The Slayers

The Slayers
Chapter 130 (Season 3)



"Hmmm, jadi, siapa yang mau menaruh penjaganya pada tantangan terakhir?"


Kali ini, entitas yang mengawasi Alan sedang berdiskusi. Siapa yang akan berhak untuk menaruh jawaranya pada tantangan terakhir. Siluet wanita langsung mengajukan dirinya.


"Aku bersedia."


Yang lain saling melakukan kontak mata. Kemudian mereka menunjukan ketidaksetujuan mereka.


"Diantara semuanya, jawara mu bisa diatasi dengan mudah olehnya, jadi jangan kau!"


"Aku setuju."


"Biarkan aku saja, jawaraku sedang haus akan pertarungan!"


"Kalau itu aku tidak setuju."


"Apa!?"


Siluet kambing dengan siluet berapi yang awalnya memiliki opini yang sama, sekarang kembali bentrok.


"Hei.... Kurasa kita tidak perlu memperdebatkannya.... Jawaranya sudah ditentukan...."


Keduanya pun terkejut, ternyata benar, jawaranya sudah tiba. Ketika mereka melihat jawara yang dikirim, mereka tidak protes dan malah antusias memperhatikan pertarungan.


Semua itu karena jawara yang dikirim bukan jawara biasa. Jawara yang dikirim adalah bawahan dari siluet berkerudung. Kali ini, meski wajahnya tertutup oleh bayangan, dari matanya yang menajam, semua yang disitu tahu kalau Dia sedang antusias.


***


Diarea yang dipenuhi dengan salju dan badai, Alan sedang kebingung, karena musuhnya agak telat datang. Setelah datang, malah bentuknya seperti gumpalan cairan berwarna hitam.


'Apa kali ini? Slime? Serius?'


Slime yang menjadi tantangan terakhir, membuat Alan ingin tertawa kencang. Tapi segera mengubur pikiran itu. Didalam menara, para monster bisa menjadi sangat berbahaya dengan banyak variasi.


Alan merasa lebih percaya diri. Great axe yang dia dapatkan mempunyai kekuatan angin yang dahsyat meski memerlukan banyak mana.


Ketika Alan mulai menyiapkan kuda-kudanya. Cairan hitam yang menggumpal menjadi semakin besar. Alan tentu waspada akan hal itu.


"Hmm?" Alan memperhatikan keanehan pada gumpalan cairan hitam. Semakin besar dan besar, tetapi tidak mendekatinya. Dari sana, mulai keluar sebuah bilah tajam yang semakin lama semakin terlihat. Alan juga merasakan hawa kehadiran yang membuatnya tertekan.


Hawa yang menekan itu terjadi karena satu sosok yang keluar dari gumpalan hitam yang mendadak menghilang. Satu sosok itu memakai baju zirah emas yang sudah berkarat dan dipenuhi dengan darah. Sosok itu hanya punya satu tangan kiri yang menggenggam pedang besar berwarna emas, satu sayap kanan berwarna hitam, dan dari zirah bagian mulut yang sudah rusak, keluar sebuah tentakel. Ini adalah penggambaran dari kesatria rusak.


"Pemilik menara ingin mengujiku sampai mana sih?" Protes Alan. Memang Alan suka hal yang menantang. Tapi musuhnya kali ini membuatnya sangat tidak yakin bisa menang.


Namun, Alan sudah punya great axe dengan elemen angin. Dengan mengaliri mana pada great axe, Alan melesat kencang, mengincar leher kesatria rusak.


Tapi nampaknya Alan terlalu meremehkan kesatria rusak. Alan hendak memenggal kepala sang kesatria, tapi serangannya mendadak ditangkis.


Dengan pedang sebesar itu, Alan terkejut kesatria rusak bisa menangkis serangannya, bahkan Alan tidak melihat sang kesatria mengayunkan pedangnya.


Clank! Clank! Clank!


Suara besi yang beradu terus menerus terjadi. Alan tidak mampu melayangkan satupun serangan. Sedangkan kesatria rusak hanya menangkis setiap serangan Alan tanpa banyak usaha. Alan akhirnya mencoba untuk menyerang dari Arah lain. Dengan kecepatan dari angin, dia pindah kebelakang kesatria dan mencoba untuk memenggal kepala sang kesatria.


Clank!


Alan tidak tau apa yang terjadi, suara benturan terjadi begitu saja dan membuatnya terdorong beberapa meter. Alan kesal sebab kesatria otu tidak bergerak, tapi seperti ada yang menghalangi serangannya.


Kali ini, dia menyalurkan lebih banyak mana yang menyebabkan angin berkumpul disekelilingnya, membentuk sebuah topan ganas. Topan itu menghilang dan berkumpul disekitar bilah great axe.


Alan mengayunkan great axe nya dan bilah angin yang tajam dan cepat melesat kearah sang kesatria.


Saat itu, untuk pertama kalinya, kesatria rusak bergerak. Dia berjalan dengan mengayunkan pedangnya. Semakin lama, kesatria itu berlari dengan gerakan absurd. Alan terkejut dan melindungi diri dari tabrakan maut sang kesatria.


