
Job dari para murid disini lebih unik dari bayanganku. Apalagi cewek yang satu ini. Dengan penampilan yang suram itu tak kusangka kalau dia orang yang tidak terduga. Namanya Ratna Antika, seorang [Tailor of the sea]. Dari deskripsinya, bisa dibilang, dia penjahit khusus untuk pakaian laut.
Tapi, dia tipe yang tidak kooperatif dan tipe yang tidak peduli dengan hasil. Semoga, yang sebelahnya bisa kooperatif. Tapi, kenapa dia bersembunyi?
"Yang terakhir, kau bagaimana?"
Aku bertanya pada kursi yang kosong. Tentu, aku dikira gila oleh murid-murid yang lain. Norga pun bingung dengan tindakanku. Tidak ada respon dari pertanyaanku. Dia masih berpura-pura untuk tidak ada, huh?
Dengan kecepatan tangan yang tinggi layaknya pesulap, aku mengeluarkan satu botol berisi bubuk cahaya. Aku menuangkan bubuk itu sedikit pada telapak tanganku dan meniupnya. Teman-temanku tidak mengetahui apa yang kulakukan sampai mereka mendengar suara bersin yang imut.
Yang lain langsung beranjak dari kursi karena kaget. Suara bersin itu terus terdengar hingga akhirnya dari kursi kosong itu, mendadak muncul seorang perempuan.
Semua yang dimeja itu kaget. Mereka kira aku gila, tapi tidak sama sekali. Mereka hanya tidak bisa melihat perempuan ini. Perempuan ini akhirnya selesai bersin dan melihat sekeliling dengan tatapan bingung.
"Halo? Apakah kau punya saran?" Aku melambai-lambaikan tangan didepan wajahnya.
Perempuan itu kemudian menatapku dengan tajam serta waspada dan berkata, "Bagaimana kau bisa melihatku?"
"Tidak usah pedulikan itu, itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?"
"Entahlah, buat robot?"
"...kau serius?"
"Tentu saja!"
Saat kuperiksa apa jobnya, ternyata dia bernama Agnes Aryani dan jobnya adalah [Mechanic]. Kelihatannya, dia tadi memakai sebuah alat untuk menghilangkan dirinya. Bahkan saat ini, dia mengecek jamnya. Dia menghilang dan kembali terlihat. Rupanya dari jam itu.
"Haah... dengan ini, kita belum tau mau membuat apa."
Ini gawat, sebab tim lain memiliki sinergi yang lebih dari tim kami. Mereka sudah tau apa yang akan mereka buat dan bagaimana rancangannya. Sedangkan tim ini, dekat saja tidak.
Masing-masing dari mereka individualis. Mereka tidak dekat ataupun kenal. Mereka pun tidak serius sama sekali dan punya ide yang berbeda-beda.
"Bagaimana ini, Kak? Apakah kau punya ide?"
"Tidak ada ... eh, tunggu sebentar."
Aku secara mendadak mendapat sebuah ide yang menurutku brilian. Semoga saja mereka setuju. Untuk memulai langkah pertama, aku mengambil sebuah kertas kosong dan pena dari tas. Aku kemudian hendak untuk menggambar, tapi aku baru ingat sesuatu.
Aku segera menghadap ke teman-teman yang lain dan bertanya, "ada yang bisa menggambar? Atau mungkin yang percaya diri dengan kemampuan menggambarnya?"
Awalnya tidak ada yang mengangkat tangan, tapi untung saja Reyna segera mengangkat tangan. Dia seorang Fashion Designer sih. Sudah pasti kemampuan gambarnya baik.
"Apa yang mau kau gambar?" Reyna bertanya padaku. Langsung saja kujawab dengan antusias.
"Aku ingin membuat armor!".
"Tunggu, kenapa Armor?" Tanya Reyna seketika.
"Kenapa tidak membuat perhiasan saja? Perhia-"
"Diam kau, penggila manik-manik!"
"Beraninya kau menyuruhku diam!"
"Kau berisik sekali, maniak perhiasan..."
"Kau jangan ikut-ikutan, cewek freak!"
"Dibandingkan dengan dia, kau lebih freak lagi menurutku."
"Hah!? Kau tak punya kaca kah!?"
Semua orang berdebat dengan kencang. Tim-tim yang lain sangat terganggu, tapi mereka masih berusaha untuk fokus. Sedangkan Pak Batara sepertinya terganggu dengan pertengkaran ini. Sebelum semakin besar dan kita terkena poin minus, aku menggebrak meja dengan keras.
BRAK!
Sepertinya gebrakan ku terlalu keras hingga tim yang lain pun terkejut. Pak Batara pun langsung menegur kami.
"Hei hei, kalian yang disana. Kalau kalian ramai sekali lagi, bapak akan memberi kalian poin minus!"
"Maaf Pak! Kami akan berdiskusi lebih tenang!"
"Haah... Kalau begitu, lanjutkan diskusi kalian."
"Baik!"
Setelah selesai dengan Pak Batara, aku menatap teman-temanku dengan sangat tajam. Mereka terintimidasi langsung oleh tatapanku.
"Setidaknya sebelum rusuh, dengarkan pendapatku dulu! Kalian juga kekanak-kanakan sekali! Kau juga-"
Setelah meroasting mereka semua hingga puas. Aku kemudian menjelaskan pendapat ku pada mereka semua.
"Bagaimana? Setuju tidak?"
Anggota lain-lain mengangguk setuju, entah mereka memang setuju atau tidak. Sedangkan, Ratna tidak menunjukkan tanda setuju atau tidak setuju. Tapi, aku akan mengesampingkan dia.
"Baiklah, mari kita mulai membuat rancangannya."
Akhirnya, kami bekerja sama untuk mendesain armor ini. Kami berdiskusi hingga jam pelajaran selesai.