The Slayers

The Slayers
Chapter 168 (Season 4)



Perjalanan untuk sampai ke kota sangatlah canggung. Kedua kelompok itu membutuhkan waktu untuk mengakrabkan diri satu sama lain. Mereka asik sendiri dengan kegiatan mereka.


Alex dan Cindy yang duduk bersebelahan, selalu. Mereka berbincang-bincang mengenai kegiatan sekolah dan teman-teman mereka, Lyfa ada dipaha Cindy, dielus-elus dengan lembut. Twin star juga duduk bersebelahan bersama dengan Johan. Norga duduk sendiri, dia murung dengan alasan yang tak diketahui.


Sedangkan Alan, dia duduk di seberang Johan, membaca novel dengan tenang. Johan selalu bertanya-tanya, siapa sebenarnya Alan. Alan itu pintar, bisa dibilang lebih pintar dibanding Via. Tak lupa, dengan wajahnya itu, dia bisa menghipnotis para wanita untuk jatuh cinta padanya. Namun, dia bukan orang yang suka tebar pesona dan main cewek. Sepanjang waktu di Akademi, kalau tidak baca novel, makan, pasti dia akan berkumpul dengan Alex, Cindy dan Norga. Tak lupa, kadang dia juga bermeditasi.


Disisi lain, Alan juga sebenarnya penasaran dengan Johan. Sejak hari pertama saat mereka berjabat tangan, sesuatu yang tak terduga terjadi begitu saja. Johan bersikap seperti anak yang biasa saja, namun populer. Ramah, mempesona, kuat, dia bisa dianggap sebagai protagonis.


Kedua orang ini mengira kalau ini adalah kesempatan untuk mengulik misteri masing-masing. Namun tampaknya, itu mustahil.


Alan akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah pertama.


"Jika kau ingin bertanya tentang sesuatu, tanya saja." Alan yang merasa kalau diperhatikan terus oleh Johan menggunakan kesempatan ini untuk membuka topik.


Johan pun membeku sejenak selama beberapa detik. Setelah berpikir tentang pertanyaan apa yang terpikirkan olehnya, dia langsung berbicara.


"Kau suka novel itu, ya?"


"..."


"..."


Keadaan disitu menjadi sangat canggung. Alan kecewa dengan pertanyaan Johan yang ternyata merupakan hal sepele.


"...kau berpikir beberapa detik hanya untuk bertanya hal tak penting itu?"


"...maaf."


Menghela nafas, Alan membalas, "ya, aku memang menyukai novel ini. Kau sendiri, suka baca novel?"


"Ya, a-aku suka membaca novel ...."


"Novel bergenre apa?"


"Euhhhh, fantasy?"


Alan mengangguk. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan. Alan sangat kebingungan karena dia tidak tau apa yang bisa dibicarakan tentang Johan. Dia seperti anak biasa pada umumnya.


Tiba-tiba, Alan terpikirkan satu topik. Melihat kearah Grace dan Risse yang sedang tertidur.


"Kau sangat dekat dengan mereka, kalian kenal darimana?"


Johan melirik kedua adik angkatnya yang sedang tertidur pulas. Seketika Johan teringat pertemuan pertamanya dengan mereka berdua. Meski kurang baik, namun memori itu akan dia ingat terus.


"Kami bertemu saat masih dalam masa pelatihan. Awalnya, hubungan kami kurang baik, namun, aku tak menyangka ternyata hubungan kita menjadi sedekat ini layaknya saudara kandung ini."


"Kau sendiri, bagaimana?"


"Kebetulan, kita sama. Pertama kali, aku bertemu dengan Cindy yang merupakan anak dari penjual soto. Kemudian ada Alex dan Norga, yang mana pertemuan pertama kami agak sendiri aneh. Aku memutuskan untuk menjadikan mereka adik angkat. Untuk Cindy...."


Alan melihat kearah Alex dan Cindy yang masih asik berbincang sebelum berkata sambil berbisik, "aku menganggapnya seperti adik ipar."


Johan hampir tertawa terbahak-bahak, namun, dia berhasil menahannya meski mulutnya seperti bendungan yang bocor. Alan juga hanya bisa terkekeh. Alan dan Johan melanjutkan perbincangan mereka sebelum akhirnya mereka sampai didepan sebuah tempat makan.


Mereka semua turun dari mobil dan tepat didepan mereka adalah tempat makan yang ramai dengan orang-orang yang berteriak histeris.


"Damn, tempat ini sudah seperti neraka saja ya?" Alan berkata sambil terkekeh. Melihat hampir semua orang berwajah merah berteriak histeris, menangis, bahkan sampai kejang-kejang juga ada.


Johan dan yang lainnya menjadi ngeri melihat pemandangan ini. Nampaknya kentang goreng neraka bukan hanya isapan jempol belaka.


Mereka memasuki tempat makan tersebut dan memesan menu kentang goreng neraka. Mereka memesan dua porsi. Satu porsi berisi kentang goreng yang warnanya benar-benar merah.


"Kak, kau yakin?" Risse dengan khawatir bertanya pada Grace. Setelah melihat pemandangan yang ada, Grace juga aslinya tidak yakin. Namun, dia berhasil meyakinkan dirinya.


Sedangkan Alan, dia langsung makan saja tanpa melakukan persiapan apapun.


Alan memakan dua kentang goreng segara bersamaan. Ekspresinya tak berubah, dia tak merasakan apapun selain rasa enak.


Itu membuat sang penjual dan yang lainnya terkejut. Namun, mereka menganggap kalau itu masih dua kentang, kalau sudah banyak, pasti Alan akan kepedasan, setidaknya begitulah pemikiran mereka.


Berbanding terbalik dengan Alan, Grace memakan tiga kentang dan akhirnya malah hampir pingsan. Sementara itu, Alan masih menikmati makanannya yang menurutnya enak. Bahkan sampai memakan kentang goreng milik Grace.


"Uhhh, kenyang!!"


Akhirnya mereka semua meninggalkan tempat itu. Meninggalkan semua orang yang kebingungan. Disitulah, lahir seorang legenda dengan lidah anti pedas.


****


"Hoam...." Setelah memakan dua porsi kentang goreng, Alan menjadi ngantuk.


Mereka saat ini sedang berjalan-jalan ditaman. Mereka merasa jika pulang sekarang akan terlalu cepat, jadi mereka berkeliling ditaman sebentar.


"Hmm?"


Alan merasakan hawa membunuh dari berbagai area ditaman. Melirik Johan yang memiliki wajah waspada, dia berkata, "kau merasakannya juga, Johan?"


Johan hanya mengangguk dengan wajah serius. Yang lainnya hanya bermain-main ditaman dan menikmati pemandangan indah tanpa tahu, bahwa, mereka sudah dikepung.