Alan langsung terpental jauh kelangit. Tapi, berkat kesatria rusak yang baik hati, Alan dijatuhkan kebawah tanah dengan segera. Alan sempat menahan serangan dari kesatria itu. Tapi sekali tahan, kedua tangan Alan terasa kebas.


Tangan Alan terasa tidak kuat lagi untuk memegang great axenya. Tapi mau tidak mau, dia harus tetap bertahan. Alan tinggal mengalahkan kesatria satu ini untuk membebaskan orang-orang yang terjebak didalam menara.


Namun, kesatria satu ini tidak serius sama sekali. Alan seakan-akan bukan lawan yang berarti dimatanya. Baginya, Alan hanya semut yang menyebalkan dan lemah.


Alan, yang tidak suka dipandang rendah, bisa melihat melalui kata merah dari sang kesatria. Alan kemudian sedikit merenung. Selama ini, si kesatria rusak tidak bergerak sedikit pun. Saat dia menggunakan serangan angin, dia baru bergerak dengan gerakan aneh seperti orang pincang. Alan jadi punya suatu ide.


Kali ini, Alan tidak menggunakan dua tangan, tapi satu. Dia saat tantangan sering memakai kedua tangannya. Tapi kali ini, hanya satu tangan, dan satu tangannya tentu tidak menganggur.


Memenuhi kakinya dengan energi angin, Alan melesat kearah sang kesatria sambil mengayunkan great axe secara liar. Kesatria rusak juga ikut menerjang dengan pedang besar yang menangkis berbagai serangan Alan.


Saat jarak keduanya cukup untuk beradu. Alan menghilang dari pandangan kesatria. Alan muncul dari belakang kesatria dan tangan kirinya memegang sayap milik kesatria. Alan menebas sayap itu dengan kapaknya dan zirah bagian belakang tercipta retakan.


"Berhasil!"


Alan menjadi senang karena rencananya berhasil. Tapi itu hanya sementara, karena dia merasakan hawa tidak sedap.


"Why do i hear boss music?"


Kesatria rusak itu, terlihat akan mengamuk. Hawa berwarna hitam muncrat dari tubuhnya dan berteriak kencang. Tanpa Alan sadari, Alan sudah membuat kesatria itu menjadi lebih buruk.


Kesatria itu berbalik dan menatap Alan. Sambil menyiapkan ancang-ancang, kesatria itu menghunuskan pedangnya kearah Alan dengan maksud ingin memenggal kepala Alan. Alan sudah bersiap untuk hal itu.


Whoosh!


Pergerakan kesatria itu sangat cepat, namun tidak secepat Lizardman. Alan masih bisa memprediksi mana arah serangannya.


Ctank!


Sayangnya, Alan terlalu menganggap remeh. Great axe Alan mental karena serangan dari sang kesatria, membuat Alan terkejut. Kecepatannya memang melambat, tapi kekuatannya bertambah dua kali lipat.


Kesatria itu berniat untuk menebas lagi. Namun, Alan sempat menghindar. Alan segera bergerak seperti binatang buas untuk mengambil great axe nya.


Baru sempat mengambil great axenya. Akan sudah melihat kesatria rusak diatasnya. Alan tentu segera maju untuk ikut menyerang. Dengan kecepatan dari angin, Alan berhasil menebas perut sang kesatria. Itu tentu membuat Alan senang.


"...huh?" Selama sedetik, Alan baru sadar, kalau kesatria rusak juga berhasil memotong anggota tubuhnya.


Segera, Alan berhasil mendarat ditanah. Kesatria rusak mengambil kesempatan itu untuk menyerang Alan dengan bilah kegelapan.


Alan dengan cepat berguling-guling ditanah penuh salju. Insting menyelamatkan nyawanya sendiri. Tetapi saja, kaki kirinya tidak selamat.


"Tsk, yang benar saja!?" Alan tidak punya harapan lagi untuk melawan kesatria rusak. Kesatria perak masih bisa bergerak dengan lincah, bahkan setelah bagian tubuhnya terlepas. Sedangkan Alan hanya punya satu kaki dan satu tangan sekarang.


Moment kali ini menjadi penentuan. Yang pertama kali melayangkan serangan akan menang. Dengan keduanya yang tidak punya anggota tubuh lengkap, satu serangan sudah cukup untuk saling menghilangkan nyawa masing-masing.


Kesatria rusak itu, dengan segenap kekuatannya sekarang, memusatkan aura hitam pada pedangnya. Sedangkan Alan, memutar-mutar great axe nya sehingga badai salju yang ada berkumpul disekitarnya.


Keduanya melesat secara bersamaan, berteriak bersamaan, mengayunkan senjata secara bersamaan, beradu secara bersamaan, dan.....


Alan dengan sedikit memiringkan badannya dan dengan dorongan angin, berhasil memenggal kepala sang ksatria. Disaat yang bersamaan, kesatria rusak juga menebas bagian perut Alan hingga terpotong jadi dua.


Keduanya pun terjatuh tengkurap ditanah penuh salju. Kesatria rusak sudah tidak bernyawa lagi. Sedangkan Alan, dia sudah sekarat.


"A-aku.... Menang?" Dia tampak senang, sebelum akhirnya dia menutup mata.