tidak apa-apa."


Mereka akhirnya tidur di kasur yang lebar dan nyaman. Alan tidur di sofa yang empuk dan nyaman juga.


Alan mematikan lampu kamar dan tidur di sofa.


"...Kak Alan," panggil Alex.


"Ya?"


"Aku penasaran akan satu hal."


"Tanyakan saja."


"Kapan kakak menjadi Special?"


"...kapan ya? Mungkin tahun lalu."


"Tahun lalu? Kakak terpilih menjadi Special tahun lalu?"


"Ya dan tidak."


"Maksudnya?" Norga yang daritadi diam ikut bertanya.


"Bagaimana ya menjawabnya? Aku menjadi Special dengan cara yang sama sekali anti-mainstream."


""Maksudnya?""


"Errr, jadi begini, aku akan bercerita tentang hidupku secara singkat."


Alex dan Norga langsung menajamkan telinga mereka, mereka tidak ketinggalan satu detail pun.


"Jadi, tahun kemarin aku tidak terpilih menjadi Special. Aku sangat kecewa dan serasa tak ingin hidup waktu itu, tapi paman dan bibiku masih menyemangatiku. Aku pun jadi semangat, tapi dua hari setelahnya, aku ditelepon oleh pihak rumah sakit, berkata bahwa mereka meninggal dalam kecelakaan."


"Aku merasa sangat putus asa. Tapi aku tetap melanjutkan hidup dengan tabungan paman dan bibi yang diwariskan kepadaku. Kemudian, satu bulan setelahnya, saat dimana aku tidak sengaja masuk ke 'dunia itu'. Dunia berisi monster menyebalkan, terutama monyet berotot yang mempunyai kecerdasan layaknya manusia dan kekuatan luar biasa."


"Monyet?" Tanya Norga.


"Ya, benar."


"Berotot?" Tambah Alex.


"Yep."


Alex dan Norga membayangkan wujud mahluk yang ditunjukkan oleh Alan. Monyet yang kekar dan berotot, mereka langsung jijik.


"Salah satu dari mereka menangkap ku, tapi aku beruntung karena berhasil selamat dan membunuh monyet yang menangkap ku. Di tempat itu, tubuh dan mental ku ditempa hingga kuat, pikiran ku pun menjadi tidak benar dan kadang-kadang aku tidak waras."


"Tempat seperti apa itu kak?"


"Tempat seperti hutan biasa."


Norga yang bertanya langsung kecewa. Kemudian Alex yang bertanya.


"Bagaimana kakak bisa keluar dari 'dunia itu'?"


"Aku ditantang oleh pemimpin mereka, jika aku menang, aku bisa keluar dari sana. Jika kalah, maka aku akan dibunuh dan dijadikan persembahan."


""Hah!?"" Mereka berdua sangat terkejut. Bahkan mereka berdua yang terbaring langsung duduk.


"Yah, memang aneh. Tapi untungnya aku mendapat keberuntungan dan berhasil keluar dari sana."


""Woah!""


"Sudahlah, tidur saja kalian."


"Tunggu kak, satu pertanyaan lagi."


"Apa itu, Alex?"


"Tentang Cindy, kenapa bisa muncul mata di bagian tubuhnya?"


"Oh, kalau itu, ada mahluk ditubuhnya."


"Hah!? Bagaimana bisa!?"


"Mana aku tahu? Makanya kau jangan sering-sering menatapnya. Mahluk didalam tubuhnya merupakan entitas yang berbahaya, jadi berhati-hatilah."


Alex menelan ludahnya mendengar itu.


Dengan pertanyaan dari Alex tentang bunga cintanya, percakapan mereka berakhir dan mereka tidur dengan nyenyak, hari esok yang suram menunggu Alex dan Norga!